TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Mantari Bondar, Penjaga Sumber Air Warisan Leluhur

23/12/2020 , , , ,

Jansen Pasaribu (84) tampak membersihkan tali air yang mengairi persawahan Desa Haunatas, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan. (Foto: MM)

Penulis Kontributor Medan: Mei Leandha | Editor: Glori K. Wadrianto

KOMPAS.com – Pagi di Kota Padang Sidimpuan. Sinar matahari yang masih datar menyapu punggung-punggung Bukit Barisan menjadi terlihat membiru seolah memagari kota ini. Sungguh, pemandangan yang memanjakan mata.

Namun kami tak bisa berlama-lama menikmati keindahan itu, sebab kami harus segera bergegas menyelesaikan tugas kami. Ditemani dua kawan dari Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammdiyah Tapanuli Selatan (KOMPEL UMTS) Odi dan Acan, serta Hendrawan Hasibuan, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Advokasi Rakyat (LKAR) Padang Sidimpuan, kami langsung beraktivitas pagi itu.

“Nanti kita melewati sungai, di situ saja kita istirahat dan kalian mandi. Sudah kesiangan kita ini,” kata Hendra menjawab permintaan Odi dan Acan yang ingin mandi sebelum berangkat.

Berbekal dua botol air minum, roti dan kerupuk, kami pun memacu sepeda motor menuju Desa Haunatas di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kami melintasi Tor Simarsayang yang cantik, kebun salak warga yang sebentar lagi panen, Desa Padang Godang, Batu Layan, Poken Jior, Desa Joring Lombang, Desa Pintu Langit, Kecamatan Angkola Jae, dan banyak desa lain, yang hampir semuanya kami tempuh di jalur mendaki.

Jalan beraspal hitam menandakan desa yang akan kami datangi bukan lagi tempat terpencil dan sulit dijangkau, meskipun letaknya di Lembah Gunung Lubuk Raya –gunung tertinggi di kabupaten ini. Meski, beberapa bagian jalan memang masih ada yang rusak berat, berlubang dan belum di aspal, sampai-sampai saya harus turun dari boncengan motor karena licin dan berbatu.

Matahari pukul 10.00 WIB, sudah terasa sangat menyengat. Bersyukur, di kanan-kiri jalan adalah kebun dan hutan, sehingga udara dingin dan sejuk melindungi kami dari terik mentari. Saya sedikit heran saat melewati perkampungan yang sunyi, hanya terlihat beberapa anak-anak bermain di depan rumah, padahal hari ini adalah hari Minggu.

“Ini sunyi karena pada istirahat di rumah atau ke kebun?” tanya saya. “Ke kebun semua, di sini hari libur adalah saat pekan. Di hari itu baru ramai karena dari penjuru kampung berkumpul di satu tempat yang namanya pekan atau poken untuk menjual hasil kebun, dan membeli barang atau kebutuhan untuk satu minggu ke depan. Pekan juga menjadi sarana silaturrahmi. Hari-hari pekan berbeda-beda di tiap daerah,” jawab Hendra.

Hendra memang menjadi pemandu kami dalam perjalanan ini. Dan, kisahnya soal kearifan lokal suatu desa dalam menjaga sumber air yang unik medorong saya datang ke kampung kelahirannya ini.

Kami beristirahat sejenak di sungai dengan batu-batu besar, airnya tidak dalam dan deras. Gunung Lubuk Raya nampak jelas, begitu juga dengan Gunung Sibual-buali di sebelahnya. Kedua gunung tersebut seperti ibu bagi masyarakat Sidimpuan dan Tapsel, dengan status suaka dan cagar alam, menjadi hulu sungai terbesar sumber air dan kehidupan yaitu Batang Ayumi dan Batang Angkola.

Saat hampir tengah hari, kami tiba di rumah Kepala Desa Haunatas, satu dari sebelas desa di Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan. Oloan Tober Pasaribu, ayah dua putri menyambut kami dengan ramah. Kepala desa berumur muda yang sudah enam tahun memimpin 119 kepala keluarga ini merupakan generasi ketiga pembuka desa.

Oppung-nya (kakek) marga Pasaribu dari Desa Haunatas, Kecamatan Balige, Ibu Kota Kabupaten Toba Samosir, merantau lalu membuka Desa Haunatas di Marancar. Tak heran, marga yang mendominasi desa ini dan tiga desa lain yang memiliki kearifan lokal sama adalah Pasaribu. Oloan mengemban tugas memimpin desa setelah ayahnya wafat. “Padahal umur ku masih sangat muda, tapi masyarakat percaya sama ku,” kata Oloan.

Sambil membuka cerita, Oloan menyuguhkan empat botol Aqua ditemani buah durian yang pulen dan ‘lemak’ berbiji kecil. “Baru jatuh, asli tanpa karbit. Sedang musim sekarang, tapi tak banyak,” ucap Oloan.

Mantari Bondar Kemudian berceritalah Oloan tentang desanya yang memiliki aturan adat warisan leluhur berusia seabad lebih dalam menjaga hutan dan sumber air.

