TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

“Letih Tangan Tak Sebanding Upah Diterima”

01/04/2019 , , ,

Kisah Pekerja Rumahan

Kalimat itulah yang selalu menjadi bayangan pada seorang ibu dan anak yang kesehariannya melakukan perkerjaan rumahan dengan menggunting tali sandal atau selop (dalam bahasa Medan). Mereka melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat dan kegigihan yang luar biasa. Mereka berupaya menciptakan mata pencaharian tambahan dalam keluarga, meskipun belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga secara penuh menjadi mata pencaharian utama. “Jangankan membeli perlengkapan tambahan rumah tangga, membeli perlengkapan kerja dan kebutuhan keseharian saja kadang harus dengan kerja keras yang sangat melelahkan”, ucap Hotnida.

Mereka adalah Hotnida (55 tahun), ibu dan  Hotma (27 tahun), anak. Keduanya memiliki nama yang hampir sama, yakni didahului dengan 3 kata yang panas (hot: dalam bahasa Inggris). Mereka berdua terus merajut tali satu demi satu untuk merangkai selop agar kuat dan bertahan lebih lama. “Tali selop perlu digunting atau dirapikan karena cetakannya dari pabrik banyak yang meleber keluar dari bentuk tali selop”. Kata Hotma. Mereka mengerjakan pekerjaan ini secara berkelompok di rumahnya sendiri atau di rumah salah satu anggota kelompok pekerja rumahan yang berada di sekeliling tempat tinggal mereka, Perumahan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Selop yang dikerjakan adalah milik perusahaan atau pabrik besar.

Tekad yang sangat kuat, tidak malas dan pantang menyerah jelas semakin terlihat di wajah Hotnida ketika sang anak Hotma bekerja semakin rajin dan sangat keras, walau Hotma adalah disabilitas (penyandang cacat). Pekerjaan dilakukan penuh dengan kegigihan dan keikhlasan oleh anak dan ibu, ini. Suami Hotnida hanya bekerja serabutan (terkadang ada pekerjaannya, terkadang juga tidak), karna itu, perlu dukungan dan upaya lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Jika hanya berdiam dan melihat-lihat saja kebutuhan keluarga tak akan tercukupi,” begitu yang disampaikan Hotnida pada satu senja.

Menjadi pekerja penggunting tali selop, Hotnida beserta dengan ibu-ibu pekerja rumahan lainnya juga harus menyediakan alat pelindung diri (APD) dan peralatan kerja seperti gunting, pisau, dan peralatan pendukung lain yang dibuthkan untuk pekerjaan ini, disiapkan dan disediakan/diadakan sendiri oleh para pekerja rumahan. Namun upah yang mereka terima hanya kisaran Rp 7.000,- (tujuh ribu rupiah) untuk menyelesaikan, merapikan dan menggunting satu karung tali selop! Dalam sebulan Hotnida hanya mampu menyelesaikan 22 karung. Ini berarti Hotnida hanya menerima upah sejumlah Rp 154.000,- dalam sebulan bekerja.

“Terkadang setiap bulan ada saja, diperlukan untuk membeli peralatan baru sebagai pengganti peralatan lama yang telah rusak atau aus, atau uang yang digunakan untuk biaya memperbaiki alat kerja yang akan digunakan dalam menggunting! Jika sudah begitu, bisanya penghasilan dipastikan tidak cukup untuk kebutuhan dasar!” Kata Hotnida yang tidak mengerti akan upah minimal pekerja dalam peraturan dan perundang-undangan. Dia hanya tau bekerja dengan tulus ditengah kehidupan yang begitu keras. Berdo’a dan berupaya adalah bagian yang tak pernah ditinggalkan dalam rutinitas sehari-hari, karena ia meyakini “Yang Kuasa akan datang menengahi kesenjangan ekonominya”.

