TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Transformasi Pusat Pelatihan Integrasi Ternak Sapi Organik Hibah dari Jepang

26/09/2017 , , , , ,

Petani alumni pelatihan PPPT sedang praktik memproduksi pupuk kompos/bokasi, di hadapan Bupati dan Komjen Jepang. | Foto: Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.com, SERDANG BEDAGAI – Generasi muda yang meneruskan profesi orang tuanya jadi petani nyaris punah, alasannya kehidupan mereka di desa jauh dari kata sejahtera. Bahkan profesi petani dianggap remeh, padahal peran petanil penting sebagai penyedia pangan.

Perwakilan Konsulat Jepang, di Medan, Tuan Muda Yoko, Daiki Yokoyama, mengatakan telah mengerjakan Proyek Pembangunan Pusat Pelatihan Peternakan Terpadu (PPPT). Hal ini dilakukan untuk menunjang kemajuan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara.

“Kami berharap, pusat pelatihan ini dapat membuat masyarakat lebih baik,” ujarnya dalam kunjungannya di Desa Mangga Dua, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (19/9/2017), setibanya dari Medan.

Katanya, pusat pelatihan ini, bantuannya dihibahkan kepada petani di Serdang Bedagai melalui BITRA (Bina Keterampilan Pedesaan) Indonesia. Proyek tersebut senilai Rp 1 miliar dan diresmikan pada 23 September 2014 lalu.

Latar belakang pemberian dikarenakan, 534 dari 1335 keluarga petani di sana memiliki ternak sapi. Namun minim pengetahuan teknis beternak sapi, awalnya di Serdang Bedagai belum ada fasilitas pusat pelatihan peternakan sapi.

Dampak dari pusat pelatihan ini, saat ini warga telah mengetahui, teknik pertanian dan peternakan organik, hingga pemanfaatan limbah sapi menjadi pupuk dan biogas.

Tak hanya itu, masyarakat dan kelompok tani di sekitar desa tersebut juga kini berperan sebagai fasilitas training dan riset yang dilakukan pelajar dan mahasiswa.

Sarman, petani dari Desa tetangga Mangga Dua, yakni Desa Lubuk Bayas menjelaskan, sebelumnya kandang sapi ternak dari kelompok tani di sana berukuran kurang lebih 24 meter persegi, belum terdapat fasilitas kompos. Berbeda dengan sekarang, setelah kami mengikuti berbagai pelatihan pada PPPT, desa kami telah memiliki kandang sapi  ukuran 60 Meter persegi, dilengkapi fasilitas kompos dan biogas.

Lokasi tanah PPPT ini sebelumnya kosong, luas pusat pelatihan 9.237,75 meter persegi, telah berubah menjadi fasilitas pusat pelatihan, terdiri dari satu hall, empat ruang asrama, satu kandang sapi, empat unit kolam fermentase kompos, satu rumah kompos, satu pondok pakan, satu lantai pengering kompos, 2000 meter hamparan tanaman pakan kingrise, satu tangki biogas dan lokasi PPPT telah menjadi hijau dan rimbun.

Sarman menyadari menjadi petani dengan tanaman pangan sangat penting, terutama bertani secara organik, karena produk dari pertanian pangan organik juga akan menjaga kesehatan konsumen atau orang yang mengkonsumsi, menjadi lebih baik dan sehat.

Ia menilai, pertanian konvensional harus dialih-budayakan. Penggunaan bahan kimia, sintetis atau pestisida harus mulai dikurangi, dan satu saat nanti, tidak lagi digunakan. Agar petani ikut berkontribusi dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Saat ini, Sarman tengah melatih kelompok-kelompok tani lain, agar tidak menggunakan bahan kimia. Petani harus memproduksi bahan pangan dengan berubah dari pupuk kimia menjadi organik. “Ada juga mahasiswa dari Qatar belajar dari kita. Mereka justru tertarik sekali dengan konsep yang kita buat, “tuturnya.

Karena pernah dipublikasikan media dalam bahasa Inggris, Sarman sempat dikontak warga negara Qatar lainnya, meminta agar beras organik produksi kelompoknya dapat diekspor ke Qatar dalam jumlah besar, 25 ton perbulan. Namun, saat ini, permintaan tersebut belum dapat terpenuhi, karna kuota yang diproduksi petani kecil, untuk komsumsi masyarakat Sumut sendiri permintaannya masih cukup tinggi.

