TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

BUM Desa Alat Pengurangan Kemiskinan & Pemenuh Kebutuhan Dasar Warga

10/07/2018 , , ,

Gagasan Riset

Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) merupakan lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintahan desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa. BUM Desa merupakan pilar kegiatan ekonomi desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) dan komersial (commercial institution).

Sebagai lembaga sosial BUM Desa juga berperan dan berpihak pada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai lembaga komersial bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran sumber daya lokal ke pasar.

Sebelum UU No 6 tahun 2014 tentang Desa lahir, pendirian BUM Desa dilandasi oleh UU No. 32 tahun 2004 jo UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, serta PP No. 72 tahun 2005 tentang Desa. Baru kemudian UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa lahir sebagai landasan induk pengaturan berbagai hal tentang desa.

Dalam UU No 32 tahun 2004 juncto UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 213 ayat (1) disebutkan bahwa, “Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa”. Dalam pasal 1 angka 4 Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 39 tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa, BUMDes diartikan sebagaimana yang berbunyi: Badan Usaha Milik Desa, yang selanjutnya disebut BUMDes, adalah usaha desa yang dibentuk/didirikan oleh pemerintah desa yang kepemilikan modal dan pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat.

Sementara dalam UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, Pasal 87 ayat (1) berbunyi, “Desa dapat mendirikan Badan Usaha Milik Desa yang disebut BUM Desa,” dan ayat (2) yang berbunyi, “BUM Desa dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotong-royongan,” dan ayat (3) berbunyi, “BUM Desa dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Potensi yang dimiliki BUM Desa sebagai lembaga usaha mandiri masyarakat desa dalam memberikan kesejahteraan masyarakat desa sendiri.

Agar rakyat pedesaan dapat mengembangkan potensi, sehingga tidak dirugikan dan lebih diuntungkan, maka diperlukan arus balik dalam pemerataan sumber daya alam dan kebijakan. BUM Desa yang didirikan dengan tujuan sebagai penopang atau penguat ekonomi desa.

Membuktikan 2 hal penting dalam fungsi BUM Desa, yakni fungsi social institution dan fungsi commercial institution, BITRA Indonesia melakukan sebuah kajian ringan dengan sifat deskriptif riset untuk melihat dan mengurai bagaimana BUM Desa sebagai lembaga ekonomi masyarakat di tingkat desa mampu mengurangi angka atau bahkan menghapuskan kemiskinan di desa (reducing village poverty). Dan juga melakukan kajian terdahap BUM Desa yang digunakan oleh Pemerintahan Desa sebagai pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (warga) desanya akan kebutuhan mendesak (terkait hajad hudup dan kebutuhan dasar) sebagai bentuk pelayanan umum atau dapat juga disebut dengan istilah lain social enterpreneurship.

Pertanyaan yang di bangun dalam penelitian ini adalah, “sejauhmana BUM Desa Tajun, Kec Kubutambahan, Buleleng, Bali melakukan pemberdayaan sehingga dapat berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan di desanya dan bagaimana BUM Desa Lentera, Desa Ledang Nangka, Kec Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjalankan fungsi social enterpreneurship, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat desanya”.

Riset dikonsentrasikan pada arah kebijakan, strategi dan praktik BUM Desa terkait fungsi sosial dan komersial, pengurangan kemiskinan, fungsi sosial pemenuhan kebutuhan dasar, peran supra desa, penerapan terhadap aturan, inovasi dan terobosan yang dilakukan BUM Desa.

Secara umum, penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan sejauhmana BUM Desa Tajun melakukan pemberdayaan dan akhirnya dapat berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan di desanya dan bagaimana BUM Desa Lentera menjalankan fungsi social enterpreneurship, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat desanya.

