TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Menantang Arus Program Ketahanan Pangan

29/02/2016 , , ,
Panen padi organik di desa Lubuk Bayas, Sei Rampah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Panen padi organik di desa Lubuk Bayas, Sei Rampah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Menjadi petani organik di daerah yang petaninya masih menanam padi secara konvensional bukanlah hal yang gampang. Langkah petani organik pun seperti menantang arus besar program ketahanan pangan yang fasilitasnya sudah disediakan pemerintah.

“Dimarahi istri pun, saya pura-pura tuli,” tutur Mulyono (38) petani padi organik di Desa Bingkat, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, dalam temu produsen-konsumen organik di Desa Bingkat yang diinisiasi Lembaga Swadaya Masyarakat Bitra Indonesia, 11 Januari lalu.

Perlu waktu sekitar dua tahun, sebuah lahan pertanian konvensional yang dikonversi menjadi lahan pertanian organik menghasilkan panen yang memuaskan. Selama dua tahun itu hasil panen diprediksi akan turun karena penyesuaian tanah.

Padahal, pengeluaran keluarga Mulyono yang memiliki empat anak tetap, bahkan cenderung naik. Waktu juga habis untuk mengurusi uji coba padi organik sementara hasilnya belum jelas. Maka, tak heran kalau isrinya mengomel. Belum lagi dia harus mengolah pupuk kandang yang membuat badannya bau. Tetangga-tetangganya bahkan mengatakan dia agak gila.

“Kini istri saya sudah bisa tersenyum karena saya tak lagi meminta uang untuk membeli benih, pupuk, atau pestisida,” kata Mulyono. Hasil padinya bagus. Seluruh kebutuhan sawah bisa dipenuhi dari pekarangan dan ternaknya tanpa menganggu uang dapur keluarga.

Bersama Kelompok Tani Sepakat yang beranggota 25 orang di desanya, Mulyono belajar menanam padi organik jenis pandan wangi sejak 2014. Kelompoknya mempraktikkan pertanian ini di lahan seluas 5 rante yang disewa Bitra. Satu rante setara dengan 400 meter persegi. Hasilnya, sebanyak 1,3 ton gabah kering panen (GKP). Pengolahan padi konvensional menghasilkan 1,7 ton GKP.

Meskipun hasil panen lebih rendah, pertanian organik lebih menguntungkan. Harga jual gabah organik mencapai Rp 5.100 per kilogram. Dengan panen 1,3 ton, harga jual gabah menjadi Rp 6,630 juta. Biaya yang dikeluarkan hanya sewa traktor sebesar Rp 150.000, sehingga hasilnya Rp 6,480 juta.

Sementara harga gabah padi konvensional Rp 4.700 per kg. Hasil panen 1,7 ton itu setara dengan Rp 7,990 juta. Dikurangai biaya produksi (benih, pupuk, pestisida, dan sewa traktor) sekitar Rp 2 juta hasilnya Rp 5,990 juta.

Harga beras organik pun lebih baik, yaitu Rp 13.000 per kg, dibandingkan dengan harga beras biasa yang Rp 10.000 per kg. “Setelah ada hasilnya baru saya bisa ngomong,” kata Ketua Kelompok Tani Sepakat Suyanti (45) yang juga membuat Kelompok Tani Sepakat sebagai kelompok kredit union.

Saking giatnya bertanam pada organik, Suyanti juga diolok-olok tetangganya sebagai perempuan yang jorok karena mengurusi kotoran ternak. Tangannya pun penuh luka akibat mencacah bahan pembuatan pupuk organik secara manual karena belum mempunyai mesin pencacah.

Saat satu lubang tanam hanya diisi satu batang bibit padi, tetangganya berkomentar bahwa itu bakal habis dimakan keong. Namun, petani organik mempunyai insektisida organik berupa ramuan pahit-pedas-bau penghalau hama.

Ramuan tersebut terdiri dari campuran kotoran ternak sapi atau kambing yang dimiliki banyak petani, air kelapa, air cucian beras, brotowali, cabai, jahe, kunyit, lengkuas, kapur sirih, sirih, sekam padi, pinang, dan remah-remah ikan. Semua bahan bisa didapat di desa secara gratis. Ramuan itu disiramkan ke padi yang mulai tumbuh, cukup pakai gayung. Wereng, walang sangit, keong, dan berbagai hama tidak mau mendekat.

