TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

BITRA & Kelompok Tani Usung Pertanian Permakultur Ramah Linkungan & Iklim

28/03/2021 , , ,

bitraorid | 27.03.2021 | Deli Serdang

Kerlompok tani desa Telaga Jernih, Secanggang, Langkat sedang mengolah daun mindi sebagai salah satu campuran pembuatan pestisida nabati.

Meski memproduksi pangan sebagai element asupan yang paling penting bagi kehidupan manusia, namun dunia pertanian konvensional berkontribusi cukup besar bagi pemanasan gobal (global warming), menurut Food and Agriculture Organization (FAO) badan pangan dan pertanian PBB (UN), bidang pertanian dan aktivitas pengelolaan lahannya menyumbang 20,4% terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), di urutan pertama adalah listrik dan sumber panas lain (25%), sedang urutan di bawah pertanian ada aktivitas industri (17,9%), selanjutnya aktivitas transportasi (14%), lalu energi lainnya, sampah makanan, bangunnan dan yang lainnya.

Jadi pertanian konvensional, selain merusak lingkungan juga menyumbang besar (urutan ke 2) terhadap global warming. Karenanya, belakangan waktu muncul konsep alternatif, pertanian polikultur/wanatani/tumpangsari atau sebutan lainnya, polikultur adalah konsep pertanian yang menganut jenis tanaman beragam sebagai koreksi dari model pertanian monokultur (tanaman sejenis dalam hamparan luas) dan polikultur dianggap pertanian yang sangat ramah lingkungan. Namun konsep ini dikoreksi lagi dengan konsep dan praktik pertanian paling baru, yakni pertanian permakultur.

Permakultur merupakan kata serapan yang disadur dari bahasa Inggris, yaitu permaculture, sebagai singkatan dari permanent agriculture. Artinya, pertanian dengan tatanan kehidupan yang lestari, terus menerus, dan permanen. Karenanya, permakultur memegang erat prinsip keseimbangan dan berkelanjutan.

Pertanian permakultur mulai dipelajari BITRA Indonesia sekitar 3 tahun lalu dari lembaga utama pengembang permakultur di Indonesia, yakni IDEP Foundation di Bali. Kini BITRA permakultur pada basis-basis dampingan di pedesaan. Seperti aktifitas yang dilakukan di desa Sukamandi Hulu, Pagar Merbau, Deli Serdang, kemarin, Sabtu 27 Maret 2021. BITRA Bersama kelompok tani dampingan membuat lubang konstruksi biogas dan pakan ikan organik, “pembuatan pakan ikan dilakukan karena di desa ini banyak petani memelihara ikan di kolam, saluran irigasi depan rumah dan lahan sawah, dengan maksud agar petani mengintegrasikan pertaniannya dengan alam dan dapat memanfaatkan limbah kehidupan sekitar, menghasilkan ikan yang sehat untuk asupan gizi bagi keluarga petani dan konsumsi orang lain secara umum, jika ikan yang diproduksi surplus bagi kebutuhan keluarga petani.” Demikian penjelasan panjang Berliana Siregar, Manager Program Community Development (ComDev) BITRA Indonesia pada bitraorid.

Pupuk organik dibuat dari bahan baku utama kotoran ternak warga desa Telaga Jernih, Secanggang, Langkat.

“Aktifitas pertanian permakultur selain sangat baik bagi lingkungan, selaras dengan alam, secara ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan petani dan yang paling penting adalah juga mengurangi ketergantungan keluarga petani pada asupan ikan yang terkontaminasi residu bahan kimia dari pasar luar.” tambah Berliana.

Permakultur memiliki konsep yang serupa dengan konsep pertanian terpadu dan pertanian organik, namun permakultur memberi penekanan pada desain, perencanaan pertanian dan integrasinya dengan implementasi berupa praktek pertanian. Permakultur berangkat dari pemikiran Bill Mollison & David Holmgren (1978) yang meluncurkan pemikiran, “bekerjalah dengan alam, bukan melawannya”. Manusia berperan sebagai desainer untuk kehidupannya sendiri dan memiliki tanggung jawab terhadap masa depannya dan bumi. Prinsip utamanya adalah bertanggung jawab akan eksistensi manusia dan keturunannya, termasuk menjaga keberlangsungan puspa, satwa, dan makhluk hidup lainnya.

Dasar etik dari Permakultur yaitu (1) Peduli akan bumi: bagaimana kita menyediakan semua sistem kehidupan (elemen hidup dan mati) untuk tetap berkelanjutan dan bertambah, (2) Peduli akan manusia: bagaimana kita memperluas akses sumber daya yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup manusia, dan (3) Pengaturan batas konsumsi dan populasi: bagaimana kita mengatur seberapa banyak kebutuhan sendiri, sehingga kita bisa menyisihkan sumber daya untuk masa depan. “Apa yang kita ambil, harus kita kembalikan”, dan “alam membutuhkan pengembalian dari apa yang sudah diterima manusia”, prinsif Mollison ini menjadi kode etik dalam permakultur, sehingga dalam penerapannya harus memiliki perancangan ekologis yang bisa membangun sistem pemanfaatan energi, baik energi yang masuk maupun yang keluar secara efisien.

Sebagai lembaga pemberdaya masyarakat pedesaan, untuk mencapai pembangunan desa dalam bidang pertanian, pada minggu lalu juga, BITRA Indonesia melakukan pembelajaran dan praktik pembuatan asupan organik bagi pertanian permakultur, membuat pupuk organik cair, pupuk organik padat dan pestisida nabati dengan memanfaatkan sumberdaya lokal alami yang berlimpah di desa, seperti salah satunya kotoran ternak dan daun mindi. “Model ini menjadi desain dan praktek paling tepat ditengah usaha tani pertanian yang saat ini menggunakan asupan yang merusak bumi, kesehatan dan masa depan.” Kata Sudarmanto, staf lapangan ComDev, BITRA.

Di tempat yang terpisah, Syaf Advokasi Yayasan BITRA Indonesia, Quadi Azam menyatakan, “bukan hanya belajar teknis pertanian permakultur bersama petani, kita juga belajar dan berdiskusi substansi, menganalisa persoalan besar yang terjadi dan dihadapi petani. Dari praktik-praktik kecil di lapangan, kita bersama coba merangkai bahwa teknik-teknik ini berdampak cukup besar untuk mendorong kedaulatan petani. Teknik lapangan ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan ekonomi petani, menjaga ekologi, kesehatan serta kedaulatan petani itu sendiri.”

“Sementara, proses desain ekologis untuk mewujudkan permakultur dapat diterapkan melalui metode dan langkah SADAR (Survey, Analisis, Desain, dan Rencana) dan TREO (Terapkan, Rawat, Evaluasi, dan Oprek).” Sambung Azam, menjelaskan cara dan langkah-langkah bertani permakultur. (Isw)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107