Diharapkan riset ini dapat bermanfaat bagi pengguna, terutama BITRA Indonesia “memetik” atau mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan BUM Desa untuk pengurangan kemiskinan dan pelayanan kebutuhan dasar yang dapat “ditransformasikan” pada masyarakat pengelola BUM Desa, khususnya di Sumatera Utara guna melakukan replikasi untuk kemajuan Desa. BITRA Indonesia dapat mendorong salah satu daerah (kabupaten) di Sumatera Utara, menyusun kebijakan daerah (berupa Perda atau Perbup) berdasar pada prinsip dan substansi baik yang didapatkan dari studi ini.

Diharapkan juga bahwa riset ini secara umum dapat bermanfaat bagi keilmuan, BITRA Indonesia dapat berkolaborasi dan bersinergi dalam forum-forum ilmiah akademik dan para ilmuwan, khususnya di Sumatera Utara untuk mendesiminasikan pengetahuan bentang BUM Desa yang di dapatkan agar para ilmuwan mengambil peran dan fungsi akademik dalam menguatkan BUM Desa. Dan bertambahnya khasanah referensi keilmuan mengenai BUM Desa yang dapat disebar luaskan sebagai contoh baik untuk direplikasi.

Manfaat bagi peneliti. Peneliti, akan menggunakan pengalaman dan pengetahuan dari desa/tempat yang dikunjungi sebagai referensi bagi proses pendampingan BITRA pada masyarakat dalam rangka membangun BUM Desa yang baik.

Deskripsi Lapangan & Pembahasan

Undang-Undang Desa dan aturan turunannya, memberikan keleluasaan jenis usaha yang akan dikelola BUM Desa. BUM Desa tidak hanya sebagai institusi komersial (bisnis) semata, tetapi juga sebagai institusi sosial yang tujuan akhirnya dapat berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan dasar warga dalam kerangka kesejahteraan masyarakat. Disayangkan, kedua fungsi ini belum banyak dibahas dalam Peraturan Pemerintah, Permendesa maupun kajian-kajian akademik. Pemahaman terhadap BUM Desa yang harus menghasilkan profit akan mengarahkan pada pilihan jenis usaha yang dapat menghasilkan keuntungan semata. Hal ini akan menjadi trade off (mengorbankan aspek lain) bagi keterlibatan dan partisipasi warga dalam pengelolaan dan manfaat dari usaha yang dipilih BUM Desa.

BUM Desa didirikan dengan tujuan sebagai penopang atau penguat ekonomi desa, agar rakyat pedesaan dapat mengembangkan potensi, sehingga tidak dirugikan, namun malah lebih diuntungkan, diperlukan arus balik dalam pemerataan sumber daya alam dan kebijakan.

Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) merupakan lembaga usaha desa yang kepemilikan modal dan pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintahan Desa dan masyarakat dalam upaya memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi yang tersedia di desa, sesuai landasan konstitusional yang tertera dalam pasal 87, ayat 1, 2, 3, UU No 6 tahun 2014 tentang Desa. BUM Desa merupakan pilar kegiatan ekonomi desa yang berfungsi sebagai lembaga komersial (commercial institution) yang bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran sumber daya lokal ke pasar antuk memenuhi kesejahteraan masyarakat desanya. BUM Desa juga berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) yang berpihak pada kepentingan pemberdayaan masyarakat melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial.

Studi dokumentasi, informasi dan komunikasi telah dilakukan sebelum riset lapangan dilakukan dalam pra riset untuk mencari tau atau mendalami kriteria contoh BUM Desa yang dapat dipetik pelajaran untuk penerapan sebagai contoh baik. Hasil riset menggambarkan, terdapat masing-masing ciri khusus dan kekhasan pada 2 BUM Desa yang diriset deskriptif.

Satu BUM Desa pada desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, berdiri tahun 2010 dengan modal awal 10 juta rupiah, lalu (laporan pencacatan keuangan terakhir, saat riset dilakukan tahun 2017) angka aset dan omset BUM Desa Tajun sebesar 13,65 milyar rupiah.

Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan BUM Desa Tajun menurunkan kemiskinan desa 39% selama 6 tahun (tahun 2011: 289 KK miskin dan tahun 2017: 176 KK miskin), dengan standar kemiskinan desa tinggi, lebih tinggi dari standar kemiskinan nasional.

