{"id":208,"date":"2011-03-14T04:05:46","date_gmt":"2011-03-14T04:05:46","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=208"},"modified":"2013-05-14T10:53:04","modified_gmt":"2013-05-14T03:53:04","slug":"menguak-kasus-tanah-di-sumatera-utara-lewat-film-dokumenter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/menguak-kasus-tanah-di-sumatera-utara-lewat-film-dokumenter\/","title":{"rendered":"Menguak Kasus Tanah di Sumatera Utara Lewat Film Dokumenter"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #ff6600;\">Kampanye Agraria |\u00a0<\/span><span style=\"color: #ff6600;\">Film Dokumenter<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"caption\" title=\"Foto: www.lembagahukum.com\" alt=\"\" src=\"images\/stories\/mafia%20tanah.jpg\" width=\"215\" height=\"156\" align=\"left\" border=\"0\" hspace=\"4\" vspace=\"4\" \/><strong><span style=\"color: #0000ff;\">Desa<\/span><\/strong> Lubuk Bayas sejak selama beberapa hari belakangan tampak tak seperti tak biasanya. Berbagai kelompok petani dari berbagai tempat di Sumatera Utara tumpah ruah. Mulai dari Serdang Bedagai, Langkat, Karo, Deli Serdang, Binjai sampai Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan. Mereka tinggal untuk beberapa hari di rumah-rumah petani yang tersebar di desa tersebut.<\/p>\n<p>Seorang anak petani, Darmin, 27 tahun merupakan salah satu dari dua ratusan petani yang ikut berkumpul di Desa Bayas. Ia datang dari desa Pergulaan, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Ia generasi ketiga dari perjuangan mendapatkan kembali tanah yang dirampas PT LS, sebuah perusahaan \u2018milik\u2019 Asing yang menguasai tanah kakek nenek mereka.<\/p>\n<p>\u201cSejak aku lahir, aku sudah berada dalam situasi konflik kebon dan masyarakat, dan aku dibesarkan dalam perjuangan merebut kasus kembali hak msayarakat,\u201d kata Darmin usai menyaksikan pemuataran film dokumenter Bara Tanah Ramunia, sebuah film heroik warga desa di Dusun Anggrek, salah satu dusun terpencil di Deli Serdang yang mengambil kembali hak atas tanah mereka setelah bertahun-tahun dirampas oleh kelompok yang diback-up oleh oknum-oknum penguasa Orde Baru saat itu.<\/p>\n<p>Nama Ngatini, 65 tahun, pun menjadi perempuan yang buah bibir di mana-mana bahkan ke mancanegara. Kenangan perjuangan bersama petani yang selama bertahun-tahun dauber-uber dan mendapat pelanggaran HAM dari oknum aparat sudah berbuah manis.<\/p>\n<p>Ratusan petani yang menyaksikan beberapa segmen dalam film dokuemneter sentuhan tangan Onny Kresnawan yang diproduksi Yayasan Bitra Indonesia itu berdecak kagum. Kebanggaan mereka sebagai rakyat terpompa karena hadirnya Ibu Ngatini, perempuan yang mereka lihat dalam film itu.<\/p>\n<p>Berbeda sekali dengan apa yang dipikirkan oleh Darmin. Sampai hari ini ia benar-benar tak bisa menerima kenyataan dua warga desanya yang dipenjarakan karena perjuangan lebih kurang 300 hektare tanah Pergulaan yang dirampas kebon. Tuduhannya\u00a0 melakukan reclaiming atau pendudukan lahan. Dua orang itu bersama sejumlah warga desa lainnya yang hingga saat ini DPO tak diketahui di mana rimbanya. Masyarakat sudah melakukan segala bentuk upaya hukum. Banding, kasasi, peninjauan kembali, menggugat sana menggugat sini, tapi hasilnya NOL!<\/p>\n<p>Darmin mungkin mafhum, kenapa film perjuangan rakyat desa Pergulaan tidak diangkat menjadi film dokumenter? Kenapa penyiksaan, intimidasi dan ketidakadilan hukum yang dialami turun temurun di tiga generasi masih dialami masyarakat hingga saat ini.<br \/>\nWajarlah bila perjuangan Darmin dan warga desanya tidak masuk dalam film dokuemter yang diputar tersebut, karena tidak mencerminkan kisah sukses.<\/p>\n<p><strong>Film Dokumenter dan Perjuangan Tanah<\/strong><br \/>\nDi Sumatera Utara, sekitar 700 kasus tanah masih menjadi bara selain bara Ramunia yang diputar dalam Sarasehan ke-25 Yayasana Bitra Indonesia awal Maret lalu. Sungguh angka yang sangat fantastis dan terbesar di propinsi manapun di atas planet bumi ini Tapi faktanya belum banyak para sineas, khususnya para pembuat film dokumenter di Sumatera Utara yang dapat menguaknya secara nasional.<\/p>\n<p>Sebutlah Muhammad Hidayat, seorang film maker di Sumatera Utara lewat film dokumenter pernah mengangkat soal masyarakat korban pembangunan bandara Kwala Namu, telah mencoba menyentuh tema ini agar mampu menginspirasi dan memberikan pencerahan akan rakyat. Tetapi hasilnya, memang kurang mendapat tanggapan dari para pengambil kebijakan.<\/p>\n<p>Tak diketahui pasti apakah film Kwalanamu tidak sampai membuat panas telinga pihak-pihak yang berkepentingan, bahkan tidak menontonnya atau memang filmnya kurang tersosialisasi dengan baik.<\/p>\n<p>Film dokumenter memang solusi tepat menguak kasus tanah di Sumatera Utara yang sangat-sangat banyak itu. Tetapi film documenter yang diharapkan adalah film yang tidak hanya sekedar mengangkat\u00a0 kisah-kisah sukses perjuangan rakyat, melainkan airmata, darah dan ketakutan serta penderitaan warga desa yang hingga hari ini masih digagalkan oleh sistem politik dan hukum yang tidak pernah memihak mereka.<\/p>\n<p>Selain itu, kemampuan seorang pembuat film dokumenter akan teruji dalam menggali data, menganalisis, meramu dan menyajikan sebuah data dan fakta konflik tanah yang terjadi di luar hanya sekedar menguasai sinematografi dan teknik pengambilan gambar***<\/p>\n<p><em>Ditulis untuk TABLOID KABAR FILM oleh Jufri Bulian Ababil.<\/em><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.youtube.com\/watch?v=H4a3co-OuSY\">Film Dokumenter Perjuangan Masyarakat Ramunia<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampanye Agraria |\u00a0Film Dokumenter Desa Lubuk Bayas sejak selama beberapa hari belakangan tampak tak seperti tak biasanya. Berbagai kelompok petani dari berbagai tempat di Sumatera Utara tumpah ruah. Mulai dari Serdang Bedagai, Langkat, Karo, Deli Serdang, Binjai sampai Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan. Mereka tinggal untuk beberapa hari di rumah-rumah petani yang tersebar di desa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,201],"tags":[],"class_list":["post-208","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-advokasi","category-jurnalis-warga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=208"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1748,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/208\/revisions\/1748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}