“Selain upah yang dihasilkan tidak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan menggunting selop membuat tangan kerap terkena bahan kimia. Zat kimia itu menimbulkan bau yang menyengat, tidak sedap dan lengket di tangan, ini terbukti jika saat makan tidak mencuci tangan dengan sangat bersih menggunakan sabun, maka bahan kimia tersebut masih pahit terasa oleh lidah. Terkadang, walaupun tangan sudah dicuci dengan menggunakan sabun dan sikat pencuci tangan, tak jua hilang, pahitnya. Saya bahkan kadang menggosoknya ke lantai hanya untuk menghilangkan bau dan rasa pahit tersebut. Jadinya, luka di tanganpun tak bisa dihindari dan harus membasuhnya kembali hingga menyebabkan rasa perih.” Cerita Hotnida.

Kisah duka Hotnida tak usai sampai disitu, efek dari pekerjaan Hotnida dan perempuan pekerja rumahan lainnya bisa berpotensi menyebabkan terganggunya kesehatan alat reproduksi perempuan. Penyebabnya ketika tangan masih dalam keadaan bau dan mengandung bahan kimia, mereka kadang langsung membasuh kelaminnya setelah membuang air kecil dengan tangan yang baru siap bekerja. Tangan yang harusnya dicuci terlebih dahulu, kadang mereka abaikan, karena terburu-buru, hanya untuk mencapai target kerja sebanyak-banyaknya.

Ditengah-tengah pengalaman pahit Hotnida, ternyata ia memiliki kenangan manis tersendiri ketika Serikat Pekerja Rumahan (SPR) hadir memberikan semangat baru baginya dan pekerja rumahan lainnya. Perumahan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) menjadi terwarnai dengan keberanian dan semangat baru. SPR dengan moto “pekerja rumahan bukan pekerja murahan” memberikan impian baru bagi Hotnida dan sesama pekerja penggunting tali sandal/selop. Ada sekitar 35 orang pekerja penggunting tali selop di sekitaran perumahan TKBM yang telah bergabung dengan SPR. Hotnida merupakan ketua Pimpinan Kelompok Tingkat Kelurahan (PKTK) dan salah satu penggerak pekerja penggunting tali selop di perumahan TKBM.

Sebelum SPR hadir mereka sesama pekerja enggan saling berkenalan, namun ketika mendapat dampingan dan pendidikan organisasi dari SPR mereka baru menyadari betapa pentingnya perkenalan dan persatuan atau dalam bahasa lain adalah konsolidasi.

Sebagai PKTK SPR, Hotnida memiliki tanggungjawab ganda. Ia harus memastikan organisasi yang di pimpinnya terus berjalan sebagaimana mestinya. Termasuk fungsi distribusi informasi dan undangan (pemberitahuan) kepada anggota apabila ada pertemuan.

Hotnida sering menerima curhatan dari anggota lainnya. Ditengah ia harus melakukan rutinitasnya sebagai pekerja, ia juga tak lelah mencarikan solusi dan jalan keluar bagi pekerja lain yang sedang menghadapi masalah dan butuh solusi. “Kadang Saya harus berbagi waktu dengan pekerjaan Saya sendiri sebagai penggunting tali selop, sehingga penghasilan Saya sendiri terkadang malah turun”. Ungkap Hotnida.

Para pekerja yang berada di perumahan TKBM sangat senang dengan program-program yang diberikan SPR sebagai induk organisasinya. “Kami senang mengikuti kegiatan diskusi bulanan, pertemuan rutin, dan pendidikan yang menambah pengetahuan, khususnya bagi kami, perempuan pekerja rumahan penggunting tali selop”. Ujar Hotnida, sekali waktu. Para pekerja rumahan juga belajar memanfaatkan Credit Union (CU) untuk dapat  menabung dan mengumpulkan uang lebih. Gunanya untuk kepentingan mendesak atau keperluan mendadak dapat memanfaatkan uang CU tersebut sebagai peringan beban.

Features: Diana Silalahi (Organisir Pekerja Rumahan pada Program MAMPU – BITRA Indonesia).

Editor: Quadi Azam /Isw

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107