TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Pertanian Organik, Jawaban Masa Depan Petani

12/09/2014 , ,

Semai-BibitArif Rahmat*

Saya menyempatkan diri untuk berkunjung dan belajar dari pelaku usaha beras organik di Karawang, yaitu H. Rochmat Sarman, SE, M.Si. Bapak yang sehari-harinya akrab disapa Pak Rochmat ini sangat terbuka dan tidak sungkan untuk menceritakan perjalanan hidupnya saat terjun ke dunia pertanian.

“Sebenarnya Bapak terjun di bidang pertanian ini adalah sebuah kecelakaan” ujarnya Bapak Rochmat yang tidak mengira akan menggeluti bidang usaha pertanian. Dahulu beliau berprofesi sebagai seorang dosen dan meraih gelar S2 yang tidak ada keterkaitannya dengan disiplin ilmu pertanian ataupun pangan.

Keputusannya untuk menekuni bidang ini terlahir dari rasa keprihatinan yang mendalam terhadap para petani di Karawang. Kondisi irigasi yang sudah jenuh dengan kontaminasi bahan kimia menyebabkan hasil panen menurun dan buruk untuk kesehatan warga. Atas kesadaran inilah, Pak Rochmat memiliki gagasan untuk membuat bio filter dengan menggunakan tanaman eceng gondok. Tanaman ini, beliau gunakan sebagai penyaring alami residu kimia dari air irigasi, bahan pembuatan pupuk organik cair (POC) dan pestisida nabati.

Perjuangan dan pengorbanan yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Bapak Rochmat mengibaratkan pengorbanan dengan puasa, disaat orang lain sudah mendapatkan hasil panen dengan menjual gabah basah, sementara Ia mengeringkan gabahnya terlebih dahulu, menggilingnya menjadi beras dan mengemasnya. dan untuk beberapa musim petani harus berpuasa dengan mendapatkan panen yang lebih sedikit sebagai nilai investasi di musim yang akan datang.

Kunjungan Gubernur dari Negara Namibia

Kunjungan Gubernur dari Negara Namibia

Tak disangka, Beliau justru menjadi teladan petani sukses dengan meraih penghargaan Inovasi perubahan dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Disaat orang lain meragukan padi organik dapat diproduksi di Karawang yang air irigasinya jenuh dengan kimia, beliau mampu menjawab dengan menciptakan teknologi biofilter sebagai penyaring residu kimia.

“Saya bersyukur dilahirkan di rahim Ibu yang memilki lahan sawah orang tua saya mengamanahkan untuk meneruskan mengelola Sawah keluarga, sementara saudara-saudara saya sibuk dengan pekerjaannya”. Akhirnya kecelakaan ini membuatnya harus turun kesawah di daerah karawang.

Bapak Rochmat kini telah mengembangkan Bale Pare Pertanian Organik Karawang, sebuah Lembaga Masyarakat yang menghimpun petani sekitar dalam memproduksi beras organik. Bale Pare kini memiliki 3 (tiga) program, yakni: Kelompok Studi Petani Organik (KSPO), Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S), dan Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (POSYANTEK).

“Saya bertekad untuk tidak lagi menggunakan bahan kimia sintesis dalam usaha tani saya sedikitpun, minimal untuk memberi makan anak istri saya” ujar Bapak Rochmat yang kini sangat intensif mengembangkan pertanian organik melalui Bale Pare. Kini Bapak Rochmat sering turun ke sawah untuk memantau pekerjaan buruh taninya atau hanya sekedar berbincang dengan petani, mendengarkan keluhan-keluhan petani.

Saat ini, satu kilogram beras organik mampu Ia jual dengan harga Rp. 20.000 dan kapasitas produksi yang mencapai 10 ton per bulan. Bapak Rochmat juga telah merancang alat untuk memantau dan mengetahui curah hujan, kelembapan dengan teknologi digital yang terhubung ke internet sehingga dimana pun kita dapat mengetahui dan mengitung perkiraan hujan dan keadaan cuaca lingkungan budidaya.

Atas keberhasilannya dalam meraih Anugrah Inovasi dari Gubernur Jawa Barat, kini Bale Pare banyak dikunjungi oleh petani lokal, penyuluh pertanian, kalangan pejabat dan Bupati hingga tamu dari luar Negara seperti Brunei Darusalam dan Gubernur Namibia yang ingin mengembangkan tanaman padi.

Beliau mengatakan “Saya menjadi dikenal bukan karena pekerjaan saya sebagai dosen tapi karena saya adalah petani, masih banyak peluang sukses lain dari usaha tani, kalau bukan kamu nanti saya yang ambil peluang tersebut”.

*Arif Rahmat, Peserta IBD yang ditempatkan di Desa Pacing, Kec. Jatisari, Kab. Karawang Jawa Barat.

Sumber: www.indonesiabangundesa.org

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107