TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Dan Kotoranpun Bisa Jadi Energi

01/04/2013 , ,

biogas1Seiring bertambahnya penduduk, energi yang dibutuhkan sehari–hari semakin menipis. Energi yang berasal dari fosil dan tidak terbarukan menjadi rebutan berbagai pihak untuk diperdagangkan dengan harga yang semakin hari semakin membumbung tinggi. Keharusan untuk mencari energi alternatif yang dapat dimanfaatkan dan terbaharukan. Meskipun terkadang kita lupa akan energi yang disediakan oleh alam, bahkan dari sisa-sisa limbah konsumsi berupa kotoran sekalipun. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui

Sambil menyelam, minum air. Itulah mungkin pepatah yang paling tepat untuk ungkapan yang sesuai dengan pencarian alternatif energi yang sedang dikembangkan. Sambil mengurangi limbah kotoran hewan ternak atau kotoran manusia sekalipun, maka energi terbbarukan dapar diproduksi untuk kepentingan kebutuhan rumah tangga.

Beberapa pemikiran di atas yang memotivasi Yayasan BITRA Indonesia mengundang kelompok dampingannya yang memiliki ternak dari berbagai kabupaten untuk mengikuti Pelatihan pembuatan biogas dari kotoran ternak, bertempat di Training Center Yayasan Ate Keleng (TC-YAK), desa Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, 26 Maret 2013.

Pelatihan berlangsung dengan hangat, hal ini terlihat antusias peserta ketika mengikuti pelatihan tersebut. Peserta kelompok tani dan CU dampingan BITRA berasal dari Kabupaten Langkat, Kab. Serdang Bedagai, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (Labura) dan Deli Serdang.

Pelatihan berlangsung sangat interaktif, terlihat dari banyaknya pertanyaan dari peserta ketika fasilisator Leder Tarigan menguraikan masalah biogas secara detail (teoritis & praktis). “Hari ini kita beramai-ramai, perlunya mengembangkan biogas sebagai energi alternatif yang terbarukan”, Tegas Leder Tarigan.

Dalam pelatihan peserta dikenalkan pada sumber energi yang cukup mudah didapat disekitar kita yakni dari kotoran hewan ternak, bisa dari kotoran sapi, kambing, ayam dan hampir seluruh hewan ternak yang hidup di darat kotorannya dapat digunakan sebagai bahan baku biogas. “Apalagi sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah petani sehingga masih dapat menggunakan sisa kotoran yang sudah menjadi biogas dan sisa pembuangan/ampas dari biogas itu sendiri menjadi pupuk kompos yang siap pakai di lahan pertanian”. Kata Leder Tarigan.

“Selain itu keuntungan menggunakan biogas juga meningkatkan sumber energi tanpa merusak lingkungan, melestarikan sumber energi, menghemat biaya pengadaan bahan bakar, mengurangi ketergantungan energi komersial yang ada, mengurangi polusi dan menjaga kesehatan lingkungan”. Leder Tarigan menjelaskan panjang lebar.

Setelah memberikan materi pembuatan biogas, fasilisator membawa peserta pelatihan langsung melihat ke lokasi pembuatan biogas yang berada di bagian belakang gedung TC-YAK. Dilokasi peserta pelatihan baru menyadari ternyata makanan yang mereka makan pada sarapan pagi ini dimasak menggunakan bahan bakar biogas. Di lokasi ini pembuatan biogas menggunakan kotoran hewan dari ternak sapi. Dengan dua ekor sapi saja sudah dapat dihasilkan bahan bakar gas untuk pemakaian 8 jam sehari. Tentunya sudah cukup untuk kebutuhan memasak satu rumah tangga. Selain untuk keperluan memasak biogas juga dapat dimanfaatkan untuk lampu penerangan, penghangat ruangan (water heater) dan mesin diesel.

Setelah melihat langsung bagaimana proses pembuatan biogas, pengetahuan peserta semakin mendalam. Untuk membuat reaktornya tidak sulit dan materialnya mudah didapa. Konstruksinya tidak jauh berbeda dengan pembuatan septic tank yang dilakukan sedikit perombakan, yakni adanya penambahan pipa pembuangan untuk sisa kotoran yang sudah menjadi biogas.

“Untuk reaktor yang sudah beroperasi tidak ada perawatan khusus hanya pipa–pipa pemroses saja yang perlu dijaga kebersihannya dan secara berkala dilakukan pemeriksaan kebocoran,” ujar fasilisator. Sementara kompor gas yang digunakan tidak berbeda dengan kompor yang menggunakan bahan bakar gas dari Pertamina.

Biaya untuk pembuatan reaktor biogas seperti yang terdapat di YAK ini cukup besar, yakni sekitar 16 juta rupiah. Maka itu Leder Tarigan berharap peserta yang ikut pelatihan dapat membuat inovasi bagaimana membuat reaktor yang lebih sederhana agar biaya pembuatan lebih murah dan terjangkau karena sudah ada yang mampu membuat reaktor biogas dengan biaya 12 juta-an. Leder Tarigan menyatakan kesediaannya untuk konsultasi jika nanti ada peserta yang ingin membuat biogas di desanya.

“Kami berharap, agar pelatihan ini tidak sampai disini saja, namun diharapkan peserta, baik berasal dari kelompok atau perorangan yang telah mengikuti pelatihan membuat atau membantu masyarakat di desanya untuk membuat reaktor biogas agar pelatihan ini terasa lebih bermanfaat. Karna, dengan penggunaan biogas di desa bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk mandiri dalam mencari dan pemakaian energi. Dengan menggunakan biogas juga peternak mendapat manfaat lain dari kotoran ternaknya dan mendorong peternak untuk mengurus ternak lebih baik dan membuat kandang yang sehat”. Kata Anta Tarigan dari BITRA Indonesia, sebagai pihak yang menyelenggarakan pelatihan biogas ini.

PenulisIrsan Water, peserta pelatihan jurnalistik dasar wilayah Deli Serdang 2013 & anggota kelompok CU Rosela, Desa Stabat Lama, Kec. Wampu, Kab. Langkat.

Foto/Ilustrasi: http://amandagracia.wordpress.com

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107