TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Perlindungan & Pemberdayaan Kedaulatan Benih Petani Lemah!

10/08/2019 , , , ,

Foto: KRKP (kedaulatanpangan.org)

Sebelum, hingga Indonesia merdeka, sistem atau mode petanian kita khususnya petani pangan adalah bercorak budaya pertanian (agriculture), bukan agri-bisnis yang bertumpu pada industri pertanian.

“Sejak dulu sitem budidaya dan perbenihan melekat dalam budaya petani. Namun, sejak revolusi hijau, dilakukan lompatan yang sangat besar dimana pola digeser dengan pola agri-bisnis dan industri pertanian! Sehingga memaksa sistem perbenihan petani semakin lama semakin hilang. Diganti dengan sistem perbenihan formal yang berbasis korporasi dengan paket-paket teknologi yang tidak ramah liungkungan yang bergantung pada herbisida dan pertisida yang mereka tawarkan atasnama mencapai produktifitas, efisiensi guna memenuhi kebutuhan pangan!” Demikian diungkapkan Said Adullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dalam rilis yang diterima bitra.or.id, 10 Agustus 2019.

“Pemaksaan revolusi hijau dengan input kimia tinggi pada dunia pertanian mengakibatkan kerusakan pada alam lingkungan, petani sebagai pelaku pertanian dan budayanya, juga konsumen yang memakan hasil pertanian. Kerusakan tersebut berupa, rusaknya ekosistem lingkungan pertanian, petani semakin tergantung terhadap pestisida dan herbisida. Dan yang paling menghawatirkan adalah hancurnya sistem perbenihan petani.” Tambah Ayip, panggilan akrab Said.

Ayip menerangkan dalam rilisnya, menyangkut pembenihan, saat ini sebagian besar petani tergantung terhadap benih-benih dari luar. Sementara itu, tujuan untuk mencapai swasembada pangan tidak tercapai dilain pihak ekosistem pertanian dan sistem perbenihan petani semakin hancur. Saat ini, tidak banyak petani yang melakukan pemulian dan menyimpan benih-benih mereka untuk mereka pergunakan dalam kegiatan pertanian. Sistem pertanian yang tergatung terhadap input luar yang besar, menyebabkan kegiatan pertanian berbiaya tinggi, sementara hasilnya juga belum memenuhi pemenuhan kebutuhan pangan yang dijanjikan.

“Belanja petani terhadap benih sangat tinggi setiap tahunnya. Berdasarkan luas panen tanaman pangan yang ditanam petani, total luas panen padi  sawah dan ladang 15.494.512, total kebutuhan benih 464.835 ton/tahun, total belanja petani terhadap benih padi 6.97 trilyun/tahun, sedangkan belanja benih jagung Rp 9.4 trilyun/tahun. Kedele Rp 306.17 milyar/tahun, bawang merah Rp 13.29 trilyun/tahun, cabe rawit merah Rp 42.19 milyar/tahun. Saat ini petani hanya dimanfaatkan sebagai obyek dalam perdagangan benih tanpa mempunyai kedaulatan atas benih mereka.” tambah Ayip.

“Kasus penangkapan 14 petani pemulia benih di Kediri, peristiwa yang terjadi beruntut sejak tahun 2014 sampai 2010, ditambah lagi peristiwa yang terbaru, penangkapan Munirwan, petani kecil pemulia benih padi sekaligus Kepala Desa yang kebutulan ditunjuk sebagai Direktur BUM Desa Nisami Indonesia, BUM Desa Bersama dari gampoeng (desa) Meunasah Reyeuk, kecamatan Nisam, Aceh Utara adalah contoh nyata lemahnya kebijakan dalam  perlindungan dan pemberdayaan petani kecil pemulia benih.” Sebutnya.

Ayip menegaskan, meskipun petani kecil selama ini sangat berkontribusi terhadap penyediaan pangan dan penyedian peluang kerja bagi masyarakat di pedasaan. Inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh petani kecil, berupa kegiatan pengumpulan plasma nutfah dan pemuliaan tanaman, baik melalui kelompok tani atau organisasi tani yang diinisiasi oleh petani seharusnya didukung dan diperkuat oleh negara.

Atas keprihatinan terhadap kondisi dan kenyataan yang terjadi ini, Muhammad Rifai, perwakilan dari “Koalisi Kedaulatan Benih Petani”, dimana di dalamnya bergabung berbagai institusi masyarakat sipil Indonesia, antara lain Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Petani Indonesia (SPI), Indonesia Human right Committee For Social Justice (IHCS), Indonesia For Grobal Justice (IGJ), Bina Desa, Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), Kesatuan Nalayan Tradisional Indonesia (KNTI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Field Indonesia, Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHTI), Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Sangat menyayangkan terhadap terjadinya penangkapan petani kecil seperti Munirwan dari Aceh.

Kami dengan tegas! Mengutuk dengan keras pihak-pihak yang memanfaatkan petani kecil untuk kepentingan bisnis benih yang tidak bertanggung jawab dan tidak sesuai dengan semangat kedaulatan benih petani. Kami juga meminta pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian lebih mengedepankan perlindungan dan pemberdayaan petani kecil pemulia benih dari pada kepentingan yang lain. (rel/Isw).

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107