TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Jambu Madu Teluk, Manis Rasanya, Pahit Nasib Petaninya

08/04/2019 , , ,

Features | Ekonomi Rakyat | Langkat

Siang teramat terik, kala mentari tepat di atas kepala, saat melintas sebuah desa yang berjarak kurang dari 15 km dari laut pada kawasan pesisir kabupaten Langkat. Hamparan pohon jambu hampir menyeluruh terlihat pada kanan kiri jalan di desa ini, terutama jalan yang masuk ke dalam dusun-dusunnya.

“Hampir sembilan puluh persen dari kami, penduduk desa Teluk memiliki pohon jambu madu. Ada yang sekedar tanam di pekarangan rumah, ada juga yang dikebunkan secara khusus,” kata Pak Udin (52 tahun), seorang petani jambu di desa Teluk, Kec. Secanggang, Kab. Langkat yang dinilai masyarakat lainnya cukup maju dan berhasil dalam budi daya jambu madu Teluk.

“Jambu madu Teluk ini punya rasa yang manis dan khas. Terkenal sampai ke negara tetangga. Iklim panas dan tanah lumpur kering yang agak keras ini menjadi faktor utama mempengaruhi rasa jambu menjadi manis dan khas,” terang Saniyah yang akrab dipanggil Nining (49 tahun), petani jambu perempuan dari desa Teluk.

“Waktu diambil (dibeli – Red) oleh tauke yang mengeksport jambu kami ke luar negri, Saya pernah menghasilkan Rp 30.000.000,- hanya dalam waktu 5 Minggu.” Kata Udin yang awalnya menanam jambu madu 100 batang di lahan 4 rante (1600 M²), namun kini, beberapa pohon diantaranya telah mati. “Saat jambu kami dibeli eksportir tersebutlah Saya berani menyekolahkan anak kedua kami ke Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.” Sebutnya, bangga.

Namun Udin berceritera kisah sedih yang dialaminya dan para petani jambu, kini. “Sejak harga tiket pesawat naik akhir tahun 2018 lalu, harga kargo udara juga naik. Para pengekspor berhenti mengirim jambu ke luar negeri.” Keluhnya. “Kini jambu madu Teluk dipasarkan hanya pada pasar lokal, paling jauh luar propinsi. Sumatera Barat adalah pasar terjauhnya. Belakangan waktu, harga tiket pesawat turun, namun harga kargo udara masih tetap tinggi, jadi para tauke masih belum ada yang memulai ekspor kembali,” terangnya.

“Sekarang, pengepul membeli ke petani paling mahal hanya Rp 14.000,- perkilogram,” keluh Nining. Beberapa petani jambu yang tergabung dalam kelompok Mandiri, berkumpul di Rumah Pak Udin pada sore itu (Kamis, 4 April 2019). Setelah dilakukan kalkulasi & sedikit analisa, selama masa produktif jambu madu, yakni lebih kurang 5 tahun, petani cuma mendapatkan Rp 155.250,- per pohon jambu dalam setiap 1 kali atau 1 periode hidup pohon jambu madu (5 tahun). Pada penjualan skema ekspor, keuntungan yang diperoleh petani bisa mencapai lebih dari Rp 2.000.000,- per pohon jambu dalam 5 tahun. Perbedaan ini yang membuat para petani jambu madu desa Teluk terpuruk, saat jambu madu Teluk tidak dagi ekspor.

Ketika ditelisik lebih jauh lagi, ternyata ada Rp 8.000,- per kilogram benefit yang diambil agen (pelaku pasar) dengan skema pasar lokal (non eksport). Sementara benefit petani cuma Rp 4,555 per kilogram. “Keuntungan yang diperoleh petani hanya separuh dari yang diterima agen!” Kata Subandi (36 tahun), petani jambu lain desa Teluk yang masih cukup muda. “Padahal petani yang mengerjakan dari awal tanam hingga panen, dari modal lahan/tanah, uang hingga modal tenaga.” Tambahnya. Dari hasil diskusi petani, menghasilkan penghitungan, sedikitnya Rp 2.644.750 (modal uang dan tenaga, minus/tanpa dihitung modal lahan/tanah) yang dikeluarkan petani untuk 1 pohon jambu selama 5 tahun, dari awal tanam hingga berakhir masa produktif pohon jambu madu tersebut.

Diskusi kelompok petani jambu madu Mandiri dari desa Teluk, menghasilkan beberapa kesepakatan awal. Antara lain, petani ingin menguasai atau sekalian berfungsi menjalankan  rantai pasar (pemasaran), bahkan sampai melakukan ekspor. Tentunya hal ini harus didukung oleh banyak pihak di desa, dengan melibatkan Pemerintahan Desa, Badan Usaha Milik (BUM) Desa dan pihak lain yang diperlukan, juga agen dan eksportir yang lama harus direkrut dalam sistem lingkar pemasaran baru ini.

“Kami juga ingin mendirikan koperasi petani jambu, yang keberadaannya dapat di bawah BUM Desa atau koperasi mandiri bagi kelompok petani jambu. Sudah ya Pak… Saya mau permisi, mau nyiram pohon jambu dulu.” Pungkas Udin, pada pukul 17.30 WIB, sambil melangkah ke arah kebunnya. Pohon jambu memang harus disiram setiap pagi dan sore hari agar mendapatkan hasil jambu berkualitas dan lebih baik. (Isw)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107