Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Training Center Sayum Sabah (TCSS)

Modul Polikultur

Majalah Bitranet

Buku

Hasil Riset

Kelompok Dampingan

Urgensitas Perda Pertanian Organik di Serdang Bedagai untuk Menjaga Lingkungan

Di posting Oleh : Webmaster Pada : 15/06/2011

Pertanian Organik | Peraturan Daerah

Penerapan pertanian organik pada masyarakat Serdang Bedagai (Sergei) harus didukung oleh Peraturan Daerah (Perda) sebagai penunjang terealisasinya lingkungan yang sehat pada masa yang akan datang.

Semakin banyaknya penggunaan pupukdan pestisida kimia oleh para petani, menyebabkan timbulnya berbagai masalah pada alam maupun manusia sendiri dan hal ini tidak dapat dibiarkan terjadi secara terus-menerus karena ancaman penyakit kepada manusia akan semakin besar.
“Saat ini, petani sudah bergantung pada pupuk kimia atau pestisida, hanya sedikit petani yang menggunakan budaya lokal. Tentu hal ini akan menyebabkan hal negatif pada banyak sisi kehidupan, alam dan menusia menjadi tidak sehat. Hal ini tentunya harus didukung oleh Perda,” ungkap Hamdan, pemateri pada workshop “Legal Drafting Perda Pertanian Organik” yang diselenggarakan oleh BITRA Indonesia tanggal 9 – 10 Juni Lalu di Hotel Daksina, Medan.

Tidak hanya itu, kepercayaan petani terhadap penggunaan pupuk kimia masih sangat kuat dan belum dapat terkikis. “Saat ini, penggunaan organik absolute masih belum mungkin, yang ada hanya mengurangi pestisida karena petani cukup susah untuk dapat mengerti bahwa bertani organik lebih baik dari pada bertani konvensional dengan bahan kimia. Penggunaan pestisida oleh petani sudah cukup lama dilakukan, sehingga untuk mengembalikannya sangat sulit. Pertanian konvensional sudah menjadi idiologi sebagian besar petani. Justru inilah yang menjadikan penting regulasi atau peraturan dibuat untuk memaksa petani ke arah yang lebih baik secara bersama, yakni produsen (petani pelaku), konsumen (orang yang makan hasil pertanian) dan alam lingkungannnya”. Tambah Hamdan.

Banyak orang yang bermain di kalangan petani, yakni penyuluh pemerintah, NGO, suasta. Terkecuali NGO, semuanya menjadi perpanjangan tangan untuk mempromosikan produk-produk sarana produksi pertanian (saprotan) yang menggunakan bahan kimia dan alat mesin pertanian (alsintan). Alhasil petani dikepung dengan pemahaman yang salah tentang faham pertaniannya karena orang-orang yang menjadi panutan mengemas promosi bahan kimia pertanian dengan sangat lembut, manis dan merayu dengan cara yang amat humanis. Masukkan pemahaman konsumtif yang disuntikkan pemodal, jadi kebiasaan dan budaya petani dalam menjalankan pertaniannya.

“Paham mengelola pertanian dengan pola organik saat ini hanya sebatas faham alternatif, bukan menjadi main frame petani secara mayoritas. Karena petani sudah menjadi korban faham pemodal maka kini kebanyakan petani hanya percaya pada apa yang cepat dan instan saja. Untuk itu jika ada Perda maka akan lebih mudah menerapkan bertani dengan pola organik tersebut. Organik harus diimbangi dengan teknis budidaya dengan konsep System of Rice Intencification (SRI),” tambah Hamdan.

Dengan perangkat aturan danri hasil riset akan memudahkan terealisasinya pola pertanian organik. “Jika Perda dibubuhi dengan hasil riset dan beberapa data, seperti data cost prosuksi berbanding hasil panen dari pola unorganik dan pola organik, data efek kesehatan organik dan non-organik, data lingkungan yang rusak karena pestisida, maka seluruh naskah-naskah akademik ini dapat dijadikan kekuatan dalam mendesakkan terealisasinya Perda, ungkap Mariam dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Jakarta yang menjadi fasilitator dalam workshop ini.

Organik juga tidak hanya sekedar bertani tidak memakai racun, tetapi budidaya lokal dan ketersediaan bahan di alam sekitar juga harus turut dikembangkan dalam pengelolaannya. “Kearifan lokal yang memiliki potensi untuk organik, seperti budaya gotong-royong dalam mengelola pertanian, melakukan pola tanam renteng dan seragam, pola pemupukan organik, menanam jagung secara tugal, menggunakan abu bakaran jerami dan kotoran ternak, serta melakukan sistem menanam serentak sangat membantu mempercepat pemulihan kesehatan lahan pertanian lingkungan,” tutur Prof Nurhayati, pemateri lain dalam workshop yang melakukan penelitian organik di Serdang Bedagai dari Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).

Nurhayati menjelaskan pegendalian hama juga dapat dilakukan dengan kearifan lokal, seperti pengasapan, penggunaan orang-orangan sawah, menggunakan lumbung padi, menggunakan bibit lokal karena bibit lokal dapat digunakan secara terus menerus, tidak seperti benih hasil rekayasa genetika yang hanya digunakan sekali dan menciptakan ketergantungan petani dengan modal pertanian yang menjadi tinggi. “Lumbung padi dapat mempererat tali silaturahmi antara sesama petani,” tambah Nurhayati.

Nantinya setelah adanya Perda, harus dilakukan evaluasi dan kontrol berkala berjalan atau tidak fungsi Perda sangatlah penting. “Seharusnya ada organisasi atau lembaga khusus yang mengawali implementasi Perda nantinya. Misalnya Serikat Petani Serdang Bedagai (SPSB) dapat diberdayakan untuk mengawali Perda atau diposisikan pada membantu penyuluh swadaya agar perlakuan pola organik on the track”.  Demikian harapan Erika Rosmawati Situmorang, staff program advokasi BITRA Indonesia. (Elfa/Isw).

Cari Artikel

Translate

Kabar Bitra

Jaringan

RSS Radio Jerman

Supported

Arsip