Sarman mengakui, untuk merubah mindset petani dari konvensional ke organik memang tidak mudah. Apalagi, sumber daya atau pengetahuan petani saat ini tentang organik juga masih terbatas. “Selain dari Qatar, juga ada permintaan dari Batam 10 ton perbulan, namun kedua permintaan besar tersebut belum bisa saya penuhi. Saya juga harus bekerja keras untuk berkoordinasi dengan rekan-rekan kelompok tani yang ada di Sumatera Utara, agar mereka dapat beralih ke organik dengan pasar yang terbuka begitu besar dan harga mendekati 2 kali lipat dari beras konvensional”, bebernya.

Menurut dia, selain masalah alih fungsi lahan, masalah lain yang dihadapi, petani saat ini seolah kebingungan dan tak lagi punya jati diri sebagai petani. Padahal, budaya dan keahlian yang diturunkan kepada mereka adalah agraris. Selain itu, bertani dianggap tidak menjanjikan. Alasannya, harga produksi yang dijual petani tidak sesuai dengan harga yang diinginkan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup petani. “Inflasi yang terjadi terhadap produk lain tidak seimbang. Contohnya, dalam kurun waktu 10-15 tahun harga beras hanya naik 15 persen. Sementara, komoditi lain macam gula naiknya 40 sampai 50 persen, Ini peluang bagi petani beralih dari konvensional ke organik, dimana harga produknya mencapai 2 kali lipat, sementara biaya produksinya jauh lebih murah, namun harus bekerja ekstra untuk mengolah dan membuat bahan sarana produksinya sendiri,” tuturnya.

Bakti Derita, petani lainnya memaparkan, pupuk organik yang mereka buat dari kotoran lembu jauh lebih baik, bahkan biayanya sedikit. Untuk satu rante mereka hanya menabur 250 Kg. Pupuk Kompos tanpa kimia itu terlihat mereka campur, dengan sekam padi, dedak. serbuk ikan teri, kotoran lembu dan yang lainnya.

Wahyudi, direktur Yauasan BITRA Indonesia, menekankan agar desa tersebut terus berinovasi hingga menjadi desa percontohan. Ia memganjurkan, agar warga terus mempraktikkan budaya organik ini di lapangan, segala bentuk pelatihan yang diselenggarakan akan mempertajam kemampuan petani. “Kearifan lokal sangat mudah dilakukan, karena dia tidak menggunakan bahan mahal, cukup yang ada pada alam sekitar. Apa yang merupakan keleibihan harus terus dikembangkan pada masyarakat,” jelasnya.

Sejauh ini BITRA sudah mendidik 1.585 orang sejak sejak Pusat pelatihan berdiri 3 tahun yang lalu. Baik melalui pelatihan dan program-program kepada seluruh warga desa. Selain ternak dan pertanian organik, BITRA juga mengembangkan program pengobatan tradisional, mengingat kekayaan suku-suku di Sumatera Utara memilikin resep pengobatan tradisional yang turun temurun.

Bupati Serdang Bedagai, Sukirman  mengharapkan agar masyarakat menjalankan segala program secara terintegrasi. Berbagai potensi lainnya juga ia anggap perlu dipikirkan untuk dikembangkan. “Hal yang paling sulit bukan membangunnya menjadi ada, namun ada masalah besar, yakni mengurusnya untuk menjadi baik dan berkelanjutan. PPPT akan tidak ada artinya jika tidak berfungsi dengan baik,” ungkapnya.

Disebutkannya, daerah yang dibangun PPPT ini dulunya memiliki tanah yang kurang subur. Namun dengan upaya dan pola organik, sekarang menjadi hijau, subur dan baik, tanaman pangan hingga peternakan sudah lengkap.

Pada kesempatan itu, dilangsungkan juga kenduri (makan bersama sebagai tanda syukuran) dengan menggunakan daun pisang atas semua peserta yang hadir, yakni SKPD, Bupati dan rombongan Konjen. Kenduri ini merupakan tradisi adat istiadat Jawa, yang disebut “kenduri ternak masuk kandang”, yang berarti memohon agar seluruh tanaman dan ternak di desa ini jauh dari wabah dan akan tumbuh baik sehingga menguntungkan bagi petani. (cr1) 

Laporan wartawan Tribun Medan: Arjuna Bakkara

Sumber teks & foto: http://medan.tribunnews.com/2017/09/25/transformasi-pusat-pelatihan-integrasi-ternak-sapi-organik-di-sergai-hasil-hibah-dari-jepang

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107