{"id":1577,"date":"2013-05-13T00:18:49","date_gmt":"2013-05-12T17:18:49","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=1577"},"modified":"2013-05-13T09:54:32","modified_gmt":"2013-05-13T02:54:32","slug":"padi-lokal-sumutmulai-musnah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/padi-lokal-sumutmulai-musnah\/","title":{"rendered":"Padi Lokal Sumut Mulai Musnah"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/wpid-Perempuan-Tani-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" alignleft\" title=\"Perempuan Tani-1.jpg\" alt=\"image\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/wpid-Perempuan-Tani-1.jpg\" width=\"175\" height=\"234\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sekian banyak padi lokal di Sumatera Utara saat ini semakin ditinggalkan petani. Bahkan secara perlahan dan pasti, padi lokal yang bermutu tinggi\u00a0sudah tidak bisa ditemui lagi.\u00a0Bahkan, 1 varietas unggul padi lokal Sumut sudah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai milik Sumatera Barat. Harus ada\u00a0kebijakan untuk penyelamatan padi lokal yang masih tersisa.<\/p>\n<p>\u201cKita sudah banyak kehilangan padi lokal kita, sayang sekali, kita sudah tidak bisa lagi mencium harum nasi yang kita masak,\u201d kata Syawal Simanjuntak, petani di Desa Kuta Dame, Kecamatan\u00a0Kerajaan, Kabupaten Phakpak Barat, saat ditemui di kantor UPT Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumut (UPT-BPTP Sumut) Jumat (3\/5) di Medan.<\/p>\n<p>Syawal mencontohkan, untuk padi\u00a0sawah misalnya, padi jenis Padang, Siangkat, Ramos, Silumut, Sipongkol, sudah sangat jarang ditanam oleh petani. Bahkan, di antaranya sudah<br \/>\ntidak ada lagi ditemukan alias punah.\u00a0Kemudian, untuk padi Gogo, padi Gogo jenis Sikehkeh, Sipala, dan Siburu Jabi sudah tidak ditemukan lagi. \u201cKalaupun ada yang menanam, bisa dihitung dengan\u00a0jari,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurutnya, penyebab semakin\u00a0hilangnya padi lokal dikarenakan petani sudah banyak yang enggan\u00a0menanamnya lantaran faktor usia panen yang lebih lama dibandingkan dengan padi yang banyak beredar di pasaran,\u00a0seperti Ciherang dan Mekongga.<\/p>\n<p>Padi lokal, baik padi sawah maupun padi Gogo, umumnya memiliki usia panen yang panjang, yakni 6 \u2013 7 bulan. \u201cPetani lebih memilih padi yang usia panennya pendek, misalnya 100 hari\u00a0sudah bisa panen,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Padi lokal, lanjut Syawal yang juga\u00a0Ketua Kelompok Tani Roh Mejuna, selain usia panen lebih lama, tidak semuanya memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan sebagian mudah rebah. kelemahan lainnya, produksi padi lokal juga tergolong rendah yakni hanya berkisar antara 1,5 \u2013 2 ton per hektare.<\/p>\n<p>Sementara itu, Punguan Gultom, selaku ketua Dewan Pimpinan Cabang Simalungun Serikat Petani Indonesia, Wilayah Sumatera Utara mengatakan, &#8220;Simalungun memiliki padi lokal Sigambiri Merah dan Sigambiri Putih. Padi tersebut kini sudah semakin sulit\u00a0ditemui&#8221;. Padi lokal di Simalungun antara lain, selain itu, ada juga padi Pandan Wangi, Sri Rejeki, Pendek Merah, dan Tamba Tua.<\/p>\n<p>Menurutnya, semakin sedikitnya petani yang menanam padi lokal lantaran dari sisi kebijakan yang berlaku saat ini yang mendorong agar petani menggunakan benih\u00a0dan pupuk yang diberikan oleh\u00a0Pemerintah. Selain itu, juga dikarenakan adanya kebijakan pola tanam serentak. Dengan demikian, yang terjadi saat ini,\u00a0pertanian padi menjadi semacam\u00a0<em>monokultur<\/em> dimana semua jenis padi seragam.<\/p>\n<p>\u201cKalau tanam Ciherang. Ya&#8230;Ciherang semua. Jika tanam Mekongga&#8230; Ya, mekongga semua,\u201d katanya. Sementara itu, pertumbuhan padi lokal yang lebih lama tidak memiliki tempat.\u00a0Karena ketika padi lokal yang sudah ditanam belum bisa dipanen sementara padi yang diberikan oleh petani sudah\u00a0memasuki panen, maka peluang\u00a0terserang hama penyakit lebih besar.<\/p>\n<p>Padahal lanjutnya, jika dilihat dari sisi ekonomisnya, menanam padi lokal lebih menguntungkan karena harga benih yang lebih murah. Misalnya benih Ciherang ataupun Mekongga, di harga eceran tertinggi mencapai Rp 55.000\u00a0per 5 kilogram. Sementara padi lokal hanya Rp 4000 per kilogram.<\/p>\n<p>\u201cDari sisi budidayanya, pemberian benih pemerintah harus didukung dengan pupuk, kalau tidak, produksi tidak bagus. Berbeda dengan padi lokal. Dengan\u00a0pupuk sederhana atau pupuk alami, produksi tetap bagus,\u201d\u00a0katanya.<\/p>\n<p>Menurutnya, seharusnya Pemerintah memiliki kebijakan yang jelas untuk menyelamatkan padi lokal sebelum semuanya musnah. Semakin sulitnya\u00a0menemukan padi lokal yang ditanam oleh petani merupakan hal yang memprihatinkan karena potensi untuk pengembangan sangat besar.<\/p>\n<p>\u201cPetani harus bisa lepas dari ketergantungan kepada benih dan pupuk dari luar, dengan menanam padi lokal. Petani bisa terus mengembangkannya dengan\u00a0mandiri,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, kepala UPT Balai\u00a0Pengawasan dan Sertifikasi Benih\u00a0Sumut, Sugeng Prasetyo mengatakan, &#8220;penyelamatan padi lokal sangat penting mengingat saat ini Sumut sudah kehilangan 1 padi lokal varietas unggul dari Mandailing Natal, yakni padi\u00a0Sigudang yang tahun 2010 yang lalu sudah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai padi asli dari Sumatera Barat.<\/p>\n<p>\u201cHarus ada kebijakan yang mendukung penyelamatan padi lokal kita! Jangan sampai padi kita <em>diklaim<\/em> sebagai milik\u00a0daerah lain lagi, padahal itu asli Sumut,\u201d katanya. (<em>dewantoro)<\/em><\/p>\n<p><em>Sumber: http:\/\/readersblog.mongabay.co.id<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekian banyak padi lokal di Sumatera Utara saat ini semakin ditinggalkan petani. Bahkan secara perlahan dan pasti, padi lokal yang bermutu tinggi\u00a0sudah tidak bisa ditemui lagi.\u00a0Bahkan, 1 varietas unggul padi lokal Sumut sudah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai milik Sumatera Barat. Harus ada\u00a0kebijakan untuk penyelamatan padi lokal yang masih tersisa. \u201cKita sudah banyak kehilangan padi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[209,208],"class_list":["post-1577","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pertanian-organik","tag-benih-lokal","tag-konservasi-varietas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1577"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1579,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1577\/revisions\/1579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}