TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia Resmi Berdiri

14/05/2018 , , , ,

Starberita – Medan, Perwakilan organisasi/serikat perempuan pekerja rumahan dari tujuh provinsi yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur secara resmi mendirikan Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia (JPRI) dengan ketua terpilih Lisna Nasution dari Serikat Pekerja Rumahan (SPR) Sejahtera, Sumatera Utara.

Pendirian JPRI ini merupakan hasil konsolidasi nasional selama tiga hari di Medan yang difasilitasi oleh BITRA (Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia) Medan, MWPRI (Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia) Jawa Timur, TURC (Trade Union Rights Centre) Jakarta/Jawa Barat, dan Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) Yogyakarta, serta didukung oleh Program MAMPU.

JPRI didirikan dengan dua tujuan utama, pertama, menjadikan JPRI sebagai cikal bakal serikat pekerja rumahan untuk mempersatukan seluruh pekerja rumahan di Indonesia. Kedua, menjadikan JPRI sebagai wadah dan alat perjuangan pengakuan keberadaan pekerja rumahan se-Indonesia melalui kebijakan perlindungan pekerja rumahan.

Dalam sambutan pertamanya sebagai Ketua JPRI, Lisna Nasution menyampaikan bahwa selama 14 tahun terakhir hubungan kerja fleksibel semakin mendominasi sistem kontrak kerja di Indonesia. Di satu sisi, hubungan kerja fleksibel memperluas kesempatan kerja, namun disisi lainnya menimbulkan persoalan besar dengan terjadinya pergeseran dari kontrak kerja tetap (permanen) ke penerapan hubungan kerja jangka pendek atau temporer.

“Akibatnya perusahaan alih daya bermunculan, baik yang resmi maupun yang tidak. Konsekuensi lanjutan dari kondisi ini adalah berkembangnya sistem hubungan kerja ‘putting out’, dimana terjadi pengalihan sebagian pekerjaan keluar dari perusahaan dan didistribusikan ke rumah-rumah penduduk yang bersedia mengerjakan pekerjaan tersebut dengan dibantu perantara yang mendistribusikan bahan baku untuk kemudian mengumpulkan kembali hasil produksi pekerja rumahan,” papar Lisna, kemarin.

Beberapa agenda kerja awal yang telah disepakati JPRI adalah melaksanakan pertemuan konsolidasi dua kali setahun, menjadi organisasi berbentuk serikat dalam jangka waktu 1 hingga 2 tahun, serta mengupayakan lahirnya kebijakan perlindungan bagi pekerja rumahan.

Dalam melaksanakan agenda kerja tersebut, Lisna pun mengatakan JPRI menyadari pentingnya dukungan dari berbagai pihak termasuk organisasi masyarakat sipil yang telah mengawal pendirian PJRI terutama sekali untuk melanjutkan peningkatan kapasitas anggota JPRI, advokasi kebijakan, pembukaan akses kepada jaringan/aktor/institusi strategis, transformasi dan pengelolaan pengetahuan, serta dukungan sumberdaya.

“Pengalihan pekerjaan kepada pekerja rumahan telah mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi pekerja rumahan termasuk diantaranya status hubungan kerja yang tidak pasti, upah rendah, posisi tawar lemah, kondisi kerja yang buruk, waktu kerja yang tidak jelas, tidak adanya perlindungan jika terjadi perselisihan, fasilitas dan alat kerja yang minim dan berbagai persoalan lainnya,” jelas Lisna.

Sementara di pihak lain, sambungnya, pengusaha dapat menyederhanakan proses produksi dan mengurangi beban/ongkos produksi mulai dari biaya sewa tempat, listrik, alat produksi, upah kerja, jaminan sosial, maupun aturan ketenagakerjaan lainnya yang telah beralih menjadi beban dan tanggungjawab pekerja rumahan. (sbc-05)

Sumber: http://starberita.com/2018/05/11/jaringan-pekerja-rumahan-indonesia-resmi-berdiri/

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107