TC Kebun Polikultur (TCSS)

TC PPPT Mangga Dua

Info Desa

Our Supporting Partners

Past Supporting Partners & Experience

Majalah/Newsletter

Hasil Riset

Modul Polikultur

Buku

Pemanfaatan Kompos Sampah Pasar untuk Budidaya Sawi Organik

28/01/2010

 

 

Sawi merupakan salah satu sayuran yang banyak mengandung vitamin A, sehingga berdaya guna mengatasi masalah kekurangan vitamin A atau penyakit rabun ayam, yang sampai saat ini menjadi masalah bagi Balita. Sawi merupakan komoditas yang memiliki nilai komersial dan prospek yang baik. Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, ekonomis serta sosial juga sangat memungkinkan untuk diusahakan di Indonesia (Haryano dan Rahayu, 2000). Sebagai salah satu tanaman hotikultura, sawi merupakan tanaman yang prospektif untuk dikembangkan sebagai sayur organik karena penggunaannya sangat luas oleh berbagai kalangan.

Untuk mendukung produk sawi organik, dapat digunakan sampah kota yang telah dikomposkan. Namun pupuk organik yang berasal dari sampah kota bisa mengandung logam berat. Jika produk tersebut digunakan pada tanah berdrainase buruk akan menimbulkan akumulasi logam berat yang dapat berbahaya bagi ternak dan manusia, baik langsung maupun melalui tanaman yang menyerap logam berat tersebut (Soekirman, 2005). Sampah pasar sebagai bagian dari sampah kota diharapkan memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi daripada penggunaan kompos sampah kota yang selama ini digunakan. Namun untuk dapat bermanfaat bagi perbaikan tanah dan produksi tanaman, maka sampah pasar harus mengalami proses pengomposan.  Lamanya waktu pengomposan berpengaruh terhadap kualitas kompos yang dihasilkan.

Sehubungan dengan upaya mendapatkan bahan baku kompos yang baik untuk produksi sayur organic, perlu dilakukan penelitian mengenai lama waktu pengomposan sampah pasar dan dibandingkan dengan penggunaan bahan organik lain yang bersumber dari hewan yang banyak digunakan dewasa ini.

Sampah menjadi masalah karena menimbulkan bau dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Namun bila dikelola dengan baik, dapat menjadi bahan yang bermanfaat. Selama ini, sampah yang telah dibakar di TPA dikumpulkan dan dikemas kembali dan dijual sebagai kompos. Kompos tersebut telah bercampur dengan bahan lain yang non-organik yang kemungkinan mengandung logam – logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk memperolah kompos yang berkualitas, lebih baik digunakan sampah berasal dari pasar, karena 90 persen sampah pasar berasal dari bahan organik. Pengomposan sampah pasar dapat dilakukan dengan aerobik dan memakai inokulan untuk mempercepat pengomposan.

Pada Tabel 1, pH sayur yang mengalami pengomposan selama 15 hari menjadi 6,02 persen, pengomposan 30 hari menjadi 5,36 persen, dan pengomposan 45 hari menjadi 6,21 persen.

Kandungan N pada sayur yang masih segar 1,29 persen, setelah mengalami pengomposan selama 15 hari menjadi 1,05 persen, pengomposan 30 hari menjadi 1,11 persen dan pengomposan 45 hari menjadi 1,17 persen.

Kandungan C-Organik pada sayur yang masih segar 5,10 persen, setelah mengalami pengomposan selama 15 hari menjadi 14,42 persen, pengomposan 30 hari menjadi 13,65 persen, dan pengomposan 45 menjadi 11,46 persen.

Kandungan K pada sayur yang masih segar 0,00058 persen, setelah mengalami pengomposan selama 15 hari menjadi 1,45 persen, pengomposan 30 hari menjadi 1,22 persen dan pengomposan 45 hari menjadi 1,05 persen.

Tabel 2. Pengaruh Bahan Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Sawi

Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa tanaman tertinggi, jumlah daun terbanyak dan produksi per tanaman terberat diperoleh pada perlakuan pupuk kandang ayam; daun terluas dan produksi per plot terberat diperoleh pada perlakuan kompos sampah pasar dengan pengomposan selama 30 hari.

Pada penelitian ini diuji penggunaan kompos sampah pasar dari pengomposan selama 15, 30 dan 45 hari. Kemampuan kompos sampah pasar meningkatkan pertumbuhan karena kompos adalah bahan organik yang dapat memperbaiki sifat tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Novizan (2000) yang menyatakan bahwa pemberian bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, yaitu kegemburan tanah sehingga membantu akar dalam menyerap unsur hara tanah serta memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air. Disamping itu dapat memperbaiki sifat biologi tanah. Hasil analisis menunjukkan, sampah pasar yang dikomposkan selama 45 hari memiliki kandungan N 1,17 persen, C-Organik 11,46 persen, P 0,22 persen dan K 1,05 persen, sehingga nitrogen dari kompos sampah digunakan dalam pertumbuhan dan produksi sawi, karena menurut Setyati (1983), unsur N merupakan unsur penting dalam mendukung pertumbuhan vegetatif. Pembentukan sel baru membutuhkan asam amino dan protein karena dinding sel terdiri dari protein, dimana N merupakan unsur penyusun senyawa asam amino dan protein.

