|

Masyarakat Namo Pinang sejak turun temurun telah mengelola lahan pertanian mereka secara tradisional. Umumnya tanaman yang menjadi sumber penghasilan mereka adalah beberapa jenis tanaman keras yang ditanam di lahan yang sama seperti; durian, manggis, duku, pinang, langsat, kakao dan beberapa tanaman lainnya. Meskipun demikian, tetap saja hasil panen yang mereka dapatkan jauh dari yang diharapkan. Pasalnya penataan dan manajemen kebun yang tidak tepat menyebabkan tanaman-tanaman tersebut tidak bisa berbuah dengan maksimal. Padahal bentuk lahan yang mereka miliki sangat potensial untuk dikembangkan menjadi lahan polikultur.
”Biasanya kami tidak melakukan perawatan yang tepat pada kebun kakao kami. Sehabis kami menanam kakao, maka pohon kakao itu kami biarkan saja sampai berbuah. Hasil panen yang kami dapat pun sedikit, tapi semenjak kami mengikuti sekolah lapang polikultur kakao, kami jadi mengerti bagaimana mengelola kebun kakao. Akhirnya kami dapat meningkatkan produksi kami. Tidak hanya itu, kami juga bisa memperoleh hasil panen dari tanaman selain kakao yang tumbuh dikebun kami” ujar Fransiskus, salah seorang petani pekebun kakao yang mengikuti sekolah lapang polikultur
Polikultur adalah sebuah model pertanian yang ekonomis, ekologis, berbudaya, mampu diadaptasi dan manusiawi. Secara harafiah polikultur berarti model pertanian dengan kebiasaan banyak jenis tanaman pada lahan yang sama. Polikultur bukan berarti model pertanian gado-gado dan bukan pula model tumpang sari, karena model pertanian semacam itu hanya dikenal pada tanaman semusim. Model pertanian polikultur berbasis pada kondisi ekosistem yang lebih stabil dan lebih baik dari tahun ke tahun.
Melihat hal tersebut, Yayasan Bitra Indonesia kemudian melakukan pendidikan mengenai tata kelola lahan polikultur dengan kakao sebagai tanaman andalannya di lahan-lahan pertanian tradisional yang ada di daerah Namo Pinang tersebut. Semenjak Januari 2010 petani pekebun di daerah Namo Pinang mengikuti Sekolah Lapang Polikultur Kakao. Sekolah lapang ini di inisiasi sebagai wadah belajar bersama bagi para petani pekebun yang menjadikan kakao sebagai tanaman andalannya.
”Sekolah Lapang Polikultur kakao ini merupakan wadah belajar bagi petani dampingan Yayasan Bitra Indonesia. Sekolah Lapang ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengelola kebun kakao secara agronomis sehingga bisa mengoptimalkan hasil produksi petani kakao itu sendiri. Model kebun polikultur sangat tepat di terapkan di kawasan Namo Pinang yang merupakan Daerah Aliran Sungai sebab model polikultur ini erat kaitannya dengan konservasi lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Dengan model polikultur ini, petani bisa mempertahankan keanekaragaman hayati dan menghindarkan proses produksinya dari berbagai bahan kimia sintetis yang dapat mencemari lingkungan.” Ungkap Wahyudhi, Direktur Eksekutif Yayasan Bitra Indonesia
Lelang Kakao Bersama
Persoalan kerap dihadapi oleh petani kakao adalah ketidak mampuan mereka untuk menentukan harga. Panjangnya rantai perdagangan dari produsen hingga ke konsumen membuat petani harus berhadapan dengan harga yang cenderung merugikan petani.
”Biasanya kami menjual hasil panen kepada para pedagang yang datang dan menawar hasil panen kami. Mau tak mau kami harus menjualnya. Soalnya pedagang yang datang sering mengatakan kalau harga yang mereka tawarkan sudah sesuai dengan harga umum di pasaran. Apa boleh buat, meski terkadang harga yang diberikan rendah kami tetap menjualnya ketimbang tak laku.” ujar bapak Sembiring, petani kakao di namo Pinang.
Jauhnya akses ke pusat pasar menjadi penyebab macetnya arus informasi perdagangan. Petani mengaku kerap tidak mengetahui tentang perkembangan harga di pasaran sehingga pedagang bisa leluasa menetapkan harga beli dari petani. Selain akses, Anta, Pendamping Lapangan Untuk Pertanian Yayasan Bitra Indonesia mengungkapkan, lemahnya persatuan diantara petani menyebabkan posisi tawar petani menjadi rendah.” Dibutuhkan sebuah persatuan diantara petani kakao untuk bisa menetapkan harga secara bersama dan memangkas rantai pemasaran yang hanya merugikan petani.” Ujar Anta.
Oleh karenanya, Yayasan Bitra Indonesia melakukan pengembangan kapasitas dikalangan petani melalui pelatihan dan pendampingan sehingga petani bisa meningkatkan kualitas mutu dan melakukan pemasaran sendiri hasil produksinya. Selain itu, Yayasan Bitra Indonesia bersama kelompok petani kakao dampingannya, membentuk Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani (KPBUT) yang telah beberapa kali melakukan lelang kakao. Pengurus dan Anggota dari koperasi ini berasal dari kelompok-kelompok tani kakao dampingan Bitra Indonesia.
Kakao yang dilelang merupakan hasil panen dari anggota kelompok yang dikumpulkan dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Kemudian kakao ini dilelang langsung kepada pembeli dengan harga dasar yang ditentukan oleh kelompok. Lelang dilakukan satu kali dalam dua minggu. Dengan adanya pasar lelang ini, petani kakao merasa diuntungkan sebab harga jual yang mereka peroleh tidak serendah dulu. Selain itu, mereka juga telah bisa menetapkan harga. Pada acara lelang kakao tanggal 06 April 2010 misalnya, harga dasar yang ditetapkan petani mencapai Rp 21.300,- sedangkan harga di pedagang pengepul hanyalah Rp 18.000,-
”Sebenarnya lelang kakao ini digagas untuk mendorong petani agar lebih mengenal dan terlibat langsung dalam proses Agribisnis dari produksi kakao mereka. Sering kali petani tidak mendapatkan harga yang baik akibat panjangnya mata rantai perdagangan yang ada. Lelang kakao ini bertujuan untuk memangkas mata rantai perdagangan tersebut. Di lelang kakao ini petani bisa menjual langsung kepada eksportir dengan harga dasar yang ditetapkan oleh petani itu sendiri” Ungkap Wahyudhy, Direktur Yayasan Bitra Indonesia.
|