“Namanya Mantari Bondar. Mantari atau menteri. Bondar artinya saluran atau aliran air. Mantari Bondar membawahi delapan Penjago Bondar, semuanya di pilih oleh masyarakat. Penjago Bondar tugasnya menjaga hutan dan mengawasi mata air dari kerusakan, serta mengurus aliran air agar tidak tersumbat. Sementara Mantari Bondar, lebih banyak mengurusi sengketa air yang di timbul dengan sanksi adat. Kesembilannya mendapat gaji dari hasil pertanian warga dengan jumlah tertentu. Semua ini sudah berlangsung selama ratusan tahun,” papar Oloan.

Hutan Batang Toru menjadi daerah sumber tangkapan masyarakat Tapanuli, khususnya tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Untuk Kabupaten Tapanuli Selatan, kawasan hutan Batang Toru seluas 29.507 hektare atau sekitar 22,2 persen masuk di dalamnya. Dari jumlah itu, sekitar 3.000 hektare dilestarikan oleh masyarakat yang memiliki tradisi menjaga hutan sejak leluhurnya hingga saat ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari dan mengairi 300 hektare lahan pertanian.

Seperti yang dilakukan empat desa, yakni Desa Haunatas, Bonandolok, Tanjungrompa dan Siranap, yang dikenal dengan sebutan Hatabosi. Sistem pengelolaan dan pembagian saluran air tersebut disepakati masyarakat keempat desa, syaratnya memiliki areal persawahan dan telah diadati dalam pernikahan.

“Kalau keluar dari kampung, maka haknya dalam penggunaan saluran air akan hilang. Tapi dapat dipulihkan jika dia kembali lagi ke desa,” kata Oloan menegaskan.

Apabila terjadi kerusakan pada saluran air, lanjutnya, misalnya salah satu jaringan bondar rusak maka yang akan memperbaiki adalah Panjago Bondar. Namun jika di hulu Aek Sirabun terjadi longsor maka Mantari Bondar akan turun tangan untuk menutup saluran dan meminta masyarakat bergotong royong memperbaikinya.

Sumber dana untuk perawatan dan pengawasan bondar berasal dari masyarakat keempat desa itu sendiri, setiap masyarakat yang menggunakan air diwajibkan membayar dua kaleng padi atau sekitar 24 kilogram setiap tahun. Bagi warga baru dari luar keturunan keempat desa diwajibkan membayar 12 kilogram karet dan tiga tabung padi.

Mantari Bondar akan menjualnya dan uangnya digunakan untuk membeli peralatan seperti cangkul, parang, dan alat-alat yang biasa di gunakan untuk memperbaiki irigasi. Sisanya, disisihkan untuk upah Mantari Bondar. Sementara upah Panjago Bondar diatur Mantari Bondar berdasarkan hari kerja yang dilakukan Panjago Bondar dalam setahun.

“Dari semua kesepakatan itu, paling penting adalah larangan untuk masyarakat empat desa dan masyarakat luar desa agar tidak merusak hutan khususnya di hulu Aek Sirabun dan daerah sepanjang saluran air. Kalau ada yang melanggarnya, akan diadili oleh masyarakat sendiri sesuai aturan yang sudah disepakati, lalu dilanjutkan ke proses hukum negara,” tegas Oloan.

Sementara itu, menurut Jansen Pasaribu (78), Mantari Bondar ketiga sejak desa ini berada mengatakan tugasnya tidaklah ringan. Dia harus berlaku adil dalam setia menyelesaikan masalah pencurian kayu dan air di empat desa yang dipimpinnya. Dia bekerja berdasarkan Deklarasi Kesepakatan yang tertulis tanggal 8 April 1994 ditandatangani seluruh tokoh adat (hatobangon dan harajaon), alim ulama, dan aparat desa.

Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi perambah-perambah hutan dari dalam dan luar desa, dan sebagai pesan moral bagi generasi muda untuk selalu mempertahankan dan menjaga hutan dan sumber air empat desa.

Meskipun sudah dibuat kesepakatan, bukan berarti pencurian kayu di sekitar hulu Aek Sirabun berhenti. 1995, pernah terjadi pencurian kayu yang dilakukan seorang warga desa akibat janji harga tinggi dan bujukan seorang cukong kayu. Masyarakat akhirnya menangkap pelaku pencurian. Tak senang dengan apa yang diterimanya, pelaku lalu membuat pengaduan ke polisi.

Saat itu, Jansen sedang berada di Jakarta untuk urusan keluarga. Sekembalinya ke desa langsung menerima surat panggilan dari polisi untuk dimintai keterangan. Dia memenuhi panggilan polisi, ternyata setelah diinterogasi, Jansen diancam akan dipenjara jika tidak memberi biaya perobatan kepada pencuri itu. Alasan polisi, Mantari Bondar-lah yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa pelaku.

“Aku bilang sama polisi, suruh dulu si pencuri membayar kerusakan hutan sumber air kami. Baru ku kasih biaya perobatannya. Sampai saat ini, kasus itu di anggap selesai, karena polisi paham pencuri kayulah yang bersalah,” kata Jansen.