Faktor tersebut antara lain, visi, misi dan tujuan BUM Desa sangat sejalan dengan visi, misi, tujuan dan arah kebijakan strategis desa, mislanya: dalam Visi BUM Desa: “Mewujudkan kesejahtreraan masyarakat Desa Tajun melalui pengembangan usaha ekonomi dan pelayanan sosial, dengan moto Mari Bersama Membangun Desa”, sejalan dengan visi desa: “tumbuh kembangkan potensi desa menuju desa Tajun yang gemah ripah loh jinawi”.

Pada Misi BUM Desa: “Pengembangan usaha ekonomi melalui usaha simpan pinjam dan usaha sektor riel, Pengembangan layanan sosial melalui sistem jaminan sosial bagi rumah tangga miskin, pemgembangan infrastruktur dasar perdesaan yang mendukung perekonomian perdesaan, mengembangkan jaringan kerjasama ekonomi dengan berbagai pihak, mengelola dana program yang masuk ke desa bersifat dana bergulir terutama dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pengembangan usaha ekonomi perdesaan”, sangat sesuai/sejalan dengan misi desa: “Mengembangkan potensi desa untuk membangun menuju masyarakat sejahtera, mendorong pembangunan dengan menggali potensi desa dengan konsep tri hita karana, menumbuhkan perekonomian desa dengan pengembangan potensi desa, mengaktifkan sumber daya manusia (SDM) untuk membangun dengan mengembangkan potensi desa, meningkatkan mutu pendidikan dengan mengembangkan potensi desa.

Singkronisasi visi misi BUM Desa dengan visi misi desa ini didukung oleh pemikiran yang kuat dan kepemimpinan desa yang juga sangat kuat. Kepala Desa Tajun punya prinsip yang harus dimanifestasikan dalam konsep ekonomi desa Tajun, yakni: “jangan sampai ada uang ke luar dari desa, dan harus terus mengupayakan uang masuk ke desa” (Ir Gede Ardhana, Perbekel Tajun).

BUM Desa Tajun juga berkontribusi besar terhadap kualitas hidup warga dan peningkatan kesehatan, pada tahun 2017 catatan kesehatan desa menunjukkan, angka kunjungan pasien (warga) ke Puskesmas desa rendah, angka harapan hidup lansia tinggi (kini 71 tahun ke atas), angka kematian ibu dan anak 0% dari 65 orang ibu/anak tahun 2017.

Dalam sistem kerja BUM Desa, melibatkan perangkat desa seperti Kepala Dusun (Kadus) pada beberapa mekanisme untuk keamanan dan kelancaran unit usaha yang dijalankan. Hal ini juga dikonversi dalam bentuk kompensasi dari BUM Desa kepada desa, berupa kontribusi dalam bentuk Dana Pembangunan Desa sebesar 25% dari sisa hasil usaha (SHU) tahun 2017, pada tahun 2018 sebesar 760 juta rupiah. Dalam mekanisme keuangan desa, SHU BUM Desa ini menjadi Pendapatan Asli Desa (PAD)/Badan Kredit Kecamatan (BKK)/Desa dan dimasukkan dalam Penghasilan Tetap (Siltap) desa. Dalam penganggaran desa (APB Desa) anggaran tersebut dibagi, diperuntukkan sarana olahraga, jaminan kesejahteraan (warga dan Kadus), subsidi TPSP dan untuk budaya/agama sebesar 30%, pemberdayaan warga desa 30% dan pendidikan warga desa 40%.

Pemerintahan Desa bersama BUM Desa Tajun cukup cerdik, interaktif dan persuasif terhadap 59 kios dan 28 lapak pasar yang tergabung dalam Pasar Desa ini agar bergabung ke dalam (menjadi) unit usaha BUM Desa dan pengembangan dengan menjadikan Pasar Desa ini jadi Pasar kebutuhan utama bagi 5 desa tetangga, sehingga pasar berkembang dan perputaran uang meninggi.

