TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Apni Naibaho Petik Untung dari Sayuran Organik

30/06/2019 , , ,

Apni Naibaho (kanan)   |   Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong.

“Kalau kalian cari di Pasar Parluasan atau Pajak Horas di Siantar, kalian nggak akan menemukan sayur organik yang kami produksi”.

Begitu kata Apni Naibaho saat menjelaskan produk sayuran organik yang diberinya nama Siantar Sehat, saat menjadi salah satu narasumber focus group discussion (FGD), yang menjadi bagian rangkaian acara 1.000 Tenda di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Tobasa, Sabtu 29 Juni 2019.

Kepada puluhan peserta FGD, Apni mengisahkan awal mula ia membangun pertanian sayur organik di kampung halamannya.

Ceritanya, setelah lulus kuliah tahun 2004 dan berkarier di Jakarta selama delapan tahun, pada 2012, Apni memutuskan kembali ke Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara untuk mengembangkan pertanian sayuran organik, karena belum ada yang memulainya saat itu.

“Awalnya tahun 2013 saya coba di Simpang Kerang, Pematangsiantar, di lahan satu rante tapi karena petani melihatnya seperti tidak menjanjikan, mereka mengerjakannya dengan setengah hati, akhirnya gagal,” ujar Duta Petani Muda 2016 itu.

Tak langsung berhasil, Apni yang belajar pertanian organik secara otodidak, mengalami kegagalan sampai dua kali. Tahun berikutnya ia mencoba lagi di lokasi yang sama seluas dua rante. Namun, masih gagal.

Dua tahun kemudian, tahun 2015, ia mencoba kembali lahan seluas empat rante di Blok Songo, dengan menanam kangkung, sawi manis dan buncis.

Suatu saat seorang ibu yang punya lahan 200 meter persegi tertarik ingin belajar darinya. Setelah dijalankan, akhirnya berhasil. Dari situlah kemudian gayung bersambut. Sejumlah petani yang awalnya sulit diyakinkan, mulai tertarik.

Selain di Blok Songo, tahun 2016, Apni kemudian mengembangkan pertanian sayur organik di daerah Marihat dan Laras 2, Kabupaten Simalungun yang masih tetangga dengan Kota Pematangsiantar.

“Sekarang sudah jalan dan sudah panen dua kali dalam seminggu. Sekali panen bisa 50 – 80 Kg,” katanya.

Apni menerapkan sistem plasma dengan membina petani bertanam sayuran organik di lahan mereka sendiri. Setelah panen, dia menghitung harga jual dan memasarkannya.

“Awalnya petani bilang, nanti sama siapa dijual? Aku bilang, nggak usah pikirkan bagaimana cara menjual, aku yang akan memasarkannya,” ceritanya.

Ia juga memberi insentif kepada petani yang mau ‘meleles’, mencari sampah di pasar untuk dijadikan pupuk organik. Apni menjelaskan, untuk membuat pupuk organik bahan dasarnya semua mudah didapat.

Antara lain untuk nitrogen, bahan bakunya ampas ikan dicampur dengan gula merah dan difermentasi selama seminggu. Lalu untuk KCL, bahan bakunya serabut kelapa, sedangkan untuk TSP menggunakan cangkang telur dan air kelapa, yang biasa dibuang saat orang beli kelapa santan di pasar.

“Bahan baku pupuknya, semuanya mudah dicari dan sudah tersedia dengan gratis, asal mau aja bekerja dan tak gengsi. Untuk bahan pengomposan misalnya, pergi saja ke pasar mencari sisa buah-buahan untuk dijadikan magot, untuk pengomposan, itu kan tidak bayar, asal mau saja dan mau buang rasa malu,” kata Apni yang tak pernah kuliah pertanian, melainkan ekonomi.

Usahanya kini membuahkan hasil. Melalui pemasaran onlinemenggunakan media sosial seperti Instagram (@siantarsehat), Facebook, ia menjualnya langsung ke konsumen.

“Pasar yang terbesar sampai sekarang itu orang-orang kantoran. Umumnya, orang-orang yang mulai sadar bahaya pestisida,” jelasnya.

Harganya juga relatif terjangkau. “Kalau sayur non-organik dijual di pasar seharga Rp 6.000 per ikat, kami jual Rp 10.000. Rata-rata Rp 12.000 – Rp 18.000 per ikat,” jelasnya.

Pesan Apni kepada anak-anak muda, pertanian sayuran organik bisa jadi pilihan usaha menjanjikan. Apalagi di era digital sekarang, di mana seorang penjual tak perlu harus punya toko. “Yang terpenting ialah produk dan bisa menjaga kualitas,” ujarnya.

Kini, Apni fokus sebagai mobilisator dan marketing. “Dalam hal produksi, sekarang saya serahkan ke petani, saya sekarang fokus memasarkan produk petani,” jelasnya.

Sampai kini, sudah banyak yang memesan produk Siantar Sehat dari luar kota, namun karena keterbatasan produksi, belum bisa dilayani semua.

“Saran saya, kalau ada dari luar kota, sebaiknya dikembangkan di daerah itu saja, karena hasilnya akan lebih baik daripada dikirim dari Siantar. Kita siap bantu mengembangkannya di daerah itu dan mengajari petani membudidayakannya,” kata Apni. []

Reporter: Tonggo Simangunsong.

Editor: Tigor Munte.

Sumber (teks & Foto): www.tagar.id

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107