Kampungan Simaretong

Laki-laki tua bersahaja ini mengatakan, tradisi yang terus dilestarikan warga Hatabosi tak lepas dari sejarah lahirnya Kampungan Simaretong (Desa Haunatas) sekira tahun 1909, jauh sebelum NKRI ada. Leluhurnya adalah empat laki-laki bersaudara Marga Pasaribu, yakni Parbagas Godang, Tarub Ijuk, Tarup Seng dan si bungsu Bonandolok. Keempatnya mendatangi Luat Marancar yang dikuasai Marga Siregar.

Walau terletak di Lembah Gunung Lubuk Raya dan Sibual-buali serta hutan yang lebat, namun air cukup sulit didapat. Kesulitan air inilah yang menyebabkan kampung ini ditinggalkan marga Siregar, lalu diganti marga Pasaribu.

Keempat marga Pasaribu kemudian masuk jauh ke dalam hutan untuk mencari sumber air, hingga sampai di kawasan Hutan Gunung Sibual-buali dengan Aek Sirabun yang airnya mengalir deras, tapi tidak mengalir ke kampung mereka karena terhalang sebuah batu besar.

Pasaribu bersaudara dibantu warga lain lalu memahat batu sepanjang 41 meter selama 14 bulan, akhirnya kerja keras mereka tidak sia-sia. Air mengalir ke kampung dan mengairi sawah serta dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari.

Untuk mengenang sejarah ini, Pasaribu bersaudara menamakan empat kampung yang kini menjadi desa dengan  sebutan Simaretong. Artinya semua urusan antarkeempat desa harus melibatkan dan diselesaikan oleh keempat desa, termasuk pengelolaan sumber airnya. Nama Haunatas adalah untuk mengingat sejarah dari mana mereka berasal.

Setelah berhasil mendapatkan sumber air, Pasaribu bersaudara diizinkan Marga Siregar untuk tinggal di bekas kampungnya. Kemudian mereka membangun desa dekat Haunatas, yaitu Desa Bonan Dolok. Kemudian Desa Tanjung Rompa dan yang seorang lagi berada agak jauh Desa Haunatas, yaitu Desa Siranap.

Lancarnya pengairan di wilayah ini, membuat sawah-sawah Hatobosi bertambah luas dan subur. Untuk mensyukurinya setiap tahun diadakan makan bersama sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang biasa disebut Pesta Gotilon.

“Ini sejarah dan warisan leluhur yang harus dijaga sampai ke anak cucu nanti. Menjaga hutan dan air. Tidak ada air yang dibuang percuma, semua dipergunakan. Sisa buangan rumah tangga dialirkan kembali ke sawah, makanya setiap rumah tangga memiliki tali air di belakang rumah yang langsung menuju sawah,” kata Oppung yang mengaku lupa jumlah cucu tapi ingat memiliki nini (anak dari cucu) sebanyak dua orang ini.

Hendrawan Hasibuan melihat apa yang dilakukan keempat desa dalam menjaga hutan dan sumber airnya sampai saat ini belum diberdayakan secara efektif oleh Pemkap Tapanuli Selatan. Seharusnya dengan upaya swadaya yang dilakukan masyarakat di empat desa tersebut, sudah bisa menjadi tolak ukur pemerintah untuk melakukan dukungan baik secara moril dan materil. Khususnya kepada Mantari Bondar dan Penjago Bondar-nya.

Dukungan moril yang dimaksudkan adalah sebuah penghargaan dari pemkab atas pengabdian yang dilakukan sepanjang waktu hidupnya. Sedangkan dukungan materil, berupa honor untuk Mantari Bondar dan Penjago Bondar sebagai upah dari usaha-usaha yang dilakukan dalam menjaga hutan dan sumber air secara turun-temurun.

Pengelolaan hutan dan sumber air yang dilakukan masyarakat ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain yang berada di dalam dan luar kawasan hutan di Tapsel, sehingga tidak perlu ada kerusakan hutan dan pencemaran sumber air. Semua pihak, khususnya pemkab melalui dinas kehutanan dapat menyosialisasikannya.

Tidak kalah penting, potensi pengelolaan yang dilakukan bisa juga menjadi salah satu isu perdagangan karbon. Sesuai Protokol Kyoto 2012, sudah selayaknya masyarakat setempat yang menjaga hutannya secara turun-temurun mendapat bagian yang sepadan, seperti pelayanan publik.

“Saya hanya mau mengingatkan kembali, bahwa hutan dan sumber air adalah sumber kehidupan anak-cucu kita, pengelolaan dengan cara memanfaatkan harusnya tanpa tujuan-tujuan komersil. Selamatkan hutan dan sumber air jika tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang berdosa dan merugi,” tegas Hendrawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mantari Bondar, Penjaga Sumber Air Warisan Leluhur”, Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2013/01/30/10162859/Mantari.Bondar.Penjaga.Sumber.Air.Warisan.Leluhur?page=all.
Penulis: Kontributor Medan, Mei Leandha

Sumber foto: medanmerdeka.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107