Sawah juga hanya dipupuk satu kali sebelum ditanami. Pupuk berupa campuran kotoran kambing atau sapi, tanah merah, sekam, dedak padi, remah ikan, cacahan gedebok pisang, dan kulit buah. Campuran bahan-bahan itu ditutup selama sebulan dan diaduk dua hari sekali hingga hilang baunya dan dingin. Saat itulah banyak cacing dan zat renik muncul di dalam pupuk.

Menggemburkan tanah

Pupuk itu ditaburkan di tanah setelah tanah ditraktor. Pupuk itu membuat zat renik berdatangan menggemburkan tanah. Ini berbeda dengan pertanian kimia yang membuat tanah keras bahkan pecah-pecah saat tidak ditanami sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk membalik tanah.

Kelompok tani ini juga membuat perangsang tumbuh daun, berupa campuran cacahan nanas, air nira, dan gula merah. “Itu disiramkan ke padi saat padi sudah beranak kira-kira 17,” ujar Suyanti.

Ternyata satu batang padi bisa beranak hingga 27 batang. Banyak petani terheran-heran. “Tetapi, memang begitu kenyataannya. Yang penting pengawasan, begitu ada hama langsung disiram ramuan,” kata Suyanti.

Pada periode tanam berikutnya, anggota kelompok mulai menanam padi organik di lahan mereka. Benih diambil dari hasil panen lahan percontohan awal. Setiap anggota kelompok mendapat 6 kg benih. Total lahan seluruh anggota kelompok yang ditanami padi organik 40 rante atau sekitar 1,8 ha.

Hasilnya cukup bagus, yaitu 5,5 ton per ha. Sama dengan hasil padi konvensional yang rata-rata produktivitasnya juga 5,5 ton per ha. Lama tanam juga sama, 102 hari.

Suyanti optimistis produktivitas akan lebih bagus jika tanah sudah benar-benar bersih dari unsur kimia. Beras panenan kelompoknya juga laris dibeli karena enak dan pulen.

Meskipun hasil tanaman bagus dan selaras alam, bukan perkara mudah menularkan ide itu ke petani lain. “Kami dianggap bermain-main kotoran saja. Lebih praktis menggunakan pupuk kimia,” kata Suyanti. Tahun ini ia menargetkan luas tanam padi organik menjadi 3-4 ha.

Iksan Effendi, konsumen beras organik di Medan, mengatakan, cukup sulit menemukan beras organik yang berkesinambungan di Medan. Stok kadang ada kadang tidak. Padahal, kesadaran masyarakat mengonsumi produk pangan tanpa zat kimia semakin tinggi. “Kalau orang sudah tahu enak, maka ia tidak mau lagi pindah ke beras lain,” katanya.

Saat ini baru delapan kelompok tani di Serdang Bedagai -salah satu sentra produksi padi di Sumut- yang dikenalkan kepada pertanian organik. Mereka ada di Kecamatan Pegajahan, Serbajadi, Pantai Cermin, Perbaungan, Pematang Setrak dan Teluk Mengkudu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai Safaruddin mengatakan, baru dua desa yang secara rutin memproduksi beras organik, yakni Desa Lubuk Bayas di Kecamatan Perbaungan dan Desa Pematang Sentrak di Teluk Mengkudu. Luasnya baru 9 ha dengan total produksi 72 ton. Bandingkan dengan padi konvensional yang luas panennya 71.000 ha dengan produksi 432.000 ton.

Serapan pupuk organik subsidi hanya 50 persen per tahun, sementara subsidi pupuk kimia selalu kurang. “Ke depan pertanian organik harus digalakkan karena subsidi pupuk terus berkurang karena harganya mahal,” kata Safaruddin.

Presiden Aliansi Organis Indonesia (Indonesia Organic Alliance – AOI) Wahyudi mengatakan, meskipun pertanian organik terbukti menjaga keseimbangan lingkungan, secara nasional pemerintah baru menetapkan 92 desa organik pada 2015-2019, tiga desa di antaranya di Sumut. Dua tahun terakhir pihaknya giat menginisiasi Perda Pertanian Organik di Serdang Bedagai. (AUFRIDA WISMI WARASTRI)

Sumber: Kompas Cetak (http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160221kompas/#/10/).

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107