TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Radio Komunitas Benteng Serangan “Budaya Luar”

28/11/2012 , ,

Ternyata belum banyak warga kelompok radio komunitas (Rakom) yang paham secara jelas istilah manajemen dan pengelolaan Rakom secara menyeluruh, termasuk istilah off-air (kegiatan organisasi radio diluar siaran – on-air), misalnya. Itu sebabnya pelatihan manajemen radio sangat dibutuhkan untuk menambah wawasan kelompok Rakom tersebut. Dengan tujuan, pelatihan semacam ini dapat menambah pengetahuan tentang pengembangan dan manajemen kelompok penyiaran serta pengelolaan radio komunitas bagi masyarakat, khususnya yang sudah memiliki Rakom.

Masalah ini terungkap dalam “Pelatihan Manajemen Radio Komunitas” di Radio Salam FM, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sabtu-Minggu (25-26/11). Kegiatan yang diadakan BITRA Indonesia bekerjasama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia Sumatera Utara (JRKI Sumut) dan Radio Salam FM ini diikuti 24 orang yang terdiri dari penyiar dan Forum Kelompok Pendengar (Foker) Rakom kelompok dampingan BITRA yang ada di Sei Lepan, Stabat, Pangkalan Susu, bahkan satu orang berasal dari Sidikalang.

Staff RD-ICT BITRA Indonesia, Muhamad Ikhsan, selaku panitia kegiatan pelatihan, mengemukakan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu program BITRA Indonesia di bidang informasi dan teknologi. “Meski dalam pelaksanaannya masih terdapat kekuarangan, tapi saya merasa senang melihat antusiasnya para peserta mengikuti pelatihan ini. Ke depannya, semoga pelatihan ini dapat diterapkan warga dalam mengelola Rakom-nya,” ujarnya.

Iswan Kaputra, Manager RD-ICT BITRA Indonesia, juga menekankan pentingnya pelatihan manajemen radio ini adalah untuk meningkatkan kemampuan warga Rakom dalam memanfaatkan serta mengembangkan informasi yang ada di sekitar masyarakat. “Eksistensi kebudayaan local sekarang sudah sangat tergerus oleh kebudayaan baru yang tidak jelas, datang dari luar dan tidak mencerminkan kepribadian setempat, datangnya gilasan kebudayaan baru ini perlu dihempang dengan sifat dan nilai-nilai local, terutama kearifan lokal berdasarkan sumberdaya alam di sekitarnya”.

“Radio komunitas sangat diperlukan sebagai alat komunikasi missal dan menggalang kekukuh-satuan tekad dan pemikiran untuk menjaga nilai-nilai dan kearifan local tersebut dari serangan luar. Radio komunitas juga alat yang efektif untuk mengorganisir dan memobilisir fikiran jadi tindakan dalam bentuk kegiatan on-air dan off-air”. Ungkan Iswan.

Pada sesi pertama pelatihan, Muhamad Hidayat, fasilitator yang berasal dari JRKI Sumut mengatakan, manajemen radio terbagi ke dalam beberapa persoalan. Pertama, penyiaran yang mencakup perihal reportase, program acara dan jadwal acara. Kedua, mengenai keuangan radio komunitas. Ketiga, administrasi. Dalam hal manajemen, tentu ada yang namanya by design, yaitu sistem manajemen yang direncanakan. Dan by accident, suatu peristiwa manajemen yang situasional. “Oleh sebab itu, supaya tidak ngawur, setiap mata acara apa pun di Rakom harus punya format dan tujuan, yaitu untuk mensejahterakan masyarakat. Tentu saja tujuan ini harus dikelola dengan sistem manajemen yang baik,” katanya.

Tohap Simamora, fasilitator yang juga berasal dari JRKI Sumut juga menambahkan, jangan sampai program radio melenceng dari tujuan. Artinya, kita tidak mungkin membuat acara kalau ternyata acara tersebut dinilai tidak mendidik. Karena tujuan radio komunitas adalah untuk mendidik, sesuai tujuan dasar berdirinya radio yang berlandaskan nilai-nilai dan asas dari radio.

Informasi yang ada di radio, tambah Tohap lagi, harus sesuai dengan informasi yang dibutuhkan kelompok sosial Rakom tersebut. Selain itu, masyarakat jangan jadi penerima informasi saja, tapi juga harus jadi produsen informasi. Sebab prinsip radio komunitas adalah “dari, oleh, dan untuk”.

Mengenai karakter penyiar, Tohap menjelaskan, tak cuma bisa bicara dan punya SDM, karakter seorang penyiar adalah hal penting. “Karakter seorang penyiar akan membuat pendengar jadi betah mendengar radio. Misalnya seperti cerita seorang penyiar radio SAR FM, yang sehari-harinya berkerja sebagai tukang pangkas. Penyiar ini punya pendengar sendiri, bahkan suka ditraktir oleh pendengar setianya tersebut. Untuk menguatkan karakter itu, tentu kemauan belajar warga Rakom harus kuat,” katanya.

Perlunya memakai bahasa lokal juga dapat menjadi ciri khas radio komunitas tersebut. Karena penyiar juga berkewajiban menjaga, mempertahankan, serta melestarikan bahasa dan seni budayanya. “Kalau radio punya komunitas sosial yang beragam, persoalan bahasa juga harus diperhatikan dengan mengundang komunitas yang berbeda tadi,” katanya.
Di sesi praktek penulisan naskah radio, Tohap juga menjelaskan bagaimana merubah informasi menjadi aksi. Menurut Tohap, membuat berita bukan hanya kerja wartawan. Warga Rakom-pun harus punya pemahaman dan kemauan untuk memberitakan persoalan yang terjadi di sekelilingnya, namanya “pewarta warga”.

Bagaimanapun, tambah Tohap, informasi dalam radio komunitas adalah sesuatu yang perlu diketahui masyarakat. Terutama tentang kinerja pejabat atau aparat pemerintah, mulai dari tingkat kepling, kadus, lurah, sampai pejabat level atas. Untuk itu, panduan dasar dalam penulisan karya jurnalistik radio (5W+1H) perlu dipahami penyiar atau warga yang ingin menulis berita tersebut.

Darmadi, ketua penyiar Rakom Salam FM, mengaku senang atas pelatihan manajemen yang diadakan BITRA ini. Menurutnya, wawasannya tentang pengelolaan radio jadi bertambah. Darmadi juga berharap pelatihan manajemen seperti ini mampu memotivasi penyiar Rakom Salam lainnya, yang menurutnya masih suka minder.

Mengapresiasi Darmadi, Tohap selaku fasilitator siap berdiskusi dengan para peserta yang berasal dari berbagai kelompok Rakom tersebut, yaitu Salam FM, Harapan FM, Sukma FM, Petrasa, dan Foker Radio Salam. “JRKI Sumut terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi lebih jauh mengenai radio komunitas, baik melalui email maupun telepon, karena kawan-kawan yang ada di jaringan Rakom sudah seperti saudara,” katanya. (juhendri)

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107