{"id":1127,"date":"2012-11-28T15:48:08","date_gmt":"2012-11-28T08:48:08","guid":{"rendered":"http:\/\/bitra.or.id\/2012\/?p=1127"},"modified":"2013-05-14T09:47:12","modified_gmt":"2013-05-14T02:47:12","slug":"hadi-siswoyo-buruh-pocokan-yang-nyaris-menaklukkan-british-council","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/hadi-siswoyo-buruh-pocokan-yang-nyaris-menaklukkan-british-council\/","title":{"rendered":"Hadi Siswoyo: Buruh \u201cPocokan\u201d Yang Nyaris \u201cMenaklukkan\u201d British Council"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Hadi-Siswoyo.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft  wp-image-1128\" title=\"Hadi-Siswoyo\" alt=\"\" src=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Hadi-Siswoyo-300x288.jpg\" width=\"270\" height=\"259\" srcset=\"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Hadi-Siswoyo-300x288.jpg 300w, https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/Hadi-Siswoyo.jpg 376w\" sizes=\"auto, (max-width: 270px) 100vw, 270px\" \/><\/a>Benarlah kiranya petuah yang mengatakan mutiara itu walau dibenamkan ke lumpur terdalam tetap akan memancarkan kilaunya.<\/p>\n<p>Tak ubahnya dengan manusia, dimanapun tumbuh atau besarnya, yang namanya \u201cbibit unggul\u201d pasti akan membawa manfaat besar bagi warga dan lingkungannya.<\/p>\n<p>Hadi Siswoyo adalah bukti sahih konklusi bijak tersebut. Tak banyak orang yang tahu Desa Air Hitam yang nun berada jauh dari Ibukota Sumatera Utara, Medan. Bayangkan dari ibukota kabupaten, Aek Kanopan (Labuhan Batu Utara), saja jaraknya 60 km dan harus ditempuh dalam waktu 2,5 jam dengan menggunakan sepeda motor.<\/p>\n<p>Di desa yang akses jalannya baru terbuka pada 2005 itulah lelaki berperawakan ramping dan tinggi tersebut menciptakan karya-karya \u201cbesar\u201d-nya kepada masyarakat sehingga layak diibaratkan sebagai mutiara.<\/p>\n<p>Sudah selama tiga periode sejak 2005 Hadi memimpin institusi keuangan berskala mikro Credit Union \u201cAmarta\u201d yang berdiri di Desa Air Hitam. Dari anggota yang semula hanya berjumlah 9 orang kini berkembang menjadi 400 lebih. Yang semula modal awalnya cuma Rp 273.000 kini kekayaannya sudah mencapai Rp 1,5 miliar lebih.<\/p>\n<p>Yang tadinya jangkauannya hanya warga yang berada di 3 dusun di Desa Air Hitam (Kecamatan Kualuh Ledong) saat ini bersiap-siap merambah ke 4 kecamatan. Diproyeksikan tahun 2016 akan meluas menjadi sekabupaten dengan jumlah anggota 5000 orang.<\/p>\n<p>Berlatar belakang pendidikan yang cuma sampai kelas 3 Sekolah Dasar tentu siapa saja akan bertanya-tanya bagaimana mungkin Hadi dapat melakoni pekerjaan-pekerjaan \u201cbesar\u201d tersebut. Bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi berikut keluarganya, tetapi demi seluruh warga yang kehidupannya sempat tak menentu akibat mata pencaharian yang tidak menetap.<\/p>\n<p>Adalah Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Bitra yang \u201cmenyulap\u201d lelaki kelahiran 32 tahun lalu itu menjadi melek akan pemberdayaan masyarakat kecil melalui CU.<\/p>\n<p>Bitra yang berbasis di Medan memang fokus pada penguatan warga agar lebih berdaya terutama dari sisi ekonomi. Cukup banyak kelompok rakyat pedesaan yang tersebar di berbagai wilayah di Sumatera Utara yang mereka perkuat eksistensinya sehingga tak lagi sekedar menjadi objek berbagai kebijakan penguasa.<\/p>\n<p>Sengketa kepemilikan tanah warga seluas kurang lebih 4000Ha yang diambil paksa PT Sawita Ledong Jaya pada 1997 yang mendekatkan masyarakat Desa Air Hitam dengan Bitra.<\/p>\n<p>Dengan maksud melakukan advokasi agar Hadi Cs mempertahankan lahan miliknya, lembaga yang salah satu pendirinya adalah Soekirman (Wakil Bupati Serdang Bedagai) tersebut memperkenalkan berbagai cara perlawanan baik litigasi maupun non-litigasi. Ketika itu pada tahun 1999.<\/p>\n<p>Keserakahan Sawita Ledong Jaya yang \u201cmerampok\u201d tanah warga mengakibatkan seluruh masyarakat Desa Air Hitam sengsara. Lahan yang sempat ditanami sawit dan padi tak lagi mereka miliki. Untuk masuk ke hutan demi mengumpulkan kayu bakar tidak diperkenankan. Sedangkan tanaman sawit yang luput dari aksi \u201cperampokan\u201d tak bisa diharap sebab belum berbuah.