Training Center Sayum Sabah (TCSS)

Modul Polikultur

Majalah Bitranet

Buku

Hasil Riset

Kelompok Dampingan

Serdang Bedagai Didorong Memotori Pembuatan Perda Pertanian Organik

Di posting Oleh : Webmaster Pada : 12/08/2011

Panen Beras Organik | Perda Organik

Tidak kurang dari 70 orang petani berkumpul di demplot organik yang dibuat oleh kelompok tani Subur bersama BITRA Indonesia, terletak di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (11/08/2011).

Para petani organik ini berniat memanen 1 Ha lahan organiknya bersama tamu yang khusus datang dari Kabupaten, Yakni Wakil Bupati Serdang Bedagai, H Ir Soekirman bersama kepala Dinas Pertanian, Ir Setiarno dan Ketua Komisi C DPRD Sergai, Usman Sitorus.

Kelompok tani Subur dan Serikat Petani serdang Bedagai (SPSB) sebagai tuan rumah penyelenggara panen organik ini menyatakan, “lahan pertanian pangan di desa Lubuk Bayas ini tidak kurang dari 380 Ha. Bulan April lalu ditanam 300 Ha (70% dari lahan pangan yang tersedia di desa), dan 7 Ha diantaranya organik, 3 Ha organik dengan kontrol ketat, dan hari ini panen padi organik 1 Ha”. Demikian diungkapkan Sarman, ketua kelompok tani Subur, Lubuk Bayas.

“Hasil dari panen kali ini tidak kurang dari 5,3 ton gabah organik murni (non pestisida dan non kimia sintetis) dari parietas Ciherang dan Cintanur dengan hamparan 1 Ha lahan. Dengan panen hari ini saya sangat yakin Indonesia bisa mempertahankan pangan nasional yang lebih sehat di bawah katulistiwa ini, kedepannya, jika kemauan, kerja keras dan berjuang dilakukan secara terus-menerus”. Tambah Sarman.

Kegiatan panen organik ini juga dapat dukungan penuh dari Kades Lubuk Bayas, Ruslizar. Senada dengan Sarman, 75% lahan pertanian di Lubuk Bayas adalah pertanian padi (pangan). Lubuk Bayas pernah memperoleh juara 1 nasional untuk desa pertanian dengan kategori hasil panen terbaik dan kelompok tani terbaik pada tahun 2003. Akibatnya desa ini diberi peluang untuk mengembangkan pertaniannya lebih baik lagi kedepan dengan dukungan bantuan dari pemerintah pusat sebesar 1,8 milyar pada tahun 2004. “Bantuan ini kini kami kelola untuk memproduksi pupuk organi dari kotoran dan urin ratusan ternak sapi”, kata pak Khairuddi yang akrab dipanggil Udin dari kelompok ternak Mawar yang juga bergabung di kelompok tani Subur.

Pasar pupuk organik ini, selain untuk memenuhi desa Lubuk Bayas sendiri, Sisa atau surplusnya yang urin dikirim ke Pekan Baru dan yang kotoran sapi dipasarkan di Tanah Karo. “Permintaan sangat besar akan pupuk organik, hingga kami kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pasar petani organik”, tanbah pak Udin.

Dalam materinya Kepala Desa Lubuk Bayas menyammpaikan langsung pada Wakil Bupati Serdang Bedagai dan Kepala Dinas Pertanian, Juga anggota Dewan, bahwa dari pengalamannya menjadi Kepala Desa di Lubuk Bayas, terjadi penggerusan lahan pertanian pangan dari tahun-ke tahun yang berubah menjadi kolam dan galian “c”, untuk itu diperlukan ada semacam pengaturan daerah yang mengantisipasi hal ini. Agar lahan pertanian pangan tetap terjaga dan lestari.

“Manfaat produk beras organik bagi kesehatan memang sangat terasa, karena tubuh akan sehat dan penyakit-penyakit berat akibat dari bahan kimia yang tertinggal (residu) di dalam tubuh tidak akan terjadi dengan mengkonsumsi produk pertanian organik”. Demikian pak Kades menutup materi diskusinya.

Memang, setelah panen organik dilakukan, para perserta berkumpul untuk mendiskusikan kelebihan organik dan kekurangan kimia dalam topik “Implementasi Pertanian Organik di Sergai Melalui Kebijakan Pemerintah Daerah”. Kegiatan yang diselenggarakan 3 pihak ini; (BITRA Indonesia, Kelompok Tani Subur dan Serikat Petani sedang Bedagai (SPSB)), juga disiarkan langsung oleg radio Suara Akar Rumput (SAR FM) ke seluruh penjuru Serdang Bedagai.