Kepercayaan warga kepada BUM Desa sangat tinggi, sehingga ada warga yang sanggup menabungkan uangnya 1 milyar rupiah untuk BUM desa. BUM desa Tajun juga punya BUM Desa dampingan/asistensi desa tetangga, yakni desa Mengening.

Pemerintah kabupaten berperan secara maksimal dalam perkembangan dan kemajuan BUM Desa yang ada di Kabupaten Buleleng. Peran-peran tersebut bersifat regulatif, supporting/fasilitatif dan mediatif, antara lain: peningkatan kapasitas, wawasan, singkron antar desa & LPD, pebuatan regulasi, juknis tata kelola BUM Desa, penyedia aplikasi BUM Desa, mediator pertemuan antar pihak, fasilitasi jaringan pengembangan & mitra.

BUM Desa dijadikan alat komprehensif oleh Pemerintahan Desa Tajun untuk mengintervensi pemberdayaan masyarakatnya dari semua sisi kehidupan (adat, budaya dan agama), yang bermuara pada hasil akhir, pengurangan kemiskinan yang signifikan di dalam desa Tajun.

Faktor lain adalah, budaya, kebiasaan, adat istiadat dan agama masyarakat Bali sangat mendukung perkembangan usaha yang dijalankan BUM Desa. Semua unit usaha yang dijalankan BUM Desa berdasar pada masalah yang dihadapi oleh umumnya warga desa dan juga berdasar pada potensi umum yang dimiliki warga desa (baik potensi SDA maupun SDM).

Peningkatan dan kemajuan di desa-desa yang ada di Bali memberi sumbangan sangat berarti bagi propinsi yang kini masuk dalam peringkat lima di Indonesia, melampaui angka rata-rata indeks pembangunan manusia (IPM) nasional dengan angka 68,90, Propinsi Bali mencatatkan angka IPM 73,65 tahun 2017, 73,27 tahun 2016 dan 72,48 tahun 2015 (rata-rata pertumbuhan IPM tiap tahun 0,58). Begitu juga angka pengangguran di Bali, tercatat paling rendah di Indonesia, jumlahnya hanya 1,48 persen dari total penduduk Bali sekitar 4,2 juta jiwa.

Geliat pertumbuhan ekonomi yang hangat tinggi di desa Tajun, menarik perhatian pemuda desa yang merantau ke kota atau daerah yang jauh, hampir 99 persen pemuda desa yang merantau telah pulang kembali ke desa dalam waktu5 tahun terakhir ini. Desa juga melakukan upaya dan kampanye gerakan pulang ke desa ini. Pemuda desa yang telah tamat sekolah di kota-kota besar dianjurkan pulang ke desa dan di beri ruang dan empat berkarya sesuai keahlian dan sekolahnya. Termasuk tim yang berkarya dalam BUM Desa Tajun.

BUM Desa Ledang Nangka Sejahtera (Lentera) pada desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, NTB menjadi BUM Desa yang mengutamakan pelayanan sosial memenuhi kebutuhan dasar warga, yakni air bersih yang dialirkan dari sumber mata air dan pengelolaannya dilakukan oleh BUM Desa dengan unit usaha air minum yang diberi nama PAMdes telah mengaliri air bersih pada 788 rumah tangga desanya. Usaha ini didasari pada masalah kesulitan air bersih sebahagian besar warga desa dan tersedianya sumberdaya (sumber-sumber mata air yang berasal dari danau Segara Anak mendekati puncak gunung Rinjani). Hal ini menunjukkan bahwa BUM Desa Lendang Nangka juga membangun unit usahanya berdasar pada masalah warga dan sumberdaya di sekitar yang tersedia.

