{"id":169,"date":"2009-07-05T18:20:09","date_gmt":"2009-07-05T18:20:09","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/bitra\/?p=169"},"modified":"2009-07-05T18:20:09","modified_gmt":"2009-07-05T18:20:09","slug":"fotografi-mengasah-kepekaan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/fotografi-mengasah-kepekaan-anak\/","title":{"rendered":"Fotografi Mengasah Kepekaan Anak"},"content":{"rendered":"<p>Fotografer Usia 9 tahun asal Riau Sisihkan Usia Belasan Bahasa gambar dapat secara cepat mengasah kepekaan anak dalam melakukan perubahan sejak dini. \u201cTentu saja atas dukungan orang tua, sekolah dan orang dewasa lain, anak dapat menangkap pesan dan menyampaikan pesan melalui bahasa gambar,\u201d tutur jurnalis pemerhati anak Meutya Vada Hafid dalam Seminar Fotografi Anak 2009 yang dikemas secara sederhana, di Gedung Lembaga Kesenian (LK) Universtitas Sumatera Utara (USU), Minggu, (29\/3).<\/p>\n<p>Seminar Fotografi Anak ini tergolong unik. Pasalnya hanya dihadiri peserta usia 8-18 tahun, panitia pelaksana dan sejumlah orang tua peserta. Selain itu, seminar ini juga membuka sesi yang cukup banyak bagi para fotografer cilik dari usia 8 hingga anak usia 18 tahun untuk saling bertukar fikirian, berbagi pengalaman.<\/p>\n<p>Setelah mengelilingi seluruh partisi yang memamerkan 68 karya fotografer cilik di gedung LK USU itu, Meutya kemudian menyampaikan ketakjubannya kepada anak-anak. \u201cDari karya foto yang kelihatan, anak memang lebih memiliki kepekaan yang jauh lebih besar dari orang dewasa. Bahkan, terkadang orang dewasa sudah banyak luntur kepekaannya terhadap masalah di sekelingga akibat kesibukan dan rutinitas,\u201d jelas Meutya. <\/p>\n<p>Selain sebagai bagian dari jurnalistik dan seni, kata Meutya, fotografi juga dapat menjadi barang bukti yang sah. Karenanya, ia mengingatkan kepada anak-anak peminat fotografi agar lebih berhati-hati dalam mengabadikan sebuah momen atau objek. \u201cHunting saja sebanyak-banyaknya berdasarkan rasa kita, tapi harus untuk dipublish kita harus memilah-milah dengan bantuan orang tua dan guru,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama Kordinator Divis Penelitian dan Pengembangan PKPA Medan, Misran Lubis menyampaikan fotografi diharapkan mampu dijadikan sebagai media promosi dalam mempromosikan hak-hak anak. \u201cSebagai sebuah media, foto dapat lebih lugas dan jelas dalam menyampaikan pesan yang ingin dibahasakan fotografernya. Untuk itu, fotografer cilik dan para aktivis peduli anak harus dapat memanfaatkan foto sebagai media promosi hak anak,\u201d cetus Misran.Kepada fotografer cilik Misran menceritakan tentang Kevin Carter, fotografer yang pada tahun 1994 mempublish fotonya mengenai anak-anak yang busung lapar sebagai dampak konflik Sudan.<\/p>\n<p>Dalam foto tersebut tampak seekor burung Nazar (burung pemakan bangkai) sedang menunggu seorang anak yang nyaris tinggal tulang sedang berusaha mendapatkan makanan setelah merangkak sejauh 10 km. Sambil menunjukkan sebuah foto itu kepada peserta yang hadir Misran menerangkan, pentingnya kepekaan sosial bagi masyarakat dalam menangkap pesan yang ingin disampaikan seorang fotografer.<\/p>\n<p>\u201cSungguh tragis, Kevin Carter sang fotografer akhirnya mengalami depresi dan bunuh diri, karena dunia terkesan lamban dalam membaca pesan yang ingin disampaikannya yakni agar anak-anak di Sudah yang sedang sekarat itu dibantu, tetapi malah penghargaan foto terbaik yang sama sekali tidak diharapkan yang justeru ia terima, \u201djelas Misran. Selain Meutya dan Misram, pembicara lain dalam Seminar tersebut adalah dua fotografer cilik, yakni Anthony dan Nur Ayashi.<\/p>\n<p>Anthony, siswa Kelas II Methodist 2, dalam sesi berbagi pengalamannya menyampaikan, menjadi fotografer. \u201cAku menyenangi fotografi sejak 2 tahun lalu, dan baru mulai fotografer baru setahun. Yakni setelah orang tuaku membelikan kamera untukku. Bagiku fotografi sangat berguna dan cukup mempengaruhi emosi kita sebagai fotografer, dari emosi itu kita ingin sampaikan lagi kepada orang lain lewat foto yang kita hunting,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Menurut Anthony, awalnya orang tuanya kurang mendukung ia sebagai fotografer. Namun, waktu dan kesabarannya dalam meyakinkan manfaat fotografi akhirnya ia mampu meyakinkan orang tuanya. Pengalamannya yang berkesan, Anthotny mengaku makin memahami keberagaman bangsa Indonesia setelah banyak melakukan hunting-hunting foto ke pedesaan. Selain itu dia juga mengaku pernah diusir saat mau mengambil foto tukang sayur dan dipelototi orang di sebuah desa di pedalaman Sumut.