TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Jalan Panjang Pertanian Kembali ke Alam

19/02/2016 , ,

image

“Saya pernah ikut pelatihan. Mereka bilang, orang sukses itu tuli. Akhirnya saya tidak mau dengar kata istri. Tetangga anggap saya orang kurang kerjaan. Tapi, saya teruskan. Biaya saya tidak ambil dari istri. Akhirnya, panen lalu saya bisa bikin istri saya bangga.”

Itulah curahan hati Mulyono, 38 tahun, soal ketika dia memutuskan mulai bertanam padi organik. Menurutnya, bertani organik memerlukan kesabaran luar biasa.

Jangan bayangkan hasil panen berton-ton bisa dituai pada kali pertama panen. Bertani organik, lanjutnya, adalah soal kembali ke alam. Mengembalikan unsur hara tanah. Tak instan, seperti ketika hama datang, tinggal semprot pestisida.

Mulyono adalah salah satu petani dan peternak di Desa Bingkat, Kabupaten Deli Serdang. Dia merupakan salah satu petani binaan BITRA Indonesia dan Aliansi Organis Indonesia (AOI). Mulyono bersama 25 orang petani lainnya tergabung dalam Kelompok Sepakat.

Pada awalnya, Kelompok Sepakat mencoba bertanam organik 5 rantai. Per rantai 400 meter2. Penanaman perdana dilakukan pada April 2015. Kelompok ini mencoba menanam menggunakan tiga metode dengan perbedaan jarak tanam dan jumlah pohon per rumpun.

“Akhirnya yang paling berhasil itu ya satu rumpun satu pohon. Kami pakai pupuk kandang 1 rantai tanah 200 kg pupuk. Pagi-pagi, saya kumpulkan kotoran kambing dan lembu. Kemudian diolah sendiri,” jelas Mulyono.

Sejak percobaan tanam pertama hingga saat ini, Kelompok Sepakat sudah mengalami panen dua kali. Panen pertama 1,3 ton, dan terakhir 5,5 ton. Hingga kini, kelompok ini sudah memiliki total lahan 40 rantai.

Ketua Kelompok Sepakat Yanti menyebutkan, sebelumnya warga desa tak mengetahui soal bertanam padi organik. Sebagian besar mata pencarian warga adalah sebagai peternak.

Menurut dia, justru di sanalah letak keunggulan mereka yakni bisa menghasilKendati demikian, perlahan sebagian kecil warga mulai menyadari bahwa bertanam organik selain memberikan dampak kesehatan bagi tubuh, juga bagi tanah.

“Kalau pakai kimia terus, tanah menjadi tandus. Kami berpikir supaya subur lagi bagaimana. Selain itu, biaya produksinya sebenarnya justru lebih murah daripada menggunakan pupuk kimia. Selisihnya sampai Rp 500.000 per tanam,” ucap Yanti.

Walaupun, sudah mulai dijalani, Yanti mengakui masih banyak hambatan yang dialami para petani. Salah satunya yakni minimnya fasilitas pengolahan pasca panen. Saat ini Desa Bingkat belum memiliki gudang dan lantai jemur.

Selain itu, selisih harga juga memengaruhi minimnya minat petani. Yanti menjelaskan, saat ini harga jual Rp12.000 per kg. Jika harga tersebut bisa dinaikkan menjadi Rp12.500 hingga Rp13.000 per kg, dia yakin akan semakin banyak warga yang tertarik bertani organik. Saat ini, produksi beras organik dari Desa Bingkat telah dipasarkan ke desa lainnya.

Di Serdang Bedagai, selain Desa Bingkat, Desa Lubuk Bayas telah lebih dulu memulai bertanam padi organik. Ketua Kelompok Subur Sarman menuturkan, saat ini mencari konsumen dan perkara pemasaran bukan lagi menjadi hambatan bagi beras organik.

“Justru, saat ini kontinuitas produksi yang diperlukan. Konsumen selalu mengeluh kekurangan. Bayangkan, kalau pertanian organik ini banyak diterapkan, kita bisa lepas dari ketergantungan beras impor,” kata Sarman.

Dukungan Pemerintah
Direktur BITRA Indonesia sekaligus Presiden AOI Wahyudi mengatakan, untuk membuat pertanian organik Indonesia, khususnya di Sumatra menggeliat, dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah sangat diperlukan.

Salah satunya dengan memberikan insentif dan mengaturnya dalam kebijakan daerah. Pasalnya, masih banyak petani yang tidak tertarik dengan cara ini.

Dia mencontohkan, baik Desa Lubuk Bayas maupun Bingkat memerlukan waktu paling tidak 3 tahun agar produksi beras organiknya mampu menyamai produksi konvensional.

“Ini urusan mindset sebenarnya. Pola pikir selama ini menggunakan teknologi budi daya yang mudah, konvensional pakai pupuk kimia. Tanaman kuning sedikit, diberi pestisida.

Untuk organik, kan produksi saprodinya (sarana produksi padi, pupuk) sendiri dan butuh waktu. Desa Lubuk Bayas itu, saprodinya sudah disiapkan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Serdang Bedagai, tapi petani tidak juga mau menggunakannya,” tukas Wahyudi.

Terkait dengan kebijakan, BITRA Indonesia, sebutnya telah mendorong inisiatif rancangan perda tentang pertanian organik. Kendati demikian, sudah 3 tahun perda ini tak kunjung mendapatkan respon positif dari legislatif setempat.

Wahyudi merinci, dalam insiatif rancangan perda tersebut, pihaknya mengajak pemerintah memberi ruang lebih luas bagi pengembangan praktik pertanian organik.

Mereplikasi sistem yang selama ini sudah berjalan di Lubuk Bayas dan Bingkat. Selain itu, juga terdapat penekanan hukum berupa sanksi bagi yang tidak menerapkan.

“Kami juga mendorong pemkab untuk memperluas pemasaran. Peluang pasarnya terbuka dan belum tersentuh. Pemkab bisa memasarkannya ke luar daerah,” tambahnya.

Sambutan positif pun datang Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Serdang Bedagai Safaruddin. Dia menyebutkan, mulai fokus memperluas lahan padi organik pada tahun ini. Paling tidak, menambah luas 20 hektare.

Safaruddin merinci, produk pertanian organik merupakan salah satu kunci memenangkan persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Adapun, pihaknya akan mengembangkan lahan tersebut di empat kecamatan yakni Pegajahan, Pantai Cermin, Teluk Mengkudu dan Perbaungan.

“Memang cukup sulit, karena berdasarkan pengalaman, kami menyediakan pupuk kimia bersubsidi dan organik bersubsisi, petani lebih memilih yang kimia. Penyerapan yang organik hanya 50%. Perlu usaha terus menerus. Tidak boleh jenuh,” pungkas Safaruddin. Febriany D.A. Putri

Sumber: http://sumatra.bisnis.com/m/read/20160217/52/62801/jalan-panjang-pertanian-kembali-ke-alam

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107