Pemberian kompos dapat memperbaiki struktur tanah. Pada tanah pasiran, pemberian kompos dapat meningkatkan daya ikat partikel tanah. Sedangkan pada tanah yang berat dapat mengurangi ikatan partikel tanah sehingga strukturnya menjadi remah. Kompos dapat meningkatkan kapasitas menahan air, aktivitas mikroorganisme di dalam tanah dan ketersediaan unsur hara tanah. Tetapi penggunaan kompos yang mutunya rendah–misalnya belum cukup matang–dapat mengakibatkan kerusakan tanaman C/N yang terlalu tinggi atau karena amonia yang dihasilkannya. Jika C/N kompos yang diberikan ke dalam tanah terlalu tinggi mengakibatkan tanaman kekurangan nitrogen (Sutejo, 1991).

Kompos yang berasal dari sampah pasar dengan perlakuan pengomposan 45 hari menghasilkan kandungan N tertinggi (1,17 persen). Sedangkan yang berasal dari 30 hari (1,11 persen) dan kompos yang berasal dari 15 hari pengomposan (1,05 persen), meskipun terjadi penurunan P, bahan organik dan kalium. Terjadinya pelepasan unsur hara karena aktivitas mikroorganisme. Menurut Alexander (1977), salah satu produk dekomposisi bahan organik yang terpenting untuk pertanian adalah kompos yang memiliki sifat-sifat fisik dan kimia seperti humus. Pengomposan mencakup dua proses yang berjalan secara simultan, yaitu perombakan bahan organik menjadi senyawa-senyawa organik sederhana dan mineral yang kemudian dimanfaatkan mikroorganisme dekomposer dan organisme lainnya untuk pertumbuhan dan perkembangan sel dan jaringan tubuhnya.

Sifat-sifat kompos sangat bervariasi, bergantung pada bahan asal kompos tersebut. Dengan demikian, kriteria atau parameter uji kematangan kompos juga bervariasi, bergantung pada kondisi dan proses dekomposisi selama pengomposan. Kompos yang baik adalah kompos yang mempunyai C/N rendah, kadar hara esensial tinggi dan tidak mengandung racun maupun logam berat. Berdasarkan unsur-unsur yang dikandungnya, mutu kompos dibedakan menjadi rendah, sedang dan tinggi. Jika kadar N, P, K, Ca dan Mg cukup tinggi, maka kompos cukup baik sebagai sumber hara, tetapi kadar unsur mikro (Fe, Mn, Cu dan Za) tidak boleh terlalu tinggi (Deddy, 2005).

Nisbah C/N dari bahan organik merupakan faktor yang sangat penting dalam pengomposan. Transformasi organik menjadi pupuk didominasi oleh proses mikrobiologi dan dipengaruhi nisbah C/N bahan yang ada dalam residu kompos. Selama proses pengomposan mikroorganisme, diperlukan sumber karbon untuk menyediakan energi dan bahan untuk membentuk sel-sel baru serta memerlukan nitrogen (N) untuk mensintesis protein. Agar optimal, keperluan karbon dan nitrogen untuk pengomposan adalah 30-40.

Pupuk kandang ayam memberikan pertumbuhan terbaik karena kandungan N- nya lebih tinggi yaitu 1,35 proses dibandingkan dengan pupuk kandang sapi (1,32 proses), kompos yang berasal dari 15 hari pengomposan (1,05 proses), kompos yang berasal dari 30 hari pengomposan (1,11 proses) dan kompos yang berasal dari 45 hari pengomposan (1,17 proses).

Kandungan C-Organik pada kompos turun karena bahan organik mengalami dekomposisi yang dibantu mikroorganisme yang diberikan yaitu EM-4. Pada proses dekomposisi secara aerobik, mikroorganisme yang menggunakan oksigen untuk menguraikan bahan organik dan mengasimilasi karbon, nitrogen, fosfor, sulfur dan unsur lainnya, untuk mensintesa protoplasma sel mereka. Karbon berguna sebagai sumber energi dan pembangun protoplasma selnya, jumlah karbon yang diasimilasi lebih besar dibandingkan nitrogen. Umumnya sekitar 2/3 dari karbon dibebaskan sebagai CO2 dan 1/3 bagian bersenyawa dengan nitrogen dalam sel hidup mikroorganisme (Sutedjo, 1991).

Kesimpulan

Penggunaan kompos sampah pasar dan pupuk kandang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sawi. Pupuk kandang ayam menghasilkan  pertumbuhan dan produksi tertinggi, karena kandungan unsur N-nya lebih tinggi dari pupuk kandang sapi dan kompos sampah pasar. Lama pengomposan berpengaruh terhadap kualitas kompos, karena terjadi peningkatan kandungan N dalam kompos.

Penggunaan kompos sampah pasar mempunyai potensi dalam pembudidayaan sayur organik, karena sampah organik tersedia dalam jumlah besar di pasar. Sedangkan pupuk kandang ayam jumlahnya terbatas untuk digunakan dalam budidaya organik.

Saran

1. Disarankan untuk menggunakan kompos sampah pasar untuk mendukung produksi sawi organik.

2. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan atas jenis mikoroorganisme yang mempercepat pengomposan.

3.  Dalam penelitian pengomposan, pengukuran suhu sebaiknya dilakukan setiap hari.

Nurhayati

Penulis adalah dosen Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, UISU, Medan

Nurhayatijb@yahoo.co.id

 

 

Search

Arsip

Desa Penerap SID di Sumut

Data Kelompok

Kab/Kota Lk Pr Jlh Jlh Kel
Langkat 173 142 315 12
Binjai 26 31 57 3
Deli Serdang 783 766 1549 31
Serdang Bedagai 815 620 1435 49
Tebing Tinggi 36 126 162 5
Batu Bara 26 170 196 5
Lab Batu Uatara 490 306 796 2
Jumlah 2349 2161 4510 107