TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Lobi Kopi di Kafe Toba dalam Training

11/09/2019 , , , , ,

Sembahe | 11 September 2019

Dari jaman kolonial Belanda, kopi sudah menjadi alat untuk meninggikan prestige (gengsi) dalam kehidupan sosial masyarakat. Kopi Arabica dan warung kopi (kafe) adalah alat yang digunakan para elit untuk membedakan dan meninggikan status sosial mereka. Masa itu, di depan kafe, biasanya ada tulisan yang berbunyi “Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk. Ungkapan ini diartikan bahwa (saat itu) bangsa pribumi dan anjing dianggap satu level. Bahkan Noni (perempuan) Belanda yang memiliki anjing sebagai hewan peliharaan juga mengambil seorang pribumi untuk menjaga anjing tersebut.

Sejarah ini menghasilkan budaya dan pemahaman umum bahwa bangsa pribumi adalah masyarakat kelas dua. Seiring waktu, kopi mulai dikonsumsi masyarakat awam. Budaya westernisasi pun mulai merasuki masyarakat Timur. Hal-hal yang bersifat “kebarat-baratan” mulai ditiru. Mulai dari cara berpakaian sampai pada kebiasaan minum kopi.

Demi menjaga prestige eksklusif ini, maka dikembangkanlah jenis kopi baru yaitu kopi jenis robusta yang memiliki harga lebih murah. Ini membuka peluang pasar baru bagi pelaku bisnis. Demikian juga oleh kaum revolusioner, kopi dimanfaatkan untuk mensejajarkan posisi masyarakat secara adil. Hal ini menjadi sebuah simbol semangat perjuangan dan perlawanan pada kaum elit.

Cerita sejarah kopi ini terungkap saat materi pengantar sejarah kopi pada pelatihan “Lobi dan Advokasi Efektif dan Efisien” yang diselenggarakan oleh Toba Coffe Project, BITRA Indonesia bekerjasama dengan Reinforest Alliant, bagi petani kopi dataran tinggi seputar Danau Toba, terdiri dari kabupaten Karo, Simalungun dan Samosir yang diselenggarakan di Training Center Sayum Sabah (TCSS), Sibolangit (9 – 11 September 2019).

“Mengapa penting bagi petani kopi mengikuti pelatihan lobi dan advokasi ini? Karna dalam menjalankan usaha tani kopi, dari hulu hingga hilir, dari on farm hingga off farm, dari tanam hingga menjual atau pemasaran, petani menghadapi tantangan dalam berhubungan dengan berbagai pihak. Kami juga berharap petani akan sangat aktif berpartisipasi dalam mekanisme pembangunan di desa, kecamatan maupun kabupatennya, pasca pelatihan ini.” Demikian disampaikan Restu Aprianta Tarigan sebagai penyelenggara dan Project Manager, Program Kopi Toba Project, BITRA Indonesia.

“Konsep belajar yang dijalankan dalam pelatihan ini menggunakan metode andragogy atau pendidikan bagi orang dewasa, dimana fasilitator dan peserta saling berbagi ilmu dan pengalaman. Untuk memancing keaktifan peserta, bertanya dan diskusi (tanya jawab) maka proses belajar dilakukan dengan santai, tidak kaku, agar peserta mudah memahami materi yang disampaikan fasilitator.” Tambah lelaki yang akrab dipanggil Anta itu.

Dalam pelatihan yang dipandu oleh Hawari Hasibuan sebagai fasilitator, dilakukan inventarisasi masalah petani kopi. Didapatkan daftar masalah, antara lain; secara internal, petani kesulitan kerja pada proses pembersihan lahan, rendahnya kualitas kopi petani. Pada masalah eksternal, rendanya dukungan pemerintah pada petani kopi, minimnya bantuan modal untuk para petani kopi. Sedangkan masalah pada off farm (pasca amen), petani tidak menentukan harga jual, harga kopi fluktuatif (tidak stabil).

Sehingga secara bersama-sama, antara fasilitator dan peserta menyimpulkan bahwa, masyarakat tani belum memiliki kedaulatan. Petani yang berusaha secara mandiri menanam kopi tidak mendapat dukungan penuh pemerintah, bahkan tidak memiliki otonomi menentukan harga pasar yang layak bagi para petani. Fakta lapangan harga kopi ceri saat ini jatuh dikisaran harga Rp 5000,-/Kg.

Beberapa fakta lapangan saat ini, seperti dikemukakan para peserta. “Harga kopi ceri tidak sepadan dengan harga kopi bubuk,” kata Untung. “Sementara, para petani pembuat tuak bisa menentukan harga jual tuak mereka sendiri, mereka sepakat menentukan harga yang seragam bagi semua produsen tuak, ungkap peserta lain, Makmur Pintubatu.

