{"id":1924,"date":"2013-06-15T17:07:23","date_gmt":"2013-06-15T10:07:23","guid":{"rendered":"http:\/\/www.bitra.or.id\/2012\/?p=1924"},"modified":"2013-06-17T14:44:00","modified_gmt":"2013-06-17T07:44:00","slug":"kesadaran-kolektif-mengelola-air","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/kesadaran-kolektif-mengelola-air\/","title":{"rendered":"Kesadaran Kolektif Mengelola Air"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/wpid-IMG_20130615_165059.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" alignleft\" title=\"IMG_20130615_165059.jpg\" alt=\"image\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/wpid-IMG_20130615_165059.jpg\" width=\"236\" height=\"177\" \/><\/a><\/p>\n<p>Banyaknya keluhan masyarakat terhadap sistem pelayanan dan pengelolaan air, khususnya yang ditujukan pada PDAM Tirtanadi, ternyata masih sering terdengar. Pengelolaan air yang dilakukan PDAM Tirtanadi dianggap belum maksimal. Padahal, persoalan air bukan saja persoalan PDAM Tirtanadi, tapi juga merupakan persoalan masyarakat. Artinya, perlu juga ada kesadaran kolektif masyarakat untuk bagaimana mengelola air sebagai sumber kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Yulhasni, salah seorang penulis dari buku &#8220;Air Disayang Air Dibuang&#8221;, mengungkapkan hal ini pada Kamis (13\/6), saat peluncuran buku tersebut di Penang Corner, Jalan Dr. Mansyur, Medan. Kegiatan yang diadakan Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) ini dihadiri insan pers dari berbagai media, mahasiswa Fakultas Hukum UMSU, dan sejumlah aktivis lingkungan seperti dari IJTI Sumut, Bitra Indonesia, Pusaka Indonesia, Peradi, Walhi, dan Fimansu. Hadir pula anggota DPD RI, Parlindungan Purba dan Ir. Zulkifli Lubis MT, Kepala Divisi Operasional Zona I PDAM Tirtanadi.<\/p>\n<p>Menurut Yulhasni, hadirnya buku Air Disayang Air Dibuang ini berangkat dari ide dan rasa keperdulian para penulisnya, sekaligus mengetuk kesadaran masyarakat bahwa air itu kebutuhan kita bersama. Sebab keluhan masyarakat terhadap pelayanan perusahaan pengelola air, dalam hal ini PDAM Tirtanadi, belum muncul sebagai kesadaran kolektif. Jadi, idenya adalah bagaimana perusahaan PDAM Tirtanadi bisa mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang perlunya air itu dijaga.<\/p>\n<p>Kedua, bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya air. Dengan kata lain, sebenarnya semangat orang untuk mencintai air itu belum ada. Orang menganggap soal air itu soal gampang. Cukup gali lubang, mengalirlah air, paparnya.<\/p>\n<p>Menyikapi banyaknya keluhan masyarakat terhadap pelayanan air tersebut, Rizal R. Surya mewakili insan pers menambahkan, di sinilah peran media massa yang fungsinya adalah mengedukasi publik, kemudian memberi kritik kepada pihak perusahaan pengelola air. Kalau berbagai keluhan tersebut tidak disalurkan ke media massa, publik jadi tidak tahu, dan pihak berkompeten pun makin tidak perduli. Biasanya, setelah ditulis di media, barulah masyarakat dilayani. Memang, selama ini hanya Menara Air Tirtanadi yang menjadi ikon Kota Medan atau Provinsi Sumatera Utara, tapi soal pelayanannya belum menjadi ikon, jelasnya.<\/p>\n<p>Hal senada juga disampaikan Farid Wajdi, selaku editor buku Air Disayang Air Dibuang tersebut. Menurutnya, persoalan air bukan saja persoalan PDAM, tetapi persoalan kultur yang ada di masyarakat. Untuk itu, melalui buku ini, selain mengedukasikan masyarakat, kita juga ingin mendorong DPRD dan stakeholder untuk menjalankan fungsinya. Kalau DPRD dari sisi pengawasan, maka pemerintah dari sisi kewajiban untuk membuat perusahaan pengelola air lebih sehat, misalnya tentang pengangkatan direksi. Berikutnya, proses penyadaran pada masyarakat. Kalau sudah membayar air, masyarakat juga harus disadarkan untuk melakukan pengawasan. Bila ada keluhan ya&#8230; Harus mengeluh, jadi jangan sampai disimpan di dalam hati. Salurkan melalui media atau sms layanan yang disediakan pihak perusahaan, tuturnya.<\/p>\n<p>Ke depan, tambah Farid lagi, kita (dari LAPK) akan berusaha melakukan semacam monumen percikan pemikiran suara hati masyarakat yang cerdas-kritik-solutif berkaitan pengelolaan sumberdaya air, baik melalui diskusi maupun penerbitan buku. Yaitu akan menguak dari sisi perilaku sosial, perilaku institusi perusahaan, dan pemerintah yang pada umumnya juga harus punya pemikiran bahwa air merupakan bagian dari nyawa kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Air tidak untuk diperjualbelikan<br \/>\nDalam kata sambutannya, anggota DPD Sumut Parlindungan Purba juga sangat apresiatif terhadap percikan pemikiran yang dihasilkan para penulis buku ADAD tersebut. Saat ini DPD RI telah mengusulkan perubahan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air. Jadi, buku ini akan saya jadikan sumber untuk perubahan UU tersebut dalam skala nasional. Karena fungsi sosial air perlu diperhatikan, air harus tersedia di masyarakat. Dan mengacu pada UUD 1945 Pasal 33, sebenarnya saya pun tidak setuju kalau air diperjualbelikan, jelasnya.<\/p>\n<p>Menyambut hadirnya buku ADAD tersebut, Kadiv Ops Zona I PDAM Tirtanadi Ir. Zulkifli Lubis MT mengaku sangat berterima kasih pada LAPK. Buku ini menyentuh banyak pihak. Jadi, dengan adanya koreksi sana sini, perhatian dari pemilik, legislator, peran stakeholder dan para aktivis perduli air, kita bisa saling berbagi informasi soal air ini. Dan buku ini bisa menjadi koreksi bagi kami untuk memperbaiki pelayanan PDAM Tirtanadi ke depannya, jelasnya.<\/p>\n<p>Acara peluncuran buku ADAD ini juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, monolog serta teaterikal yang ditampilkan oleh mahasiswa Fakultas Hukum UMSU, yang tergabung dalam Sanggar Hukum 82. <em>(juhendri)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyaknya keluhan masyarakat terhadap sistem pelayanan dan pengelolaan air, khususnya yang ditujukan pada PDAM Tirtanadi, ternyata masih sering terdengar. Pengelolaan air yang dilakukan PDAM Tirtanadi dianggap belum maksimal. Padahal, persoalan air bukan saja persoalan PDAM Tirtanadi, tapi juga merupakan persoalan masyarakat. Artinya, perlu juga ada kesadaran kolektif masyarakat untuk bagaimana mengelola air sebagai sumber kehidupan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[240,239],"class_list":["post-1924","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lingkungan","tag-buku","tag-sumber-daya-air"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1924"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1928,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions\/1928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}