<\/p>\n<p>Berbeda dengan Anthony, Nur Ayashi, siswi kelas III Harapan II, justeru menyenangi dunia fotografi justeru sejak masih kelas II SMP. \u201cAku suka foto-foto awalnya karena bisa mendokumentasikan pemandangan indah dan acara keluarga. Tapi lama-lama, karena kulihat di sekolah banyak teman-teman yang sehobi denganku, aku jadi semakin semangat dan saling belajar,\u201d terang Ayashi didampingi ibunya.<\/p>\n<p>Pengalaman menarik Ayashi yang paling berkesan adalah saat dia sedang mengambil foto monyet. \u201cSaat mendekati objek, aku hampir saja kena cakar monyet,\u201d katanya sambil tertawa mengenang peristiwa itu. Fotografer 9 tahun Sebuah karya fotografi sebagai sebuah karya seni merupakan karya yang tidak dapat dinilai dengan standar kecanggihan teknologi, teknik pengambilan tertentu atau angka-angka, melainkan harus dinilai secara komperehensif, sehingga konsep penilaian kita akan lebih objektif, bukan subjektif. Meskipun demikian, penilaian fotografi yang diperlombakan mesti mengikuti prosedur administrasi yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara.<\/p>\n<p>Hal itu terbukti setelah proses penjurian terhadap 68 foto karya fotografer cilik dilaksanakan Sabtu, (28\/3) di desa Sayum Sabah, kecamatan Sibolangit Deli Serdang Sumatera Utara, salah satu pemenangnya adalah anak usia 9 tahun.<\/p>\n<p>Marcella Evany Ayu Maharani, nama anak yang Belem genap berusia 10 tahun itu akhirnya diketahui sebagai fotografer cilik yang menjepret karya fotonya yang berjudul \u201cSahabat Setiaku.\u201d Walaupun hanya mampu menyabet Juara III, tetapi foto itu mampu menyisihkan puluhan karya foto anak-anak usia belasan tahun lainnya. Foto tersebut diduga diambil dengan menggunakan kamera Handphone dengan merk tertentu yang dicetak di atas kertas HVS berukuran A4.<\/p>\n<p>\u201cKita harus menilai hasil karya fotografer cilik ini dari sudut pandang dunia anak-anak bukan sudut pandang kita orang dewasa. Sehingga rasa dan emosi yang ingin mereka sampaikan dapat kita tangkap dengan baik,\u201d kata Sekretaris Perwarta Foto Indonesia \u2013 Medan Putra Perwira Lubis didampingi Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa USU Willy A Chandra saat memberikan wejangan dalam Tour Fotografer Cilik sekaligus acara hunting foto bareng fotografer cilik.<\/p>\n<p>Kegiatan ini adalah buah kerjasama Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi USU ini, merupakan rangkaian kegiatan Lomba Fotografi Anak 2009 meliputi Lomba Fotografi, Tour Fotografer Cilik, Seminar Foto dan Pameran Foto. Menurut Panitia, Ahmad Faisal menjelaskan, rangkaian kegiatan ini didukung oleh Harian KOMPAS, INDEVOR, SUN Plaza, Independent Medan Movie Maker, Open Design House (ODH), Pewarta Foto Indonesia, Delta FM, Manajemen Training Center Sayum Sabah Yayasan Bitra Indonesia, SMA Methodist II, SMK Pemda Lubuk Pakam, SMP Harapan 2 dan beberapa sekolah favorit lainnnya di Sumatera Utara.<\/p>\n<p>\u201cLomba Fotografi anak ini memperlombakan 68 foto dari 25 peserta yang berasal dari Sumatera Utara, Yogyakarta, Nanggroe Aceh Darussalam dan Riau dengan total Hadiah Rp. 2,5 juta,\u201d pungkas siswa SMA Budi Bersubsidi itu.<\/p>\n<p>Setelah mengikuti seleksi ketat dewan juri yang terdiri dari Sekretaris Pewarta Foto Indonesia \u2013 Medan Putra Perwira Lubis, Koordinator Event UKM Fotografi USU Willy A Chandra dan Fotografer PKPA Andriansyah, 3 foto terbaik Lomba Fotografi Anak 2009 berhasil dipilih.<\/p>\n<p>Terpilih sebagai Juara I, foto dengan Judul \u201cPersahabatan\u201d, fotografer Nur Ayashi (14 tahun) asal SMP Harapan-2 Medan, berhak mendapatkan beasiswa senilai Rp.1.000.000,- dan sebuah Ponsel.<\/p>\n<p>Juara II foto berjudul \u201cMengintip Dunia Luar\u201d atas nama fotografer Anthony (17 tahun) asal SMA Methodist \u2013 2, berhak mendapatkan beasiswa senilai Rp. 750.000,-.<\/p>\n<p>Juara III dengan judul foto \u201cSahabat Setiaku\u201d atas nama fotografer Marcella Evany Ayu Maharani (9 tahun) asal Bagan Batu, Riau, berhak mendapatkan beasiswa senilai Rp. 500,000,-.<\/p>\n<p>Acara Lomba Fotografi Anak 2009 ini merupakan kegiatan yang kali pertama di selenggarakan di Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini diharapkan, anak-anak dapat menumbuh kembangkan minat dan bakat anak dalam menyekspresikan dirinya ke arah yang positif. (Jufri Bulian Ababil)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fotografer Usia 9 tahun asal Riau Sisihkan Usia Belasan Bahasa gambar dapat secara cepat mengasah kepekaan anak dalam melakukan perubahan sejak dini. \u201cTentu saja atas dukungan orang tua, sekolah dan orang dewasa lain, anak dapat menangkap pesan dan menyampaikan pesan melalui bahasa gambar,\u201d tutur jurnalis pemerhati anak Meutya Vada Hafid dalam Seminar Fotografi Anak 2009 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-169","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-advokasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}