TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Penerapan Stuktur & Konstruksi Bambu Pembangunan Embung Desa Cibunar

24/01/2019 , , ,

Tulisan Pertama dari Tiga Tulisan, oleh Aa Subandoyo[1] Yogi Sugiarta[2]

  1. PENDAHULUAN.

Dalam banyak referensi pengertian ‘Pedesaan’[3], adalah daerah pemukiman penduduk yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, iklim, dan air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris penduduk di tempat itu. Jadi istilah pedesaan dalam pengertian diatas lebih berorientasi kepada pola kehidupan agraris berbasiskan kondisi lokal suatu desa.

Kata kuncinya ; ‘Agraris dan kelokalan’, seiring dengan kemajuan zaman membutuhkan sentuhan-sentuhan yang lebih bersifat inovatif. Secara sederhana, inovatif bisa diartikan sebagai bagaimana bisa mengembangkan ide maupun gagasan yang berbasiskan kelokalan, kemudian menjadi sebuh karya yang memiliki manfaat bagi pelaku atau masyarakat agraris.

Dalam banyak karya tulis inovasi dalam dunia pertanian sering dikaitkan dengan istilah pembangunan pertanian visioner dan terintegratif dengan kejelasan tata ruang nasional melalui pembaruan agraria, infrastruktur, pola pengusaha pertanian, kelembagaan pertanian, riset dan teknologi tepat guna[4].

Dalam tulisan ini, tanpa bermaksud mereduksi konsep pembangunan pertanian visioner, hanya akan membahas masalah infrastruktur yang dikaitkatkan dengan penerapan teknologi inovatif.

Salah satu infrastruktur pertanian untuk mengatasi pengairan persawahan adalah pembangunan embung air merupakan Upaya water harvesting (pemanenan/pengumpulan air) yang dibarengi dengan memperbesar daya simpan air tanah akan dapat menjaga pasokan sumber-sumber air untuk keperluan pertanian dengan lebih memanfaatkan limpahan air hujan dengan membangun embung (onfarm reservoir).

Embung atau tandon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi (high added value crops) di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang. Embung merupakan salah satu teknik pemanenan air (water harvesting) yang sangat sesuai di segala jenis agroekosistem.  Di lahan rawa namanya pond yang berfungsi sebagai tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan dan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau.

Data Kementerian Desa menyebut, dari total 15 ribu desa prioritas pembangunan saat ini terdapat 7.440 desa yang sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur air untuk mengairi area persawahan. Pertanian adalah bidang utama yang menghidupi desa-desa itu. Sehingga pembangunan embung menjawab persoalan sebagian besar desa.

Embung desa adalah salahsatu dari empat prioritas pemanfaatan dana desa yang diprogramkan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Hal ini juga telah dipertegas oleh peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2017 Soal Prioritas dana desa 2018.

Hanya dalam beberapa bulan prioritas ini dikampanyekan, sudah 628 embung yang terbangun di berbagai desa se-Indonesia. Ini menunjukkan betapa embung memang sangat dibutuhkan.

Salah satu desa yang akan memanfaatkan dana desa untuk pembangunan embung air adalah Desa Cibunar.

Sesuai dengan namanya yang terdiri dari dua kosa kata yaitu Ci dan Bunar. Ci dalam terjemaahan bahasa Indonesia berarti mata air, yang mana secara letak geografis Desa Cibunar memiliki banyak mata air yang muaranya di sungai Cimanuk. Sedangkan Bunar merupakan nama pohon bamboo. Secara singkat dapat dibayangkan adanya sumber-sumber air yang dilingkupi oleh pohon-pohon bambu. Walaupun sejak tahun 1990-an tumbuhan bambu mulai berkurang karena perubahan lahan menjadi area pemukiman.

Secara Geografis Desa Cibunar terletak di Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut, yang memiliki batas-batas ; Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukabakti Kecamatan Tarogong Kidul, Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul, Sebelah timur dengan Desa Muara Sanding Kecamatan Garut Kota, Sebelah Selatan dengan Desa Mangku Rakyat Kecamatan Cilawu

Area Pertanian di Desa Cibunar mendapatkan suplai air dari Daerah Irigasi (D.I) Cikamiri, yang mana, kemampuan mengairi sepanjang tahun dari Irigasi Tekhnis tersebut hanya ± 30 % dari lahan pertanian. Sementara lahan lainya adalah lahan tadah hujan,  yang mana ketika musim kemarau datang, hampir 70% area pertanian di Desa Cibunar gagal panen.

2. MENGAPA EMBUNG AIR CIBUNAR

Setidak-tidaknya ada tiga hal utama yang mendorong perlunya pembangunan embung air di Desa Cibunar; Pertama; Disatu sisi dengan melihat kesejarahan Desa Cibunar pernah menjadi pemasok air baku ke Garut Kota, sementara disisi lain pada kenyataanya 70% area pertanian tidak mendapat pasokan air, artinya ada persoalan infrastruktur pertanian yang harus diperbaiki dengan cara membangun embung air. Kedua ; Secara aspek program dan pembiayaan, pembangunan embung merupakan salah satu prioritas pemanfataan dana desa yang sedang gencar dikampanyekan melalui kementrian terkait. Ketiga ; Desa cibunar menggagas suatu pembangunan embung yang inovatif dengan memanfaatkan bambu sebagai material utama konstruksi embung, dimana potensi ketersedian bambu  di Desa Cibunar terbilang cukup banyak, artinya ada upaya memanfaakan potensi lokal untuk menghasilkan teknologi konstruksi bambu yang inovatif.

[1] Penggiat Teknologi Informasi Pedesaan tinggal di Desa Cibunar

[2] Penggiat Teknologi Bambu Tinggal di Desa Cibunar

[3] Disadur dari: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), https://kbbi.web.id/desa, dalam konteks cibunar, pengertian ini bisa digunakan, namun dalam konteks perdesaan wilayah pesisir atau perdesaan industry, pengertianya perlu penambahan dan atau penyesuaian orientasinya.

[4]  INDUSTRY.co.id – Bogor – Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sunarso mengusung sembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan integratif di era industri pertanian 4.0 dan mengimbau kalangan milenial para sarjana pertanian dapat mengambil peluang tersebut di era makin berkembangnya teknologi digital.

Kesembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan terintegratif  yaitu kejelasan tata ruang nasional melalui pembaruan agraria, infrastruktur, pola pengusaha pertanian, kelembagaan pertanian, riset dan teknologi tepat guna. http://www.industry.co.id/read/46299/usung-sembilan-konsep-sunarso-dorong-pembangunan-industri-pertanian-40-visioner-terintegratif

Sumber (teks & foto): https://klipaa.com/story/429-teknologi-pedesaan-penerapan-struktur-dan-konstruksi-bambu-pada-pembangunan-embung-desa-cibunar

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107