{"id":1793,"date":"2013-05-15T11:46:40","date_gmt":"2013-05-15T04:46:40","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=1793"},"modified":"2013-05-15T11:50:05","modified_gmt":"2013-05-15T04:50:05","slug":"boyolali-lakukan-ekspor-perdana-beras-organik-ke-belgia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/boyolali-lakukan-ekspor-perdana-beras-organik-ke-belgia\/","title":{"rendered":"Boyolali Lakukan Ekspor Perdana Beras Organik ke Belgia"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_1794\" style=\"width: 471px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/beras-organik.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1794\" class=\" wp-image-1794   \" alt=\"Bupati Boyolali, Seno Samodro (kedua dari kanan) menunjukkan beras organik yang diproduksi kalangan petani padi Boyolali yang tergabung dalam organisasi Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli), Jumat (10\/5\/2013). Beras tersebut diekspor kali pertama ke Belgia. (JIBI\/SOLOPOS\/Septhia Ryanthie)\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/beras-organik.jpg\" width=\"461\" height=\"346\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/beras-organik.jpg 640w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/beras-organik-300x225.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 461px) 100vw, 461px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-1794\" class=\"wp-caption-text\">Bupati Boyolali, Seno Samodro (kedua dari kanan) menunjukkan beras organik yang diproduksi kalangan petani padi Boyolali yang tergabung dalam organisasi Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli), Jumat (10\/5\/2013). Beras tersebut diekspor kali pertama ke Belgia. (JIBI\/SOLOPOS\/Septhia Ryanthie).<\/p><\/div>\n<p><span style=\"font-size: 13px; line-height: 19px;\">Prestasi membanggakan diraih kalangan petanis beras organik di Boyolali. Beras produksi kalangan petani padi Boyolali yang tergabung dalam organisasi Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli) itu untuk kali pertama diekspor ke Belgia, Jumat (10\/5\/2013).<\/span><\/p>\n<p>Ketua Appoli, Susatyo, mengemukakan beras organik yang diproduksi Appoli tersebut sedianya diluncurkan Maret 2013. Namun karena ada sejumlah kendala, ekspor beras itu baru bisa dilakukan Mei. \u201cKendala dari luar berkaitan dengan lembaga sertifikasi yang dalam prosesnya cenderung lebih lambat, sedangkan kendala dari internal Appoli ada beberapa, termasuk kendala teknis, modal kerja yang terbatas dan para petani Appoli sendiri memang masih harus banyak belajar,\u201d ungkap Susatyo saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Ekspor Perdana Padi Organik Boyolali ke Belgia yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Teras, Boyolali.<\/p>\n<p>Bupati Boyolali, Seno Samodro, mengapresiasi keberhasilan petani Appoli dalam memproduksi beras organik, bahkan bisa mengekspor beras tersebut ke Belgia untuk kali pertama. Bupati berharap ekspor beras itu bisa dilakukan Boyolali secara berkelanjutan. Namun Bupati mengingatkan para petani agar benar-benar tetap menjaga kualitas produk.<\/p>\n<p>\u201cJangan main-main dengan kualitas produk. Saya ingatkan agar kualitas beras organik ini benar-benar dijaga. Sebab kalau tidak, produk ini tidak akan laku di pasar internasional. Sertifikasi bisa saja dicabut kalau sampai kualitas dinilai menurun,\u201d tegas Bupati.<\/p>\n<p>Bupati menyatakan Pemkab siap mendukung produksi beras organik tersebut dengan menggelontorkan dana dari APBD, di antaranya untuk kepentingan sertifikasi beras organik maupun produk-produk organik lainnya di Boyolali. \u201cTahun ini kami target bisa mengekspor beras organik ke Belgia hingga delapan kontainer,\u201d kata Bupati.<\/p>\n<p>Sementara eksportir beras organik, Emily Susanto dari Bloom Argo, mengatakan untuk tahap perdana tersebut, diekspor satu kontainer beras organik atau sebanyak 19 ton. \u201cTiga jenis beras organik yang diekspor yaitu <em>pandan, merapi<\/em> dan <em>rainforest rice<\/em>, dalam bentuk kemasan 5 kg dan 1 kg,\u201d kata Emily.