{"id":2201,"date":"2013-09-25T15:53:27","date_gmt":"2013-09-25T08:53:27","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=2201"},"modified":"2013-09-25T15:56:28","modified_gmt":"2013-09-25T08:56:28","slug":"konservasi-jembatan-lama-sebagai-bukti-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/konservasi-jembatan-lama-sebagai-bukti-sejarah\/","title":{"rendered":"Konservasi Jembatan Lama Sebagai Bukti Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><b><i><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Jembatan-Lama-Tanjungpura.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-2202 alignleft\" alt=\"Jembatan-Lama-Tanjungpura\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Jembatan-Lama-Tanjungpura.jpg\" width=\"264\" height=\"175\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Jembatan-Lama-Tanjungpura.jpg 550w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Jembatan-Lama-Tanjungpura-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 264px) 100vw, 264px\" \/><\/a>\u201cJangan sekali-kali melupakan sejarah\u201d<\/i><\/b><\/p>\n<p>Begitu pesan bapak pendiri bangsa Indonesia, Ir Soekarno, yang juga seorang ahli rancang bangun (<i>architecture<\/i>) jembatan-jembatan masa lalu di Indonesia.<\/p>\n<p><b><i>\u201cOrang yang lupa dengan sejarah sama saja seperti orang gila\u201d.<\/i><\/b><\/p>\n<p>Demikian ungkap lain dari salah seorang Sulthan dari Khilafah Turki Utsmani yang agung. Sejarah membuktikan Khilafah Turki Utsmani adalah salah satu imperium yang terbesar yang \u00a0pernah ada. Beberapa referensi menyyatakan di Sarajevo, Bosnia atau di Istambul, Turki yang dahulu juga adalah ibu kota dari Khalifah Turki Utsmani masih banyak jembatan\u2013jembatan kuno yang masih dipelihara dengan baik. Jembatan tersebut dipelihara sebagai tidak hanya situs sejarah namun juga sebagai bukti bahwa orang\u2013orang terdahulu sudah memiliki kemampuan membangun jembatan dengan konstruksi yang kokoh yang tidak lapuk di makan jaman.<\/p>\n<p>Banyak Negara di Eropa atau Jepang di Asia, banyak ditemui jembatan\u2013jembatan lama yang masih berdiri. Jembatan\u2013jembatan tersebut masih banyak yang berfungsi sebagai jalan ataupun difungsikan sebagai tempat berjualan cendera mata dan kuliner. Di Indonesia jembatan Merah di kota Solo menjadi semakin terkenal setelah di buat sebagai sebuah judul lagu keroncong yang dikarang dan dinyanyikan oleh Gesang.<\/p>\n<p>Lalu bagaimana kondisi dinegara kita hanya sebagian kecil kota tetap menjaga jembatan kunonya seperti jembatan Merah di Solo, pada banyak kota di negara kita jika jembatan baru berdiri maka jembatan yang lama banyak yang dirubuhkan, tentu bersamaan juga akan \u00a0hilangnya sebagian sejarah di kota itu. Padahal banyak dari jembatan itu dibangun sejak masa kolonial belanda.<\/p>\n<p>Misalnya di kota Stabat, sekarang ibukota kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Jembatan lama yang berada di Sungai Wampu saat ini hanyalah tinggal pondasi saja. Pondasi yang tersisa tersebut sebenarnya masih memiliki pelajaran bagaimana kita dapat pelajari cara membuat pondasi jembatan yang kokoh yang tidak runtuh jika sungai meluap dengan arus yang deras dan kuat. Apalah lagi jika bangunan induknya masih ada seberapa besar lagi pelajaran dari sejarah yang bisa kita ambil.<\/p>\n<p>Kondisi jembatan kita pada jaman merdeka ini sangat rapuh konstruksinya dan kurang bernilai seni, banyak jembatan yang runtuh pasca banjir, ini mungkin terjadi karena kita tidak mau belajar dari bangunan jembatan yang kokoh dengan pondasi tidak rusak walau diterjang banjir bandang sekalipun pada masa yang lalu. Lalu bagaimana mungkin generasi muda kita bisa menjadikan jembatan yang kuat dan artistik warisan kolonial sebagai tempat studi banding jika jembatan kuno tersebut banyak yang dirubuhkan?