<\/p>\n<p>\u201cKesengsaraan yang dirasakan warga sangat memprihatinkan. Banyak yang terjerat utang pada rentenir,\u201d kata Hadi menjelaskan kondisi sebelum berdirinya CU.<\/p>\n<p>Tak ingin situasi buruk yang melilit warga tersebut terus berlangsung, Bitra yang juga memiliki program pemberdayaan ekonomi mengajak Hadi untuk ikut dalam pelatihan tentang CU. Filosofi dan prinsip-prinsip pembentukan CU, itulah yang diajarkan. Peserta mendapatkan buku-buku agar paham bagaimana cara membangun CU.<\/p>\n<p>Kelanjutannya, seluruh peserta pelatihan didorong agar mendirikan CU di desa tempatnya tinggal. Disinilah Hadi mengawali \u201cperjuangan\u201d-nya mengangkat harkat warga desanya dari keterpurukan.<\/p>\n<p>Bersama dua orang rekannya sedesa, Supriadi dan Sarwanto, mulailah mereka mensosialisasikan CU sebagai unit bisnis yang menyediakan \u201ckeselamatan\u201d bagi semua penduduk jika mau secara bersama-sama mendirikan dan mengelolanya. Hanya Supriadi di antara mereka bertiga yang lulus SD, Sarwanto malah mentok sampai kelas 2 saja.<\/p>\n<p>Ketiganya lalu mengorganisir warga desa dan memetakan stakeholder yang pantas diajak bergabung membentuk CU.<\/p>\n<p>Tak mudah. Berbagai penolakan mereka hadapi. Tak cuma oleh warga, tapi juga aparat pemerintahan desa serta pemuka masyarakat.<\/p>\n<p>Pengalaman warga yang pernah tertipu oleh koperasi yang sempat berdiri di Desa Air Hitam menyisakan rasa trauma sehingga tak mudah percaya pada ajakan-ajakan serupa.<\/p>\n<p>Di awal tahun 90-an pernah berdiri KUD Mulya Jaya. Oleh pemerintah dikucurkan bantuan Rp 38 juta. Tapi tak ada manfaatnya bagi anggota, tak lama sesudah itu koperasi mati suri. Tahun 1994\/1995 kembali pemerintah menginjeksikan bantuan yang nilainya jauh lebih besar yakni Rp 2 miliar. Lagi-lagi tak jalan, sampai sekarang koperasi tersebut sudah tinggal nama saja. Bubar.<\/p>\n<p>Singkat kata, pada Februari 2005 CU berhasil didirikan. Awalnya bernama CU Bima. Dari 15 warga yang diajak ikut mendirikan, 13 diantaranya berkomitmen bergabung. Akan tetapi saat pertemuan berlangsung hanya 9 orang yang benar-benar hadir. Hadi dipilih menjadi ketua.<\/p>\n<p>\u201cModal awal yang berhasil dikumpulkan adalah Rp 273.000. Dengan modal itu usaha simpan pinjam dijalankan, siapa saja anggota bisa meminjam dan membayar dengan besar bunga tertentu yang disepakati,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Secara rutin satu kali dalam setiap bulan mereka berkumpul. Acara tersebut dinamai \u201cPertemuan Transaksi\u201d. Disitulah kesempatan bagi setiap anggota menyetorkan kewajibannya; membayarkan uang simpanan serta cicilan utang.<\/p>\n<p>Pertemuan transaksi bulanan yang dilakukan secara bergantian di rumah anggota ini tak terhindari menarik perhatian warga lainnya untuk mencari tahu. Di antara mereka, setelah mendapat penjelasan, tidak sedikit yang kemudian mendaftar untuk jadi anggota. Itu sebabnya di penghujung tahun 2005 jumlahnya meningkat menjadi 21 orang.<\/p>\n<p>Akan tetapi dalam waktu yang sama ada juga warga yang berpendapat miring terhadap CU Bima. Salah seorang tokoh masyarakat menyatakan usaha yang dijalankan Hadi Cs adalah haram karena merupakan praktik riba. Lebih ekstrim lagi, usaha tersebut dituding sebagai upaya Kristenisasi sebab diadopsi dari pola pengembangan ekonomi yang dijalankan orang Kristen.<\/p>\n<p>Oleh kepala desa pertemuan traksaksi bulanan dinyatakan sebagai pertemuan gelap. Mirip seperti tuduhan pemerintah di era orde baru terhadap rapat atau diskusi yang dilakukan mahasiswa atau penentang Soeharto. Oleh sebab itu masyarakat diminta untuk tidak mau ikut.<\/p>\n<p>Untungnya berbagai tuduhan negatif itu tak membuat Hadi dan pegiat CU lainnya kecut untuk terus melangkah maju.