BITRA bersama petani cokelat (kakao) di dataran tinggi Sibolangit, pernah menginisiasi Pasar Lelang, dimana petani cukup berdaulat menentukan harga cokelat mereka, dengan sistem ini. Awalnya, petani coklat menemukan masalah harga jual kakao mereka yang buruk. Masyarakat petani kakao tidak bisa otonom dalam menentukan harga kakaonya. Ternyata hal tersebut dikarenakan mata rantai dagang yang cukup panjang. “Mereka akhirnya mencoba memangkas mata rantai tersebut dengan membentuk organisasi ekonomi (koperasi) untuk menyelenggarakan pasar lelang, dengan mengundang para eksportir dan menawar harga sesuai dengan klasifikasi produk berdasar pada kualitas. Hasilnya kakao masyarakat harganya meningkat Rp 2000,- hingga Rp 3000,- dalam setiap kilogramnya.” Hawari mengungkapkan contoh terobosan kedaulatan harga.

Pelatihan juga melakukan analisis substansi dan struktural terhadap komoditas dan sistem dagang kopi. Secara bersama, peserta dan fasilitator juga melakukan analisis SWOT petani kopi. Apa yang menjadi kekuatan petani, kelemahan, peluang dan ancaman atau tantangan petani dalam operasional sebagai petani kopi.

Peserta juga diajak untuk memetakan kesadaran manusia terhadap sesuatu persoalan. Manusia memiliki 3 kesadaran, yakni; kesadaran naif, dimana ada tipe manusia yang belum sadar dan berikap “tidak tau dan tidak mau tau”, berikutnya adalah kesadaran magis, dimana manusia “tau tapi tidak mau tau” dan yang terakhir adalah, kesadaran kritis, yaitu dimana manusia itu “tau dan mau/ada perubahan menuju perubahan kebaikan”.

Berikutnya dilakukan analisis global kondisi petani secara internasional, apa saja yang menyebabkan petani terpuruk? Seperi pinjaman modal dari bank, tentang revolusi hijau, tentang perusakan massal hutan dan yang lainnya. Dari sini didapatkan kesepakatan bahwa petani akhirnya akan berupaya menjalankan usaha taninya dengan kekuatan swadaya dan pola selaras dengan alam atau organik. Seperti, mengurangi pemakaian dan tidak tergantung pada produk kimia, kembali ke alam, bersuara melawan peraturan yang tidak berpihak pada petani, menjalin kerjasama dengan lembaga yang berpihak, semangat melakukan perubahan, membangun persatuan, mengutamakan produk dalam negeri/hasil dari petani, berupaya memahami permasalahan dasar, menggunakan sumberdaya lokal, menguatkan/menghidupkan kembali budaya/kearifan lokal dan gotong royong.

Pada materi puncak, yakni materi Lobi dan Negosiasi dipaparkan bahwa lobi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Lobi juga tidak hanya dilakukan pada pemerintah. Lobi bisa dilakukan ke sesama petani. Lobi bisa dilakukan di dalam (kepada pihak internal) dan di luar (kepada pihak luar kelompok). Lobi bisa dilakukan keluar dengan cara aksi di jalan atau demontrasi. Lobi juga dilakukan untuk membangun kesadaran atas sesuatu yang belum benar dilakukan.

Sebenarnya, setiap orang pernah melakukan lobi. Misalnya, staf Bitra pasti melakukan lobi ke kelompok dampingannya untuk datang ke pelatihan ini. Petani dari Simalungun pernah melobi untuk mendapatkan traktor besar ke anggota Dewan. Bulan Maret lalu, Ibu Tiamsi Napitu melobi peserta sarasehan BITRA dari beberapa kabupaten untuk memilih Simalungun menjadi tuan rumah atau tempat Sarasehan BITRA tahun 2020. Bapak dari Karo pernah melobi pada proses Musrembang Desa untuk pengadaan sarana produksi kelompok petani kopi.

Selanjutnya, dilakukan praktek lobi dan negosiasi dengan main peran. Peserta ada yang berperan menjadi pihak pelobi, pihak yang dilobi atau berperan menjadi penyemangat atau berperan menjadi fungsi-fungsi lain dalam proses menjalankan lobi.

Di hari ke 3, kegiatan pelatihan diakhiri dengan kata penutupan dari Rusdiana Adi, Direktur Pelaksana BITRA Indonesia. “Saya senang melihat semangat para peserta yang berasal dari daerah yang jauh tapi rela meluangkan waktunya untuk belajar tentang lobi dan advokasi ini. Bahkan, ada peserta yang datang belajar sambil membawa anak. Mudah-mudahan tetap dijaga semangatnya sampai ke daerah masing-masing. Sebaiknya materi yang sudah dipelajari ini dapat dipraktekkan mulai dari level terendah yaitu ke sesama petani, hingga kepada tingkat yang lebih tinggi. BITRA akan mendukung dan mengawali sepenuhnya proses lobi dan advokasi yang dilakukan peserta. (Isw)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107