<\/p>\n<p>Suswadi dari LSK Bina Bakat selaku pendamping Appoli, mengatakan dengan ekspor perdana beras organik asal Boyolali tersebut, menunjukkan bahwa <em>Kota Susu<\/em> memiliki potensi yang tinggi sebagai penghasil produk organik. Namun Suswadi menilai mempertahankan kualitas produk dan jalinan kerja sama dengan pihak-pihak terkait merupakan tugas berat. \u201cUntuk mempertahankan ini yang berat karena Appoli sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak terkait, terutama dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab),\u201d kata Suswadi.<\/p>\n<p>Hal senada dikemukakan Ropjer Eijkens dari VECO Indonesia yang juga merupakan pendamping Appoli. \u201cProduksi beras organik, hingga pemasarannya, khususnya untuk ekspor beras ini ke Belgia ataupun ke negara-negara lainnya, tidak akan bisa berjalan jika tidak ada dukungan dan kerja sama semua pihak terkait,\u201d kata Ropjer. <em>(Septhia Ryanthie\/JIBI\/SOLOPOS)<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber: http:\/\/www.solopos.com<\/em><\/p>\n<p>===================================<\/p>\n<p><strong>Pengembangan Beras Organik Boyolali Jadi Tantangan<\/strong><\/p>\n<p>Bupati Boyolali, Seno Samodro, mengaku optimistis produk beras organik yang dihasilkan di Kabupaten Boyolali bisa terus dikembangkan di wilayah itu. Jika sebelumnya komoditas tersebut baru dihasilkan di beberapa wilayah di <em>Kota Susu<\/em>, antara lain di Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo dan Desa Catur, Kecamatan Sambi, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat dapat mengembangkan lahan pertanian yang memproduksi beras organik tersebut di daerah lainnya.<\/p>\n<p>Sebelumnya, beras organik asal Boyolali diekspor untuk kali pertama ke Belgia. Beras tersebut merupakan produksi kalangan petani padi Boyolali yang tergabung dalam organisasi Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli). Beras organik tersebut juga telah mendapatkan sertifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan <em>fair trade<\/em> dari The Institute for Marketology (IMO),<\/p>\n<p>Pengembangan produksi beras organik di desa lain di Boyolali, menurut Bupati, menjadi tantangan bagi Pemkab setempat. Namun pihaknya meyakini potensi yang dimiliki wilayah itu dapat mendukung keberhasilannya.<\/p>\n<p>\u201cItu, pengembangan beras organik di daerah lain di Boyolali, jadi tantangan buat kami,\u201d ujarnya saat dimintai tanggapan seputar pengembangan beras organik di Boyolali, Sabtu (11\/5\/2013).<\/p>\n<p>Bupati menyebutkan potensi Boyolali yang dapat mendukung pengembangan produksi beras organik tersebut di antaranya sumber air yang langsung berada di bukit-bukit kecil sehingga kualitas air dapat terjaga karena tidak tercemar atau terkontaminasi.<\/p>\n<p>\u201cSeperti halnya di Desa Dlingo dan Desa Catur, sumber air berada di bukit-bukit kecil dengan ketinggian rata-rata tidak sampai 1.000 meter. Dengan kondisi tersebut kualitas air bagus, tidak mudah tercemar atau terkontaminasi. Potensi itu yang diharapkan bisa mendukung pengembangan produksi beras organik di Boyolali,\u201d kata Bupati.<\/p>\n<p>Terpisah, Ketua Appoli, Susatyo mengatakan organisasi tersebut saat ini memiliki wilayah kerja yang mencakup 38 desa di 10 kecamatan di Boyolali.\u00a0\u201cDengan anggota sebanyak 3.328 orang di 67 kelompok tani di 38 desa,\u201d papar Susatyo. <em>(Septhia Ryanthie\/JIBI\/SOLOPOS)<\/em><\/p>\n<p><em style=\"font-size: 13px; line-height: 19px;\">Sumber: http:\/\/www.solopos.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prestasi membanggakan diraih kalangan petanis beras organik di Boyolali. Beras produksi kalangan petani padi Boyolali yang tergabung dalam organisasi Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli) itu untuk kali pertama diekspor ke Belgia, Jumat (10\/5\/2013). Ketua Appoli, Susatyo, mengemukakan beras organik yang diproduksi Appoli tersebut sedianya diluncurkan Maret 2013. Namun karena ada sejumlah kendala, ekspor beras [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,29],"tags":[514,58],"class_list":["post-1793","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi-rakyat","category-pertanian-organik","tag-pertanian-organik","tag-produk-organik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1793"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1793\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1799,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1793\/revisions\/1799"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}