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada unsur agamanya, memang CU dikembangkan gereja tetapi prinsip-prinsipnya bagus dan tidak ada yang salah,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Keteguhan mereka perlahan membuahkan hasil. Di tahun kedua, dari hanya Rp 2 jutaan saldo CU melonjak menjadi Rp 4,8 juta. Jumlah anggota ikut meningkat menjadi 50 orang. Tahun 2007 melesat lebih pesat. Masing-masing anggota dan kekayaan CU terdongkrak menjadi 150 orang dan Rp 157 juta.<\/p>\n<p>Semuanya itu dicapai lewat usaha bersama mereka. Tak sepeserpun ada bantuan dari pihak luar termasuk pemerintah.<\/p>\n<p>Kedisiplinan anggota memenuhi kewajibannya; menyetor simpanan sebesar Rp 25.000\/bulan dan membayar utang, disitulah kunci keberhasilan membesarkan CU Bima.<\/p>\n<p>Maksimal Rp 40 juta utang yang akan dikabulkan dan harus dibayar lunas selambat-lambatnya dalam rentang waktu 24 bulan. Besar bunganya 2,4% menurun sesuai dengan sisa pinjaman.<\/p>\n<p>\u201cSebanyak dua kali kami para pengurus akan memperingatkan setiap anggota yang mengutang jika lalai membayar. Setelah itu jika masih membandel, para anggota lainnya akan mendatangi sampai ke rumah untuk menagih. Anggota sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah demi menyelamatkan uang miliknya. Jika tidak dibayar, uang merekalah yang hilang,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Sebagaimana prinsip kehati-hatian (prudent) yang dijalankan di dunia perbankan, CU Bima juga menerapkan hal serupa meski dalam bentuk yang berbeda.<\/p>\n<p>Untuk pertambahan anggota, proses penerimaannya tak lagi sembarangan. Setiap calon harus terlebih dahulu menghadiri pertemuan transaksi bulanan sebanyak tiga kali. Setelah itu barulah bisa diterima.<\/p>\n<p>Terhitung sejak tahun ini setiap peminjam uang wajib menyerahkan boro atau agunan. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya berdasarkan trust atau saling percaya. Pinjaman yang diperkenankan nilainya sebesar 75% dari nilai boro.<\/p>\n<p>\u201cPrinsip-prinsip perbankan kami terapkan demi memperkuat kepercayaan anggota bahwa uang mereka tidak akan hilang,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Jadi sangat masuk akal kalau saat ini simpanan kekayaan CU berlipat ganda menjadi Rp 1,5 miliar lebih.<\/p>\n<p>Tidak berhenti disitu. Komitmen penguatan ekonomi warga oleh Hadi Cs ditampilkan juga dengan melahirkan unit bisnis baru. Tahun 2007 CU beranak pinak lewat pembentukan Koperasi Serba Usaha Bima. Koperasi ini menampung hasil panen sawit masyarakat sehingga harganya tak lagi didikte oleh para tengkulak.<\/p>\n<p>Tak lama sesudahnya, KSU Bima menjalankan usaha warnet. Mereka memanfaatkan inisiatif pemerintah yang membangun koneksi internet hingga pedesaan melalui program Pusat Layanan Internet Kecamatan.<\/p>\n<p>Sebanyak 12 unit komputer tersedia di warnet untuk disewa warga desa sehingga tak lagi buta internet. Enam unit merupakan sumbangan Dinas Komunikasi dan Informasi, sisanya dibeli dengan pinjaman dana dari CU.<\/p>\n<p>\u201cHanya anggota CU yang bisa masuk menjadi anggota koperasi,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Kini Hadi merasa mimpi awalnya mendirikan CU sudah berhasil digapai. Tak ada lagi keragu-raguan terlebih penolakan warga untuk masuk bergabung di dalamnya. Kesulitan terberat yang dialami saat sebelum berdirinya CU berhasil dilalui.<\/p>\n<p>Dedikasinya yang diperlihatkan dengan mengorbankan waktu dan tenaga hingga membuat perekonomian rumah tangganya sempat terbengkalai akhirnya menghasilkan.<\/p>\n<p>Semula Hadi bekerja sebagai buruh \u201cpocokan\u201d yang bekerja secara serabutan, tidak menetap. Demi berdirinya CU tawaran pekerjaan dari orang yang hendak menggunakan tenaganya ditolak.<\/p>\n<p>\u201cOrientasi berpikir saya ketika itu sepenuhnya ke CU, kalau ditanya memilih keluarga atau CU saya memilih CU,\u201d kata suami Yanti ini mengingat tantangannya di waktu lalu.