<\/p>\n<p>Dibangunnya jembatan baru karena jembatan lama yang sudah tua tidak lagi mampu menampung volume kendaraan yang lewat di atas jembatan. Tetapi apakah alasan tersebut juga mengharuskan merubuhkan jembatan bersejarah yang ada sebelumnya? Jembatan tersebut bisa saja dijadikan untuk lalu lintas sepeda motor dan pejalan kaki, atau dijadikan tempat wisata kuliner sekaligus tempat percontohan agar masyarakat tidak membuang sampah ke Sungai. Jembatan tersebut dicat dengan warna khas daerah tempat jembatan tersebut berdiri maka akan munculah kawasan kuliner terapung.<\/p>\n<p>Saat ini di kota Tanjung Pura yang juga di kabupaten Langkat telah berdiri sebuah jembatan baru dimana jembatan lamanya biasa disebut masyarakatnya Titi Stasiun Kereta Api tepatnya di desa Teluk Bakung. Jembatan ini direncakan sebagai jalan alternatif lintas dari Banda Aceh menuju Medan dengan demikian kendaraan tidak lagi melintasi jembatan pada inti kota, sehingga lalu lintas tidak lagi macet.<\/p>\n<p>Alangkah indahnya jika jembatan yang lama yang merangkap jembatan kereta api tersebut tidak dirubuhkan. Namun tetap dijaga dengan direnovasi agar menjadi kenangan bersejerah. Jembatan tersebut dijadikan tempat kuliner terutama dodol (makanan khas Langkat), mie rebus dan makanan khas lainnya yang sudah menjadi kuliner khas Tanjung Pura.<\/p>\n<p>Hal tersebut akan memiliki daya tarik tersendiri terutama bagi setiap orang yang lewat baik dari Banda Aceh maupun dari arah Medan. Jika orang bertanya jembatan ini sejak kapan ya dibangun? Tentu jawabnya sejak dari jaman Sulthan Langkat jembatan ini sudah ada. Tentu ini akan semakin berkesan bagi para pengunjung.<\/p>\n<p>Namun pada bulan Februari 2013 yang lalu Sekitar 300 batang balok broti berukuran 3 x 5 inci, raib dari lantai jembatan lama Teluk Bakung (Jembatan Pattimura) ini, yang terletak antara perbatasan Desa Teluk Bakung dan Kelurahan Pekan Tanjung Pura Kabupaten Langkat. Jembatan Teluk Bakung saat ini hanya rangka besinya saja yang tinggal. Selain balok broti jembatan yang hilang, besi tangan jembatan juga hilang diambil orang yang tidak dikenal.<\/p>\n<p>Perlakuan lestari untuk jembatan lama juga dapat dilakukan di kota lain diseluruh Indonesia. Jika anda melalui jembatan Sungai Ular yang memisahkan antara kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Serdang Bedagai, anda akan melihat di sebelah selatannya jembatan untuk kereta api yang sangat indah sebagai warisan sejarah. Secara psikologis walau tidak langsung manfaat melestarikan bangunan\u2013bangun bersejarah bisa mendidik orang untuk mengingat masa lalunya untuk introspeksi diri pribadi menjadi lebih baik, karena kebanyakan bangunan kuno itu tetap baik walau telah dimakan jaman. Lalu bagaimana juga agar kita manusia yang hidup dan berakal ini bisa juga tetap baik sampai tua nanti? Seperti bangunan kuno itu? Kemauan masyarakat dan respon dari pemerintah sangatlah diharapkan agar kita tetap dapat menyaksikan jembatan atau bangunan kuno lainnya tetap dilindungi.<\/p>\n<p><i>Catatan: Irsan Water, Jurnalis Warga &amp; Penggiat Kelopok CU Rosela, Desa Stabat Lama, Langkat.<\/i><\/p>\n<p><em>Foto:\u00a0<a href=\"http:\/\/www.medanbisnisdaily.com\/\">http:\/\/www.medanbisnisdaily.com<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cJangan sekali-kali melupakan sejarah\u201d Begitu pesan bapak pendiri bangsa Indonesia, Ir Soekarno, yang juga seorang ahli rancang bangun (architecture) jembatan-jembatan masa lalu di Indonesia. \u201cOrang yang lupa dengan sejarah sama saja seperti orang gila\u201d. Demikian ungkap lain dari salah seorang Sulthan dari Khilafah Turki Utsmani yang agung. Sejarah membuktikan Khilafah Turki Utsmani adalah salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[201,18],"tags":[295],"class_list":["post-2201","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-jurnalis-warga","category-pedesaan","tag-konservasi-cagar-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2201"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2204,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2201\/revisions\/2204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}