Sejak dunia pertanian menggunakan bahan kimia yang berlebihan, atau apa yang disebut sebagai revolusi hijau maka dunia pertanian, lingkungan, dan hasil produksi pertanian mengalami penurunan kualitas untuk kehidupan, meskipun kuantitasnya naik. Petani kini membuktikan bahwa di saluran irigasi mereka tidak lagi dapat hidup ikan lele, belut, ikan paitan dll yang dahulu banyak dan dapat juga dijadikan lauk tambahan sebagai sumber asupan gizi bagi generasi yang sedang menjalani pendidikan dan anak petani. “Dunia telah menuju satu titik penurunan kualitas lingkungan yang amat memprihatinkan dan menuju kehancuran, karena praktek-praktek buruk pertanian kimia yang merusak lingkungan”. Kata Wahyudhi, Direktur BITRA Indonesia.

“Belum terlambat untuk berbuat. Mari menuju pertanian yang tidak meninggalkan residu beracun baik bagi alam kita maupun bagi tubuh kita. Hari ini kita menjadi saksi terhadap perbuatan baik petani yang memberi pangan dunia, seperti petani padi organik dari Lubuk Bayas ini.” Tambah Wahhyudhi, sebelum memulai panen organik. Budidaya baik, pertanian organik, ini telah di lakukan kelompok tani Subur sejak 4 tahun yang lalu.

Dalam diskusi juga terungkap, SPSB dan BITRA Indonesia telah lebih dari 1 tahun lalu menggagas lahirnya peraturan daerah (Perda) tentang pertanian organik di Serdang Bedagai. “Sudah dilakukan riset ilmiahnya, konsultasi publik, dialog-dialog dan berbagai diskusi dengan masyarakat petani, workshop naskah akademik, dan sekarang draf kebijakan pertanian organik ini telah diserahkan kepada Fraksi P3 DPRD Sergai yang mungkin diharapkan memusyawarahkan inisiatif ini pada semua fraksi di DPRD Sergai, besar harapan kami draf kebijakan ini akan menjadi Ranperda yang akan dilahirkan Serdang Bedagai tahun ini. Proses lebih lanjut kami serahkan pada DPRD Sergai. Kita tahu, Serdang bedagai merupakan salah satu kabupaten lumbung pangan di Sumatera Utara, Jika dapat menjadi lumbung pangan organik tentu akan menjadi nilai yang lebih tinggi lagi karena dapat menyajikan makanan yang sehat bagi penduduk Sumatera Utara” Tambah Wahyudhi.

Senada dengan Wahyudhi, anggota DPRD Sergai dari Komisi C, Usman Sitorus menyatakan, “Perda pertanian organik sangat penting bagi masyarakat tani Serdang Bedagai, maka saya yakin bahwa Perda ini nantinya akan disetujui dan disyahkan jadi Perda pertanian organik di kabupaten Serdang Bedagai”.

Dengann Perda organik tentunya akan dapat memicu petani lebih meluas lagi yang mempraktekkan pertanian organik karena ada payung aturan yang melindungi, ada pihak pemerintah yang menngayomi dan ada anggaran yang dapat digunakan jadi inisiatif semakin menyebarnya faham organik.

Beras organik dari Lubuk Bayas ini juga telah dikonsumsi keluarga besar BITRA dan beberapa NGO lain di Medan sejak lebih dari 3 tahun lalu. Ini bagian dari upaya perluasan pasar produk organik yang dibangun BITRA dan Jaringan Pemasaran Pertanian Selaras Alam (JAPPSA) yang kini telah punya outlet organik di jalan Setia Budi, Medan.” Kata Daniel, Manager JAPPSA yang juga hadir pada panen organik tersebut.

Kelompok Subur merupakan 1 dari puluhan kelompok tani anggota dari SPSB di Serdang Bedagai. “Jika kelompok-kelompok yang tergabung dalam SPSB ini semuanya kuat pemahaman organik dan persatuannya seperti kelompok Subur maka SPSB-nya sendiri akan menjadi lebih kuat dan lebih berfaham organik yang tinggi”, Kata M. Yamin, Ketua SPSB.

Ir H Soekirman pada materi diskusinya berulang kali mengucapkan terimakasih pada petani yang percaya bahwa bertani tanpa bahan kimia dapar berhasil dengan baik seperti di Lubuk Bayas ini, bahkan sampai mencapai 5,3 ton per hektar padi jenis Ciherang dan Cintanur. Wakil Bupati Serdang Bedagai inipun memberikan contoh kesadaran organik yang amat tinggi di Jepang sebagai contoh tauladan.

Negara maju memang banyak yang memproduksi bahan kimia untuk pertanian, akan tetapi mereka semdiri kini sangat gemar menuju organik dan tidak menggunakan bahan kimia, sehingga bahan kimia produksi pabrik-pabrik mereka dijual pada negara berkembang yang agraris seperti Indonesia. (isw).

Cari Artikel

Translate

Kabar Bitra

Jaringan

RSS Radio Jerman

Supported

Arsip