Tahapan penting pembangunan dan operasional unit air bersih (PAMdes) BUM Desa Lentera adalah:

  • Tahap Perencanaan. Meliputi: Perencanaan teknis, Perencanaan penghijauan & Perencanaan kelembagaan.
  • Tahap Pembangunan. Meliputi: Pembangunan Bak Penampungan, Pemasangan pipa dan water meter, Kelembahaan pengelolaan air bersih & Musyawarah dan gotong-royong.
  • Tahap Operasional. Meliputi: Mengalirkan air ke rumah warga, Pencatatan penggunaan air, Pembayaran jasa & Pengelolaan keuangan badan usaha.
  • Tahap Pemeliharaan. Meliputi: Menjaga sarana air bersih & Pemelihaaan mata air.
  • Tahap Monitoring dan Evaluasi. Meliputi: Pertemuan rutin informal & Laporan keuangan BUM Desa.

BUM Desa dijadikan motor penggerak mengelola potensi yang dimiliki Desa Lendang Nangka. Melalui BUM Desa digagas pengembangan berbagai kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat desa. Seperti, dicetuskannya program: Mengelola sampah menjadi pupuk organik, Pengelolaan mata air jadi perusahaan air minum desa (PAMDes), Koperasi simpan pinjam dan Usaha penyewaan alat dan mesin pertnian (alsintan).

Distribusi pendapatan PAMDes dibagi atas: Kas desa, Rumah ibadah (masjid), Dikembalikan untuk modal (biaya operasional) PAMDes dan keuntungan bagi BUM Desa Lentera.

10 poin utama yang menjadi kunci kesuksesan BUM Desa Lentera adalah:

  • Mengedepankan musyawarah dan gotong-royong.
  • Dukungan yang sangat kuat dari masyarakat.
  • Komidment Pemerintah Desa dan Kabupaten yang konsisten.
  • Kreatif dalam memanfaatkan momentum-momentum yang sedang berlangsung.
  • Adanya ketokohan yang dipercaya oleh masyarakat sebagai pengelola BUM Desa.
  • Melibatkan rumah ibadah dan aktivitas keagamaan sebagai sarana komunikasi.
  • Memberikan fasilitas cicilan instalasi water meter kepada masyarakat miskin.
  • Mengedepankan layanan distribusi air bersih yang merata.
  • Transparansi dalam pengelolaan keuangan dan kegiatan.
  • Memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi dan sumberdaya yang sudah ada.

Saran & Rekomendasi

Meskipun tidak sempurna. Banyak sekali pembelajaran yang dapat dipetik dari riset sederhana dan singkat ini. Karena tempat studi adalah BUM Desa – BUM Desa terbaik pada bidangnya, yakni bidang pengentasan kemiskinan desa melalui pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan desa secara komprehensif dari segala sisi dan BUM Desa yang menjadi fungsi sosial dengan menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang menjadi masalah utama, sebelumnya, ini merupakan problem solving yang dilakukan menggunakan sumberdaya alam yang tersedia di sekitar.

Mengingat banyak sekali BUM Desa di Sumatera Utara yang belum memaksimalkan kinerja dan gagasannya, pendiriannya masih terkesan dipaksa oleh aturan dan undang-undang, cenderung bingung dalam pengelolaan dan pengembangan, maka sebaiknya hasil studi direkomendasikan atau dapat digunakan untuk:

  • Menginpirasi desa-desa dampingan Bitra yang belum mendirikan BUM Desa, agar dari awal pembentukan, lebih ideal dalam pengelolaannya.
  • Mengumpulkan Kepala Desa dan Ketua atau Direktur BUM Desa dampingan Bitra untuk mendengarkan persentase guna mendapatkan pengetahuan tambahan dari hasil studi deskriptif BUM Desa ini.
  • Hasil studi digunakan untuk mengintervensi BUM Desa dampingan Bitra dalam kerangka proyek “Mewujudkan kemandirian desa melalui kebijakan, partisipasi masyarakat dan pengembangan potensi lokal”, kerja sama BITRA Indonesia dengan BfDW.
  • Hasil studi digunakan untuk mereferensi dan media persiasi bagi para pihak (akademisi, perguruan tinggi, pers, intelektual independen, Dll) yang tertarik dengan kemajuan perekonomian desa (terutama BUM Desa).

Laporan & disarikan: Iswan Kaputra.

Search

Arsip

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107