<\/p>\n<p><strong>British Council<\/strong><\/p>\n<p>Akan tetapi menguatnya perekonomian warga belum menjawab persoalan-persoalan lain yang memberatkan masyarakat Desa Air Hitam. Salah satunya adalah pemenuhan air bersih. Itu sebabnya lahir gagasan baru yakni membuat sarana pengelolaan air sungai menjadi layak guna untuk kemudian didistribusikan ke seluruh warga.<\/p>\n<p>Hadi bersama warga mencoba merancang proyek pembangunan sarana pengelolaan air bersih tersebut. Agar tak menyedot uang milik CU, rencana tersebut ditawarkan ke lembaga internasional British Council yang dikenal aktif mendorong inisiatif-inisiatif pemberdayaan wira usaha di Indonesia dan di dunia.<\/p>\n<p>Ketika itu pada 2010 British Council menyelenggarakan perlombaan Wira Usaha Sosial yang mengundang para pelaku wira usaha dari Sabang sampai Merauke mengajukan gagasan-gagasannya untuk dipilih tiga terbaik. Pemenangnya mendapat hadiah uang dan penghargaan lainnya.<\/p>\n<p>Berangkatlah Hadi ke Jakarta guna mempresentasikan proyek pembangunan sarana air bersih Desa Air Hitam tersebut. Ini adalah pengalaman pertama seumur hidupnya menginjakkan kaki ke ibukota Indonesia tersebut.<\/p>\n<p>Beruntung, dia dan proyeknya menembus posisi 20 besar untuk diuji kelayakannya.<\/p>\n<p>\u201cSaya mengalami kesulitan, terutama di bagian yang harus mempresentasikan dengan bahasa Inggris. Saya gagal masuk ke tiga besar,\u201d kata Hadi.<\/p>\n<p>Ketika kesempatan kedua muncul pada 2011, Hadi kembali mengajukan proyek serupa ke British Council untuk diperlombakan. Lagi, dia berkunjung ke Jakarta untuk presentasi.<\/p>\n<p>Sayangnya kegagalan terjadi lagi. British Council belum berhasil ditaklukkannya.<\/p>\n<p><strong>Mimpi Besar<\/strong><\/p>\n<p>Kembali ke CU. Mimpi \u201cbesar\u201d yang jauh lebih prestisius kini dicanangkan Hadi. Beberapa tahun ke depan Hadi memimpikan CU memperluas keanggotaannya hingga mencapai Sumatera Utara dengan jumlah anggota 100.000 orang.<\/p>\n<p>\u201cSaya juga ingin CU memiliki usaha Bank Perkreditan Rakyat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Langkah menuju terwujudnya mimpi itu secara meyakinkan tengah dilakukan. Sejak Februari 2010 pertemuan transaksi bulanan tak lagi dilaksanakan berpindah-pindah di rumah anggota. Kantor baru berhasil didirikan.<\/p>\n<p>Pertambahan anggota yang serta merta diikuti peningkatan dana yang disikapi dengan perubahan manajemen CU. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi internet. Cara-cara manual diperkuat dengan sistem digital. Itu sebabnya kemana-mana kini Hadi sudah menenteng computer jinjing (laptop).<\/p>\n<p>Terhitung sejak tahun ini CU Bima berubah nama menjadi CU Amarta. Untuk mengenal CU Amarta cukup dengan meng-klik blog-nya www.cuamarta.wordpress.com. yang dibangun sejak 2011.<\/p>\n<p>Dengan mimpi-mimpinya itu, kini Hadi tak lagi berprofesi sebagai buruh pocokan. Sebagai pimpinan CU, sejak 2011 lalu dia sudah mandapat gaji bulanan.<\/p>\n<p>\u201cHidup hanya sekali, kalau mati harus ada bekas pernah hidup di bumi\u201d, dengan CU Amarta Hadi hendak menerapkan motto dalam hidupnya itu.<\/p>\n<p><em>Sumber: www.thepoliticanews.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benarlah kiranya petuah yang mengatakan mutiara itu walau dibenamkan ke lumpur terdalam tetap akan memancarkan kilaunya. Tak ubahnya dengan manusia, dimanapun tumbuh atau besarnya, yang namanya \u201cbibit unggul\u201d pasti akan membawa manfaat besar bagi warga dan lingkungannya. Hadi Siswoyo adalah bukti sahih konklusi bijak tersebut. Tak banyak orang yang tahu Desa Air Hitam yang nun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,201],"tags":[30],"class_list":["post-1127","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ekonomi-rakyat","category-jurnalis-warga","tag-khabar-dari-kampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1127"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1127\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1130,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1127\/revisions\/1130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bitra.or.id\/2012\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}