Training Center Sayum Sabah (TCSS)

Modul Polikultur

Majalah Bitranet

Buku

Hasil Riset

Kelompok Dampingan

Panen Perdana Ubi Raksasa Petani Sergai

Di posting Oleh : Webmaster Pada : 13/02/2012

Terobosan Petani | Ubi Raksasa

Pagi hari, tanggal 13 Februari 2012 yang dihiasi oleh hujan rintik, tidak mengurangi semangat para petani kampung Banten, desa Silau Rakyat, kec Sei Rampah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, untuk memanen ubi (singkong) raksasa yang mereka tanam 1 tahun yang lalu.

Panen perdana di atas lahan 2 hektar ini rupanya sengaja digelar oleh Yayasan Pertanian Alternatif Nusantara Sumatera Utara (PANSU) dengan mengundang Wakil Bupati Serdang Bedagai, Ir H Soekirman, dan jajaran dinas pertanian Serdang Bedagai, kalangan pebisnis, industry ubi, akademisi, peneliti, petani, masyarakat sipil dan NGO. Tidak kurang dari 150 orang berkumpul di kampung Banten untuk memanen ubi yang beratnya mencapai 35 – 45 Kg hasil perbatang atau perpohon ini.

“Ubi raksasa ini merupakan komoditas lama yang telah ditinggalkan petani yang kini dapat dibangkitkan kembali menjadi komoditas unggulan di Serdang Bedagai sebagai kabupaten penghasil ubi utama di Sumatera Utara”. Ungkap Ir Sabirin, Ketua Yayasan PANSU.

Ubi raksasa yang pernah menjadi komoditi pangan utama di pulau Jawa saat masa susahnya rakyat sebelum kemerdekaan Indonesia ini, merupakan tanaman asli Brazil yang masuk ke Indonesia pada tahun 1852 yang dibudidayakan dan dikembangkan dengan berbagai uji coba oleh bapak Mukibat, petani dari Kediri pada tahun 1950. Beliau menempelkan (menyambungkan) batang ubi karet yang daunnya rimbun di atas batang dengan ubi biasa (grafting), hasilnya umbi dari ubi 5 kali lipat besarnya dari ubi biasa, kemudian hari ubi ini dinamai ubi Mukibat, merujuk pada nama petani pengembangnya. Namun saat ini, ubi raksasa dengan teknik sambung yang batang bawah berasal dari ubi Lampung dan batang atas dari ubi karet ini dinamai dengan nama baru oleh para peserta panen perdana, yakni Ubi Sambung Pansu.

“Di Serdang Bedagai, sangat minim tanah yang tidak dimanfaatkan, sementara penduduknya padat, maka diperlukan sistem bertani dengan intensifikasi, dengan mengelola lahan yang ada (terbatas) namun hasil bisa lebih tinggi. Ubi raksasa ini adalah pola baru untuk sistem intensifikasi pertanian di Sergai. Pemkab sergai juga telah menerbitkan Perda tentang Lahan Terlantar yang harus dimanfaatkan pada tahun 2007. Jadi bagi lahan-lahan yang oleh pemiliknya masih belum dimanfaatkan, dianjurkan agar dimanfaatkan oleh para petani, ubi raksasa ini merupakan peluang yang sangat baik untuk pemanfaatan lahan terlantar tersebut”. Papar Soekirman di sela-sela kesibukannya mencabut ubi raksasa, pada panen perdana ini.

“Bahkan saat ini Dinas Pertanian Sergai sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Indonesia Sumatera Utara (BI Sumut) untuk mengalokasikan skema kredit usaha rakyat (KUR)-nya agar alokasinya dapat dimanfaatkan bagi modal petani ubi raksasa”.  Kata Setiarno, Kadis Pertanian Sergai.

Jika dihitung secara rata-rata, setiap pohon ubi minimal menghasilkan 35 Kg saja, dikalikan 4,500 batang dalam hamparan 1 hektar lahan, ternyata hasilnya minimal 157,5 ton, perhektarnya. Wahyudin yang mewakili kalangan industri ubi yang datang saat panen perdana ini langsung menaikkan harga ubi raksasa ini dengan harga Rp 780/Kg (harga sebelumnya ubi biasa 680/Kg), maka jika dikalikan hasil keseluruhan Rp 122,850,000 perghektar, pertahun. “Ini merupakan hasil yang luar biasa dan jauh lebih tinggi dibanding penghasilan kelapa sawit. Pandangan BPTP, ini produksi tertinggi yang pernah dicapai oleh dunia pertanian kita dalam hamparan 1 hektar lahan”. Kata Janur, perwakilan dari Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP).

“Di Jepang sekitar 40% warganya telah memakan umbi-umbian. Untuk menjawab perubahan pola makan non beras dari Negara-negara di Asia tenggara ini, kami telah mengekspor 4 kontainer ubi jalar ke Jepang setiap bulannya. Di Jawa, ubi ini sedang diriset dan diuji coba untuk BBM sejenis ethanol seperti yang dilakukan Negara Brazil. Paling sedikit ada 9 turunan produk yang dapat dibuat dari ubi ini. Daun, Kulit putih ubi, batang, dan umbinya sendiri, semuanya bermanfaat. Hasil uji laboratorium sementara kami mendapatkan kadar pati ubi raksasa ini ternyata 32%, lebih tinggi dari ubi biasa yang hanya 26 – 28%”. Tambah Janur, untuk menyemangati para petani.

“Dari segi keamanan, menanam ubi raksasa ini jangan takut dicuri orang, karena ubi ini kurang cocok dimakan harian oleh manusia, ubi ini memang untuk bahan olahan indistri. Jadi relative sangat aman”. Tambah Sabirin.
“Kebun ubi raksasa ini bisa jadi dana pensiunan kalangan NGO yang masa tuanya belum jelas karena tidak punya pensiunan”. Kelakar Job R Purba yang mewakili kalangan NGO. (Isw)

Cari Artikel

Translate

Kabar Bitra

Jaringan

RSS Radio Jerman

Supported

Arsip